Mengapa Harus Tahan 7 Detik

Istilah ini pertama kali saya dengar di sebuah acara pelatihan pemberdayaan diri di Cipanas, tahun 2014. Dimana istilah ini digunakan saat latihan “menyadari nafas” agar pikiran kembali fokus ke saat ini sekaligus untuk mengendalikan emosi.

Kedua kali saya diingatkan kembali pada “Tahan 7 detik” saat salah seorang teman baik saya, Mas Bagus yang berbagi reminder di sebuah grup chat Whatsapp : sebelum merespon, berbicara, membalas komentar dan melakukan tindakan, tahan 7 detik. Jangan buru-buru. Beri kesempatan logika kita mengambil alih emosi. Berpikir ulang dengan kepala dingin, menunda respon agar tidak menyesal karena terlanjur bertindak karena terpancing emosi.

Kedua hal ini pernah pula saya share di artikel saya yang ini.

Ketiga kalinya, akhirnya saya mendapatkan pelengkap informasi mengapa harus “Tahan 7 detik”.

Kemarin, saya mengikuti ulang sebuah workshop Quantum X Formation yang diampu oleh Mas Ifan Winarno. Disitu ada sebuah penjelasan mengapa harus 7 detik πŸ˜€

Saat mengalami suatu peristiwa, Somatic mind (Soma = tubuh, Mind = pikiran) kita hanya butuh waktu 1 detik untuk merespon. Tubuh kita bereaksi karena emosi atau perasaan yang kita alami dalam kejadian sehari hari. Contohnya: perubahan detak jantung, rasa tidak nyaman, otot yang menegang dan expresi wajah tertentu.

Berikutnya yang aktif merespon adalah sistem limbik. Sistem limbik adalah satu set struktur di otak yang mengontrol emosi, kenangan, dan gairah. Sistem limbik ini mendeteksi rasa takut, mengendalikan fungsi tubuh, dan melihat informasi sensorik.

Setelah itu baru Cognitive mind kita yang merespon. Cognitive mind ini yang akan menganalisa, mengkritisi, mengoreksi dan mengolah data yang ada.

Dan itu semua membutuhkan waktu 6 DETIK.

Jadi mengapa kita harus TAHAN 7 DETIK sebelum merespon sesuatu?

Jawabannya adalah untuk memberi kesempatan hingga Cognitive Mind bisa mengolah data yang ada. Sehingga tak ada rasa sesal saat emosi bergerak lebih cepat daripada logika pikiran kita.

Yup… Ilmu satu dengan yang lain itu seperti puzzle yang saling melengkapi. Teruslah menjadi seorang pembelajar ^^

Best Regards

Eva Zahra

Omah Bubrah

Hari masih pagi, cuaca cerah, matahari bersinar indah. Suara kicauan burung riuh bersahut-sahutan, sayup-sayup terdengar gemericik air kolam di halaman samping.

Saya membuka pintu yang menuju halaman samping rumah, membayangkan segarnya udara pagi dan indahnya pemandangan hari ini. Dan….. Jreeeeng!!! Pemandangan yang terpampang adalah kondisi omah bubrah (rumah berantakan), debu, potongan kayu, batu bata, pasir, semen dan pasukannya tersebar di halaman samping heuheu….

Sudah 3 minggu sebagian rumah keluarga kami sedang dalam proses renovasi. Berantakan di sana-sini. Geregetan melihatnya, ingin segera beres dan kembali ke kondisi rapi dan bersih lagi. Sekian lama pula saya tidak bisa mencuci dan menjemur baju di halaman, untung tetangga saya punya usaha laundry hihihi… Stock baju amaaan… πŸ˜€

Yap… ini adalah sebuah konsekuensi dari aktifitas renovasi bangunan. Ada proses-proses yang harus dilalui. Mulai dari perencanaan, budgeting, mulai tahap pengerjaan yang konsekuensinya adalah terjadi gangguan suara, kebersihan, menyediakan konsumsi tiap hari untuk tukang yang mengerjakakan proyek renovasi dan otomatis aktifitas normal menjadi terhambat. Belum lagi setelah proses renovasi selesai, masih berlanjut dengan tahapan bebersih dan menata ulang. Ckckck…. Masih seminggu lagi. Tetep harus menjalani proses sampai selesai supaya tuntas metamorfosa nya dan tidak terbengkalai.

Saya lalu membayangkan saat tahapan-tahapan itu nanti sudah terlampaui. Saya akan melihat wujud baru yang lebih indah daripada wujud semula. Ruangan menjadi lebih nyaman, lebih menarik, lebih luas dan lebih memberdayakan. Karena saya suka menata ruangan, maka tak terbayang seperti apa nanti keseruan yang akan saya alami. ^.^

Seandainya proses renovasi rumah itu dianalogikan dengan proses perbaikan diri kita….

Saat menjalani prosesnya, akan muncul rasa tidak nyaman.Rasanya semrawut, segala sesuatu seakan menjadi tidak teratur. Kadang muncul rasa malas dan mulai kehilangan fokus. Kemudian muncul bisikan untuk membandingkan dengan kondisi orang lain. Bermunculan banyak godaan untuk berhenti menjalaninya.

Lalu kita mulai galau saat memilih, akan terus menyelesaikan tahapan prosesnya, atau berhenti di tengah jalan dan membatalkan semuanya. Kembali ke keadaan awal yang lebih kita akrabi dan sudah terbiasa kita jalani.

Lalu bagaimana cara menjaga tekad untuk menyelesaikan prosesnya sampai selesai?

Caranya dengan kembalikan fokus pada niat baik kita di awal proses, bayangkan saat semua itu sudah selesai kita lalui. Kebaikan-kebaikan dan keuntungan apa saja yang akan kita nikmati nanti. Sekali waktu lelah, boleh isitirahat sejenak, lalu lanjutkan lagi langkah kita. Hingga paripurna nanti…

Perubahan memangΒ  membuat tidak nyaman, tapi kita perlu terus berubah untuk menjadi lebih baik….

Sssst tahu nggak mengapa Dinosaurus punah? Ya mungkin karena mereka tidak mau berubah hehehe… Iya gitu? Wallahu alam…

Regards

Eva Zahra

 

 

Males Menulis Sesat di Pikiran

Ternyata sudah 3 minggu berlalu sejak postingan blog yang lalu πŸ˜€ Nggak terasa ya… Komplikasi antara sibuk, males dan lupa. Luwarbiyasak efeknya… Kebablasan jadi mager alias males gerak.

Yuk maree kita mulai lagi konsistensi mengisi blog ini dengan tulisan sesuai mood dan pesanan hehehe…

Teringat pada tulisan yang tertera pada sebuah pembatas buku,

Rasa malas yang dituruti dan dibiarkan, lama-kelamaan akan membelitmu laksana ular phyton yang siap menghancurkanmu.

Yes, rasa malas itu ternyata bersahabat akrab dengan kebiasaan menunda. Keduanya berjalanan beriringan, dan makin lama akan saling menguatkan. Penundaan yang satu akan mengajak penundaan berikutnya hingga timbul rasa malas. Rasa malas ini yang akan bergulir makin lama makin susah dihilangkan.

Malu bertanya, sesat di jalan… Itu mah peribahasa jaman dulu. Justru yang terjadi saat ini adalah makin banyak orang yang malas bertanya dan siap tersesat. Karena dengan nyasar saat traveling, justru ada banyak pengalaman seru dan kejutan-kejutan seru yang justru membuat sebuah traveling menjadi kenangan indah yang susah dilupakan. Seperti saya misalnya πŸ˜€

Malas menulis, sesat di pikiran. Nah ini yang sedang saya rasakan. Banyak orang bilang jika saya punya bakat membuat meriah suasana dengan obrolan random saya ehehe… Sebenarnya ini hanya kalimat untuk memperhalus kebiasaan saya yang suka memancing kehebohan πŸ˜€ Tapi tetap saja ada banyak hal termasuk keluhan dan masalah yang tidak nyaman untuk saya share terbuka saat berbincang bersama teman dan sahabat. Salah satu solusinya adalah dengan cara menuliskannya. Lha kalau menulispun mulai jarang saya lakukan, yang terjadi adalah masalah-masalah yang belum ada solusinya itu bergerak liar di pikiran saya. Tersesat di relung-relung yang ada dan kadang mengganggu konsentrasi saya.

Bagi sebagian orang, menulis bukan hanya media tempat menuangkan ide dan khayalan. Banyak juga yang menggunakannya sebagai sarana merelease masalah atau kenangan yang ingin dibuang jauh. Karena ingatan kita ini laksana rumah yang harus ditata dan dirapikan serta dibersihkan dari hal-hal yang tidak berguna lagi.

Bayangkan rumah yang disana-sini bertebaran sampah, penuh barang-barang yang tidak berguna dan berantakan susunannya. Sangatlah tidak nyaman, terasa sumpek dan kotor. Untuk mampir sendiri pun mungkin tak akan bertahan lama, bagaimana mungkin mengajak orang lain untuk berlama-lama juga berkunjung kesana.

Berbeda dengan rumah yang tertata rapi, sering dibersihkan, berisi perabotan yang sesuai dengan kebutuhan, terasa lapang dan sejuk dipandang. Membuat kita betah dan ingin menetap selama mungkin disana. Begitupun dengan orang lain, mereka pun nyaman berkunjung dan berlama-lama menikmati kenyamanan yang ada.

Jadi menulislah saat mulut kita tak sanggup mengungkapkan apa yang tersimpan di dalam pikiran. Pindahkan sebagian beban pikiran dalam lembaran-lembaran tulisan. Tak harus kita tunjukkan pada orang lain, bisa jadi tetap menjadi rahasia yang kita simpan. Namun mungkin kini atau nanti hikmahnya akan bisa kita bagikan agar memberi manfaat bagi banyak orang.

 

Regards,

Eva Zahra