Traveling

Back To Kalibiru

Hampir 2 tahun ternyata sejak saya pertama kali ke wahana wisata Kalibiru yang sempat saya tuliskan di artikel Kalibiru Traveler bagian 1 dan bagian 2.

17 Agustus 2016 kemarin, disaat banyak orang memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-71 dengan memanjat pohon pinang, saya bersama dua orang sahabat saya, Mbak Opi dan Aulia memanjatkan do’a semoga hari cerah agar acara ngebolang lancar #halah 😀 Maksudnya kami piknik ke obyek wisata Kalibiru dan Waduk Sermo yang terletak di daerah Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kali ini kami memilih jalur alternatif yang tidak melewati jalan utama. Meeting point di Terminal Jombor, Sleman Yogyakarta, melewati daerah Minggir, Godean dan tembus ke daerah Nanggulan Kulonprogo. Jalur yang relatif sepi dan tidak banyak berpapasan dengan mobil lain.Membelah area perbukitan dengan pemandangan yang asik banget.

peta-jombor-kalibiruSejak awal traveling kami sudah niatkan untuk nothing to lose. Karena memang tidak ada yang paham rute kesana melalui jalan alternatif ini hihihi… Pokoknya seru-seruan saja, menikmati perjalanan. Mengandalkan plang penunjuk arah yang ada, bermodal senyum manis kalau kehabisan ide dan bertanya saat hilang arah 😀 Tidak ada yang namanya kesasar, yang ada adalah jalur baru. #Sikap

Dan benar saja, memasuki daerah Nanggulan, jalur perjalanan terus menanjak dengan tikungan-tikungan tajam. Daaaan… muncul surprise berupa jalur semi offroad yang entah sampai dimana ujungnay. Ternyata sedang ada proyek perbaikan jalan yang melewati daerah perbukitan. Melewati jalur jalan yang semi offroad dengan tanjakan dan turunan yang tajam. Melalui jalur sempit dengan view jurang menganga di sebelah kanan dan kiri, tidak ada pilihan lain selain maju terus. Yuk mareee hajaar…

Inilah asiknya bersama teman seperjalanan dengan karakter yang easy going. Yang ada hanya pengalaman seru dan menyenangkan banget 😀

Satu jam kemudian, sampailah kami di lokasi parkir obyek wisata Kalibiru. Berasa sekali perubahannya. Oiya ada baiknya kalau piknik kesana sepagi mungkin sebelum jam 10 pagi. Karena jika terlalu siang, pasrah saja deh dapat tempat parkir dalam radius 100-200 meter dari lokasi dengan kontur tanah yang menanjak. Lumayan untuk menguji ketahanan jantung anda hehehe… Ada sih jasa ojek dari parkiran hingga gerbang ticketing. Tapi masa menikmati wisata alam dengan naik ojek sih…

parkir-kalibiru-evazahra.com

Dua tahun yang lalu hanya ada 1 lahan parkir, sekarang ada 4 lahan parkir ditambah parkir darurat di sepanjang jalan. Manajemen pengelolaan parkir makin rapi, sistem koordinasi komunikasi antar personil dengan media HT menghindarkan terjadinya penumpukan dan kemacetan jalur kendaraan dari dan ke Kalibiru.

Tiket masuk yang dulu hanya 3000 rupiah, sekarang 10.000 rupiah. Warung yang dulu hanya seuprit dengan menu andalan popmie dan kopi sachet, sekarang beranak pinak menjadi puluhan warung yang tersebar hingga ke ujung lokasi dengan menu yang beragam dan harga yang (masih) wajar.

wisata-kalibiru-evazahra.comDari kejauhan terlihat beberapa anak muda seusia mahasiswa menggunakan laptop dan kamera profesional sibuk beraktifitas. Kok kayak sedang ada acara kuliah lapangan saja suasananya ya… Ternyata anak-anak muda ini yang menjadi tim pengelola spot foto panggung diatas pohon. Dari mulai memasang perlengkapan safety, mengatur pose, memfoto sampai pada mengedit foto untuk dicetak oleh pengunjung Kalibiru.

Seperti ini lho view utama dari obyek wisata Kalibiru itu. Pemandangan Waduk Sermo dari atas bukit, dengan pemandangan hutan yang mengelilinginya.

view-kalibiru-evazahra.comDua tahun yang lalu lokasi spot foto yang ada hanya ada satu dengan pengamanan dan fotografer seadanya. Saat ini menjelma menjadi 6 atau 7 tempat dengan sistem antrian, pengamanan, fotografi dan editing yang rapi dan bagus. Biaya foto per spot 10rb-15rb rupiah/orang. Psssst…ada pengarah gayanya pula untuk yang tidak terbiasa narsis lho. Di hari libur/ weekend, bersiap-siaplah menemui antrian yang panjang mengular. Waktu itu jam 11 pagi, antrian di spot panggung sudah sampai nomer 65, butuh waktu 2 sampai 3 jam untuk menunggu sampai nomer 65.

spot-foto-kalibiru-evazahra.com

Berhubung kami tidak berminat untuk ikut meramaikan suasana antrian, maka kami teruskan saja perjalanan hingga batas akhir obyek wisata ini.

Seingat saya dulu, ada jalur trekking hingga ke bawah bukit, masih ada 2 rumah joglo limasan untuk melepas lelah dan menikmati suasana alam. Tapi saat ini sepertinya sudah lama tidak digunakan. Mungkin pengunjung saat ini hanya ingin foto-foto diatas pohon saja dan makan-makan. Tidak banyak yang berminat trekking dan hiking menyusuri hutan sambil rihlah mendengarkan suara burung liar yang beterbangan.

Kami teruskan perjalanan walaupun tangga buatan sudah habis. Melalui jalur tanah hingga menemukan sebuah rumah pohon yang masih kokoh walaupun terasing dari keramaian.

rumah-pohon-kalibiru-evazahra.com

Rumah pohon yang terlihat terasing dari keramaian di lokasi wisata. Masih terlihat kokoh. Untuk memastikan kekuatannya, sebelum naik saya amati dulu, sambil sedikit tendang-tendang dan tarik-tarik di beberapa bagian kayu-kayunya penopangnya. Untung saya tidak terpikir untuk bergelantungan juga hihihi…

Sekitar satu jam lebih kami menikmati istirahat diatas rumah pohon ini, ngobrol sambil santai menikmati kicauan burung liar, waktu terasa melambat, sempat tidur-tiduran juga. Hingga terdengar dari kejauhan suara adzan sholat dzuhur sayup-sayup terbawa angin.

Dari kejauhan terdengar suara beberapa orang yang datang menghampiri rumah pohon dan joglo limasan. Sepertinya mereka tertarik untuk ikut naik ke rumah pohon ini dan menunggu kami turun. Awalnya kami biarkan saja, karena mereka juga tidak menyapa atau bertanya kapan kami turun 😀 Lama-lama, ah mengganggu ketenangan kami saja 😀 Baiklaah waktunya turun dari rumah pohon, menuju mushola di dekat pos tiket, lalu move on ke waduk sermo untuk main air.

Selepas sholat dzuhur dan istirahat sebentar, kami menuju obyek wisata Waduk Sermo, yang menjadi view utama pemandangan dari atas di Kalibiru. Menurut info, ada resto yang lezat di dekat sana, dengan menu gurame asam manisnya. Duh perut sudah bernyanyi ingin mencicipi rasanya. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk menuju Waduk ini.

Sampai disana kok tidak ada tanda-tanda resto kuliner yang ada di banner promo sepanjang perjalanan ya… Bertanyalah kami pada tukang parkir yang ada di sana. Hadeuh, ternyata per tanggal 1 Mei 2016 sudah tutup resto kulinernya 😀

Di kejauhan tampak ada kapal mesin yang disewakan untuk mengelilingi waduk dengan biaya 10rb/orang. Satu kapal berisi sekitar 10 orang. Pembayaran langsung pada pengemudi kapal, jadi mirip angkutan kota saja. Yak merapat… merapat…

waduk-sermo-evazahra.com

waduk-sermo-kapal-evazahra.comSudah cukup rasanya piknik hari ini, perut lapar (dan baper karena tidak menemukan resto yang dicari) sudah mengambil alih fokus pikiran. Saatnya pulang sambil mencari wisata kuliner di kota Wates yang kami lalui menuju kota Yogyakarta kembali. Mampir ke resto Dapur Semar di pinggir jalan raya kota wates. Menu utamanya Ayam Koteka muehehe…. Jangan tanya seperti apa, karena kami tidak memesan menu itu. Bosan makan ayam terus.

Sip.. sudah puas rasanya perjalanan kali ini dengan semua kehebohan dan keanehannya. Seharian diet gagdet, mematikan hp dan paket data, hanya fokus hore-hore menikmati perjalanan dan ngobrol saling berbagi kisah hidup kami masing-masing.

Oiya, Mbak Opi, teman seperjalanan saya ini adalah seorang survivor kanker usus besar stadium 3 yang sudah dua kali mengalami operasi pemotongan usus. Beliau kuat melalui lebih dari 100 kali proses kemoterapi kontinyu selama 5 tahun hingga dinyatakan cancer free, namun takdir Allah menetapkan kanker itu hadir lagi. Dan qodarullah beliau berhasil survive lagi.

Sebuah kasus langka di dunia kedokteran. Saat ini mbak Opi sedang menulis buku tentang kisah hidupnya yang menginspirasi. Layak untuk ditunggu waktu terbitnya… Menginspirasi dan membuat kita ingat untuk selalu menikmati dan mensyukuri hidup ini.

Okehsip… sampai jumpa di postingan berikutnya…

Regards,

Eva Zahra

 

1 thought on “Back To Kalibiru

  1. Tadi siang aku muter2 diatas danau yang ku tak tau itu apa. Tp foto diatas meyakinkanku bahwa danau yang kukitari tadi siang adalah waduk sermo… 🙂 maturnuwun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *