Lesson in Life, Notes

Artikel Nyasar

Baru sempat buka blog lewat laptop dan tiba-tiba Saya bengong melihat ada artikel yang seharusnya belum layak posting terpampang di halaman blog Saya. Arrrrgh… *nyengir malu*

Bagi yang sudah terlanjur baca, maap ya sodara-sodara… Kesalahan teknis. Artikel itu Saya tulis di gadget Saya saat mengisi waktu luang di luar kota. Saat Saya berusaha menguploadnya, selalu gagal. Dan akhirnya artikel itu mendarat manis di  salah satu chatroom grup Saya. Hmm..kenapa ya? Mungkin Saya lupa mengenalkan gadget Saya dengan Laptop Saya. Sehingga mereka kurang kompak. Ah Sudahlaaah 😀

Nha..ini dia artikel yang seharusnya..

KACA BENING

Seorang anak kecil bernama Cahaya, asik memperhatikan Bunda yang sedang membersihkan kaca jendela rumah mereka.

Dia sangat hafal pada kebiasaan Bunda yang selalu membersihkan setiap kaca yang terpasang di rumahnya setiap hari. Bukan hanya sekedar membersihkan dengan “kemoceng” dari bulu ayam. Bunda mengelapnya dengan kain dan pembersih kaca, hingga kaca benar2 bersih bening dan bercahaya.

Cahaya bertanya,”Bunda, mengapa kaca-kaca itu setiap hari Bunda lap hingga tak ada sedikitpun debu yang melekat?”

Bunda menjawab,”Supaya bersih dan selalu bening, Nak.. Harus dibersihkan tiap hari, supaya noda-noda di kaca itu tidak terlanjur menjadi kerak dan sulit dibersihkan.”

Cahaya kemudian bertanya lagi,”Tapi mengapa harus tiap hari, Bunda? Bisa saja kan, Bunda membersihkannya 2 atau 3 hari sekali. Bukankah orang lain tetap melihat kaca rumah Kita tetap bersih?”

Bunda menjawab,”Benar Nak, orang lain tidak tahu noda-noda tipis di kaca rumah Kita, karena mereka tidak setiap hari memperhatikannya dan mereka melihat dari jarak yang cukup jauh, tidak seperti Kita yang menghuni rumah ini.”

Melihat ekspresi bingung Cahaya, sambil tersenyum Bunda kemudian mengajak Cahaya duduk, dan menjawab dengan penuh kasih sayang,”Anakku sayang, kaca rumah Kita, bisa diibaratkan hati Kita. Setiap hari, selalu ada noda-noda yang hadir mengotorinya. Noda-noda itu bisa berupa rasa iri, dengki, marah, dendam, sakit hati dan maksiat yang Kita lakukan mulai dari yang ringan sampai yang berat.”

“Noda-noda yang tipis itu memang tidak terlihat awalnya, namun bila dibiarkan hari demi hari tanpa dibersihkan, lambat laun akan menjadi kerak yang keras dan sulit untuk dihilangkan. Kerak itu akan mengurangi bahkan menutup kejernihan hati Kita, sehingga Kita sulit menerima cahaya Ilahi yang terpancar ke arah Kita”,lanjut Bunda.

Dengan sedikit rasa heran, Cahaya bertanya lagi,”Bunda, mengapa Bunda membersihkannya dengan berbagai alat, kemoceng, semprotan pembersih dan lap halus? Bukankah sudah cukup dengan kemoceng saja?”

Bunda kemudian berkata,”Begitu juga yang terjadi pada hati Kita, Nak… Terkadang nasehat dari orang lain sudah mampu menghapus noda hati yang ada, namun kadang dibutuhkan cara lain untuk membersihkannya. Bisa dengan membaca Al Qur’an, memperbanyak ibadah sunnah, ataupun melakukan riyadhah dan berada dalam lingkungan orang-orang yang sholeh. Tergantung pada tipis atau tebalnya noda hati yang ada.”

Akhirnya Cahaya bisa mencerna sedikit demi sedikit penjelasan Bunda. Dia berkata,”Terimakasih Bunda, ternyata membersihkan kaca-pun hampir sama prinsipnya dengan membersihkan hati Kita.”

Bunda memeluk dan mencium Cahaya dan berkata,”Begitulah Nak, Kita bisa belajar dari apapun yang Kita lakukan sehari-hari. Pandai-pandailah memaknai setiap peristiwa dalam hidup ini.”

Semoga bermanfaat,

Salam hangat,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *