Love Therapy

Beberapa waktu yang lalu grup chat Writer Rangers mengadakan event lomba menulis artikel dengan tema KAMU. Bebas sih nerjemahin arti KAMU nya… Terserah pesertanya akan menerjemahkan KAMU dalam wujud apa. Artikel saya alhamdulillah berhasil mengamankan salah satu hadiah yang disediakan oleh mbak Wresni Wira, berupa buku berjudul LOVE THERAPY, yang ditulis oleh Teh Irma Rahayu (@IrmaSoulhealer).

Sebenarnya sudah cukup lama saya mengikuti timeline Teh Irma baik di facebook maupun di twitternya. Bahasa penulisan beliau yang ceplas ceplos apa adanya dan cara beliau berinteraksi dan menanggapi pertanyaan dari orang lain sangat menarik untuk disimak. Sentilan lugas beliau yang diberi istilah “BAKIAK” terlontar kesana kemari seringkali menimbulkan  efek introspeksi diri lagi.

Buku ini pun tidak beda jauh gaya penulisannya. Kayak gini nih cover bukunya :

love therapyJudul           : Love Therapy
Penulis        : Irma Rahayu
Penerbit      : PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
Tahun terbit : 2016
Halaman      : 180 + iv

Buku ini tidak ada daftar isinya, jadi kita bisa mulai membaca dari bagian mana saja, karena tiap bab isinya berbeda-beda. Hampir semuanya adalah bedah kasus yang seringkali dihadapi oleh orang-orang yang berkonsultasi denganTeh Irma tentang kehidupan cintanya. Dan isinya 100% adalah tentang uniknya C.I.N.T.A. Bukan hanya membahas tentang dilema lajang, tapi juga beberapa dilema yang dihadapi orang-orang yang sudah berkeluarga.

Jatuh cinta itu bikin gila… Itu yang tertera di halaman pertama buku ini. Yah, orang yang sedang jatuh cinta kadang emang tingkahnya kayak orang gila. Baru lihat ujung genteng rumah pujaannya aja sudah deg-degan nggak karuan. Apalagi kalau ketemu langsung dengan si dia. Istilahnya logika manusia bisa jadi terjun bebas saat jatuh cinta. Lalu bagaimana membedakan rasa cinta yang real atau ilusif? Gimana kalau cinta ditolak? Bagaimana cara menolak yang elegan? Siapa duluan yang harus menyatakan cinta? Mengapa menikah bisa menjadi pembuka pintu rezeki? Dibahas disini semua tuh…

Tapi bagaimana jika cinta hadir pada orang yang tidak tepat? Misalnya jatuh cinta pada lakor (laki orang a.k.a pria yang sudah beristri). Apalagi bila merupakan hasil dari interaksi di dunia maya via jejaring sosial dengan berbalut pencitraan dan janji-janji indah yang ternyata kenyataanya tak seindah bayangan. Jaga diri ladies, ada beberapa kasus yang dishare di buku ini yang bisa menjadi pembelajaran…  Trus bagaimana kalau seorang wanita jatuh cinta pada pria yang jauh lebih muda atau sering dijuluki sebagai brondong? Apa saja sih yang perlu dipertimbangkan sebelum melangkah terlalu jauh? Lalu bagaimana kalau menghadapi dilema memilih cinta atau karir? hehe… jadi penasaran kan…

Lalu, bagaimana jika seseorang sudah berkeluarga dan menghadapi pilihan apakah akan terus mempertahankan pernikahan yang hanya berisi pertengkaran atau memilih bertahan demi anak atau karena harga diri alias gengsi? Yah setiap pilihan pasti ada konsekuensinya kan… Pernikahan adalah awal dari rangkaian perjalanan hidup. Butuh 2 orang yang sama visinya untuk berusaha membangun sebuah rumah tangga yang kuat, perlu dicermati bagaimana membangun komunikasi dua arah dalam sebuah rumah tangga. Termasuk dalam mengatur manajemen keuangan dalam rumah tangga. Komunikasi yang tepatlah yang akan menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan rumah tangga yang solid.

Jatuh cinta bukan hanya berbicara tentang yang indah-indah. Karena resiko dari jatuh cinta adalah sakit saat patah hati. Jatuh cinta bisa membuat orang menjadi seperti orang gila, lalu apa jadinya bila mengalami patah hati sebelum menikah atau patah hati akibat sebuah perceraian? Ada yang belum pernah mengalami patah hati? 😀 Efeknya bisa ringan, bisa juga berat. Bagaimana cara menghadapinya bila muncul trauma yang bisa mengganggu kegiatan kehidupan sehari-hari? Cara tercepat menyembuhkan luka dan trauma adalah dengan cara menghadapinya. Bukan malah lari menghindari kenyataannya.

Wahai para lajang yang belum menikah, pertanyaan kapan nikah pastilah menjadi pertanyaan yang cukup menguji kesabaran 😀 Ada banyak sebab mengapa seseorang belum menikah. Ada beberapa kisah yang inspiratif tentang bagaimana proses menemukan soulmatenya yang berlanjut menuju jenjang pernikahan. Menarik untuk disimak dan membuka pikiran kita. Bagaimanapun juga ada banyak keutamaan yang menjadi sebab mengapa kita harus menikah.

Bagian terakhir buku ini yang paling menarik 😀 Judulnya adalah Kitab Perjodohan : panduan agar tak salah pilih. Hehe.. menggoda sekali judulnya. Bagi anda yang sudah menikah, coba perhatikan pasangan anda, pasti ada kemiripan dengan orang-orang dalam keluarga anda. Bisa jadi dari segi sifat, postur, wajah atau yang lain.

Bagi seorang istri, mungkin suaminya ada kemiripan sifat / fisik dengan ayah atau mirip salah satu saudara laki-lakinya. Dan miripnya kadang bukan hanya di sifat yang menyenangkan, kadang justru mirip dengan sifat yang paling dibenci dari orang-orang dekat. Jadi jangan pernah membenci orang teramat sangat, karena bisa jadi kita justru akan menarik orang-orang dengan sifat yang hampir sama ke dalam kehidupan kita. Ada baiknya segera selesaikan masalah-masalah yang belum tuntas dengan keluarga dekat sebelum menemukan jodoh terbaik untuk diri kita.

Okeh begitulah review saya tentang buku Love Therapy, by Irma Rahayu. Penasaran dengan isi lengkapnya? Baca donk ya… 😀

Regards,

Eva Zahra

Force Versus Power

“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu nanti jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Dido’akan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”

~ KH. Maimoen Zubair ~

Di sebuah acara training yang saya ikuti, ada sebuah materi yang membahas tentang fenomena FORCE dan  POWER. Sebagian inti pembahasan materinya ada di sini. Sumber pembahasan materi ini diambil dari bukunya David. R. Hawkins, M.D., Ph.D., Power vs Force ; An Anatomy of Conciousness, The Hidden Determination of Human Behaviour.

Menurut penelitiannya Pak David R. Hawkins, pikiran dan emosi manusia itu mempunyai berbagai tingkatan energi. Sebagian dimasukkan ke dalam kelompok getaran FORCE, sebagian lagi dimasukkan ke dalam kelompok getaran POWER.

FORCE adalah getaran pikiran dan emosi yang energinya rendah (lemah), yang termasuk di dalam kelompok FORCE adalah : rasa malu, rasa bersalah, apatis, kesedihan yang mendalam, takut, keinginan, marah, bangga.

POWER adalah getaran pikiran dan emosi yang energinya tinggi (kuat), yang termasuk di dalamnya adalah : berani, pasrah (netral), kemauan, penerimaan/syukur, berpikir, cinta, suka cita, kedamaian dan pencerahan.

Tentu saja ini semua berlaku saat intensitas getaran perasaannya sangat berlebihan dan terjadi dalam jangka waktu yang lama (dirasakan dan dialami dalam secara intens).

Coba perhatikan kedua tabel dibawah ini:

energi-powerenergi-forceSaat kita sedang mengejar target dan kita menggunakan getaran pikiran FORCE, maka konsekuensinya adalah aktifitas kerja fisik kita harus sangat keras. Sehingga bila kita sudah bekerja sangat keras tapi semuanya seperti serba sulit, buru-buru cek, jangan-jangan kita sedang menggunakan FORCE.

Sedangkan jika kita menggunakan getaran pikiran POWER, kerja fisik kita jadi lebih ringan. Kita tetap melakukan usaha dengan aktifitas fisik, namun target yang kita kejar juga akan berlari mendekat ke arah kita. Sehingga tak jarang kita temui kejadian dimana kita justru yang dikejar hasil.

Gimana? Pusing ya nyimak pembahasannya? Kok kayak nggak nyambung sama quote di awal artikel ini hihihi… Baiklah mending saya cerita tentang apa yang saya alami saja ya…

Kegiatan usaha saya adalah di bidang jasa bimbingan dan konsultasi belajar. Nah…. tabel yang ada di atas tadi, sangat membantu saya dalam mengatur dan menyelaraskan diri dalam mengelola usaha saya.

Contohnya : saat saya mengajar dalam kondisi perasaan apatis, sedih, marah atau merasa takut, maka suasana kelas dan murid saya cenderung akan sulit dikontrol.. proses belajar bisa jadi berantakan dan muncul komplain. Jadi getaran perasaan itu tertangkap oleh orang lain dengan jelas. Bahkan bisa menular bila terlalu kuat.

Yang menarik adalah saat saya mengajar dengan keinginan yang kuat untuk membuat mereka pintar, justru tingkat stres saya akan meningkat. Begitupun murid-murid saya, mungkin karena saya jadi terlampau memaksakan hasil agar mereka segera mencapai target prestasi yang diinginkan.

Kadang saya jadi mulai hilang kesabaran, lupa kalau mrngajar itu adalah sebuah kenikmatan. Mulai berkurang rasa ikhlas, berganti aksi merutuk dalam hati “Kok nggak paham-paham sih, kan kemarin sudah saya jelaskan”. Lalu mungkin si murid pun berkata dalam hati “Saya sudah berusaha, mbok ya bu guru sabar kalau ternyata saya belum bisa”. Bila dilanjutkan mungkin akan terjadi perang ilmu kebatinan dan bahasa perasaan hihihi… Begitupun saat saya mengajar dengan perasaan bangga yang berlebihan, over PD, bisa jadi murid-murid saya malah menjadi tidak nyaman dengan cara mengajar model begini.

Namun, ketika saat mengajar saya melakukan afirmasi bila hari ini saya akan bertemu murid-murid yang menyenangkan, fokus pada menikmati kegiatan mengajar dan menjalaninya dengan penuh suka cita maka hari itu menjadi lebih indah. Saat saya melihat murid-murid saya masing-masing sebagai sosok yang istimewa, maka rasa hormat akan hadir di dalam kegiatan belajar yang ada. Apalagi bila disertai rasa ikhlas berbagi ilmu, dan memasrahkan hasilnya pada kuasa Allah, ternyata berbeda jauh hasilnya.

Suasana kelas menjadi seru, penuh dengan diskusi interaktif dan sesekali muncul canda tawa. Murid-murid saya sepanjang waktu les bersikap menyenangkan dan mudah memahami pelajaran yang saya sampaikan. Kadang saya malah jadi nggak ada kerjaan karena mereka asik mengeksplorasi soal latihan dan berusaha mengerjakannya sendiri mihihihi…. Dan waktu berlalu tak terasa, kemudian kerusuhan hadir saat saya harus membujuk mereka untuk menyudahi kegiatan belajar, agar giliran kelas berikutnya bisa segera memulai les nya 😀 Meskipun begitu, kadang mereka ini juga belum mau pulang, hanya pindah keluar kelas lalu mencari posisi enak buat gegoleran atau duduk-duduk meneruskan kegiatan belajarnya.

Itu baru satu contoh saat getaran FORCE dan POWER yang diterapkan saat mengajar. Padahal pengaturan getaran pikiran dan emosi ini bisa digunakan di hampir semua kegiatan dan aktifitas kita. Mungkin ada baiknya tabel itu diprint lalu dipajang di ruang kerja, ruang keluarga atau di cermin agar kita ingat untuk mengakses energi POWER.

Emang bisa mengaksesnya?

Bisa dong…. Yaitu saat kita sudah berhasil mengendalikan pikiran kita, fokus di saat ini, tidak mengkuatirkan masa depan, tidak menyesali masa lalu dan berdamai dengan diri sendiri serta berdamai dengan kondisi saat ini 🙂

Kayaknya mudah ya… Iya relatif mah, tapi bisa dilatih dan dibiasakan.

Jadi kapan mau mulai latihan?

Mulai saat ini yaa… kapan lagi? 😀

Udah ah.. nggak selesai-selesai nulisnya hihihi…. Yuk latihan…

Regards

Eva Zahra

Mengubah Kamu Menjadi Dirimu

kungfu-panda-quotes-evazahra.comJika kamu hanya mengerjakan apa yang bisa kamu kerjakan,
kamu tidak akan pernah menjadi lebih baik daripada dirimu.
~ Master Shifu ~

Quotes diatas adalah salah satu nasihat yang diberikan oleh Master Shifu pada tokoh Po dalam film Kungfu Panda 3. Film ini adalah salah satu serial film favorit saya yang penuh dengan pelajaran tentang hakekat kehidupan.

Po adalah seekor panda yang menjalani takdirnya menjadi Dragon Warrior yang menjaga keamanan penduduk dan ketentraman kehidupan di sebuah lembah bersama keempat sahabatnya. Mereka didampingi oleh gurunya Master Shifu yang menggantikan Master Oogway.

Po adalah refleksi diri seorang manusia yang tidak sempurna, kadang sok tahu, kadang malas, kadang narsis. Tapi di waktu yang tepat, dibimbing oleh guru dan di lingkungan yang tepat, dia menemukan siapa dirinya sebenarnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri. Master Shifu sebagai gurunya pun tak pernah berusaha mengubah Po untuk menjadi seperti dirinya. Dia hanya mengarahkan Po agar bisa mengenali dirinya sendiri. Seperti nasihatnya:

“I’m not trying to turn you into me, I’m trying to turn you into you”

Quotes itu sederhana tapi dalam maknanya. Seringkali kita lupa bila semua manusia adalah spesial, tak perlu menjadi orang lain, cukup menjadi dirinya sendiri dalam versi yang terbaik. Termasuk diri kita ini…

Seberapa sering kita mengabaikan panggilan jiwa? Berapa kali kita berusaha menduplikasi orang lain habis-habisan? Sehingga kita lupa menggali, menemukan dan memaksimalkan kemampuan dan potensi diri untuk menjadi diri kita yang terbaik dan lebih baik dari waktu ke waktu. Yang kita butuhkan adalah berkomunikasi dengan diri sendiri, mencari tahu apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidup kita. Komunikasi ini hanya bisa terjalin saat kita mengenal dengan baik diri kita. Kita perlu meluangkan waktu untuk silent, menyepi dari keriuhan notifikasi gadget dan menyempatkan diri untuk ngobrol dengan diri sendiri, dan berdialog dengan Allah.

Kung-Fu-Panda-Quote-2Begitupun sebaliknya, seberapa sering kita ingin mengubah orang lain menjadi seperti yang kita inginkan? Pada keluarga kita, orang-orang spesial dalam hidup kita, sahabat dan teman kita, dan semua yang jalan kehidupannya berpapasan dengan jalan hidup kita? Disaat kita menginginkan orang lain untuk menerima diri kita seutuhnya lengkap dengan keistimewaan dan kelemahan kita, kita justru lupa untuk menerapkannya pada orang lain.

Menjadi sebuah reminder untuk saya pribadi, agar berusaha melihat hal-hal terbaik dari orang-orang yang saya temui. Berusaha menunjukkan sisi terbaik dan keunggulan orang lain, terlebih lagi pada mereka yang mengisi ruang-ruang hati ini. Berusaha mengerti dan memahami bila tak ada manusia yang sempurna, sebagaimana diri saya yang tak sempurna dan menerima mereka dalam paket yang lengkap.

Yuk ah nonton lagi, selalu ada hal baru yang bisa dipelajari.

Regards,

Eva Zahra

Momentum

“Wah peristiwa ini muncul pas banget dengan momentumnya.”

“Momentumnya tidak tepat, jadi pengaruhnya tak terlalu besar lagi”

Sebenarnya apa sih MOMENTUM itu?

Dalam kehidupan, momentum sering diartikan sebagai sebuah saat yang tepat untuk melakukan sesuatu. Semacam kesempatan yang hadir tiba-tiba dan bisa jadi akan hilang saat kita terlambat memanfaatkannya.

Dalam teori fisika, momentum adalah hasil kali massa sebuah benda dengan kecepatan benda tersebut yang menghasilkan sebuah vektor. Ibarat 2 buah benda yang saling beradu, akan muncul berbagai kemungkinan. Bisa jadi kedua benda setelah beradu masing-masing akan terpental ke arah yang berbeda. Bisa jadi kedua benda justru akan saling menempel dan bergerak ke arah yang sama. Bisa juga salah satu benda akan berhenti, diam, sedangkan benda lainnya terpental ke arah yang lain.

Okeh mari kita tanya saja pada mbah google dan kamus besar bahasa indonesia tentang arti momentum dan mereka menjawab:

momentum/mo•men•tum/ /moméntum/ n 1) saat yang tepat; 2) Fis: besaran yang berkaitan dengan benda yang besarnya sama dengan hasil kali (darab) massa benda yang bergerak itu dan kecepatan geraknya; kuan-titas gerak; 3) kesempatan.

Dalam keseharian kita ketiga arti momentum itu bisa kita amati dalam berbagai peristiwa yang terjadi. Misalnya arti momentum sebagai saat yang tepat. Saat ini telah bermunculan milyarder-milyarder muda belia, pebisnis online dalam usia dibawah 25 tahun. Mereka tiba-tiba muncul bagaikan rising star, memanfaatkan booming generasi yang melek internet. Mereka cerdas melihat peluang dan berani mengambil resiko dan segera mengeksekusi ide yahg ada. Apakah mereka langsung berhasil? Tentu tidak, pasti lebih banyak kegagalan daripada keberhasilannya. Namun kita hanya melihat sisi berhasilnya saja.

Begitupun munculnya penulis-penulis best seller yang berawal dari keasyikan menulis lewat media blog dan jejaring sosial. Tak harus diterbitkan melalui penerbit yang sudah besar dan ternama. Banyak penulis buku-buku bestseller yang saat ini lebih memilih menerbitkan buku sendiri dengan bantuan perusahaan self publishing. Mereka menjualnya via jejaring sosial dengan bantuan para affiliate dan reseller. Hasilnya pun luarbiasa.

Nah sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita sudah bisa memanfaatkan momentum yang muncul? Apakah momentum itu harus ditunggu atau harus dicari? Bagaimana cara mengetahui apakah itu momentum kita? Cara paling mudah adalah banyak-banyak action, ditambah bantuan data riset dan rencana yang terarah. Apakah itu cukup? Nggak juga, ada banyak hal lain yang menyertainya. Salah satunya adalah kemampuan kita mengatur perasaan yang menyertai saat kita berdo’a dan berusaha. Ini lebih dikenal dengan mengatur getaran FORCE dan POWER. Tapi saya belum akan membahasnya di artikel saya yang ini hihihi… Tunggu saja di artikel saya selanjutnya.

Okeh lanjut ya…

Arti momentum menurut teori fisika yang sudah saya tuliskan di awal artikel ini pun ternyata banyak terwujud dalam peristiwa sehari-hari. Bukan hanya dalam peristiwa tabrakan/kecelakaan lalu lintas. Bukan pula hanya terjadi saat kita bermain karambol atau bola bilyard atau bermain kelereng (eh emang masih ada ya anak-anak yang main kelereng?) 😀

Pernahkah anda melihat sebuah percakapan yang terjadi antara dua orang atau dua pihak? Ini sangat menarik untuk diamati. Dua orang yang mempunyai persepsi yang berbeda dengan kepribadian yang sama-sama keras. Saat beradu pendapat, bila keduanya saling ngotot untuk mempertahankan pendapat masing-masing, biasanya tidak akan ada titik temu. Bagaikan 2 bola yang datang berlawanan dengan kecepatan tinggi, keduanya saling berbenturan dan akhirnya keduanya terpental saling menjauh ke arah yang berbeda. Tak ada titik temu.

Di kasus lain, ada seseorang yang keras hati dan sedang kekeuh bertahan pada pendapatnya, lalu datanglah orang lain yang berusaha mengubah pikiran orang itu. Maka akan muncul 2 kemungkinan, bisa jadi si penasehat ini akan terpental nasihatnya saat masuk di waktu yang kurang tepat atau dengan cara yang kurang sesuai. Kemungkinan kedua adalah si keras hati ini akan berubah pikiran dan mengikuti si penasihat, karena si penasihat menggunakan cara-cara persuasi yang tepat dan mudah diterima oleh si keras hati.

Inti dari arti momentum menurut saya ada pada definisi ketiga. MOMENTUM ADALAH KESEMPATAN.

KESEMPATAN yang kita tunggu atau kita ciptakan untuk mengambil tindakan, sehingga hasilnya optimal. Kesempatan yang mungkin prosesnya cukup lama seperti proses seorang pebisnis online dan penulis buku hingga menuai hasilnya. Butuh waktu, disiplin, konsistensi dan keteguhan hati dalam menjalaninya.

KESEMPATAN yang kita tunggu dan kita ciptakan untuk masuk ke hati orang lain dan menyelaraskan antara pendapatnya dengan pendapat kita. KESEMPATAN untuk memberikan nasihat secara langsung atau tidak langsung, yang pada akhirnya akan memberi pengaruh pada orang lain. Butuh kesabaran, keikhlasan, kerendahan hati dan niat yang baik dalam melakukannya.

MOMENTUM adalah KESEMPATAN yang kita tunggu atau kita ciptakan dan segera kita gunakan sebaik-baiknya.

Sudah menemukan momentum mu, teman?

Regards,

Eva Zahra

Gerhana Matahari dan Gerhana MataHATI

Hari Rabu tanggal 9 Maret 2016 terjadi sebuah fenomena alam dalam wujud gerhana matahari total yang melintasi sebagian wilayah Indonesia. Saya yakin sebagian besar dari  kita pun menyempatkan diri untuk menyaksikannya karena bertepatan dengan hari libur nasional, Hari Raya Nyepi. Ngomong-ngomong soal libur nasional, ternyata ada lho orang yang saking nggak update nya, dia menganggap hari libur ini diadakan karena adanya gerhana matahari total hihihi… Ada gitu orang semacam ini? Adaaaa…. orang itu salah satunya adalah : saya 😀

Continue reading “Gerhana Matahari dan Gerhana MataHATI”