Lesson in Life

Baik, Bener, Pantes

Tiga kata itu yang menjadi nasehat dari guru saya saat kami bertanya tentang boleh tidaknya melakukan suatu hal. Ini terjadi beberapa hari yang lalu, saya bersama 4 sahabat berkunjung ke rumah beliau di Klaten. Sudah lama kami tidak bersua secara langsung. Saat kebetulan ada salah seorang sahabat saya dari Jakarta yang berkunjung ke Jogja dan jadilah kunjungan tanpa rencana itu.

Baik – Bener – Pantes. Sebuah tindakan harus memenuhi ketiga kriteria itu saat dipertimbangkan untuk dilakukan.

Sudah baikkah niat dan baik pula hal itu jika kita lakukan?

Sudah benarkah apa yang akan kita lakukan tadi ditinjau dari norma yang ada terutama norma agama?

Dan pantaskah hal itu untuk dilakukan?

Bila suatu pilihan tindakan dianggap memenuhi ketiga kriteria diatas,nilai BAIK dan BENAR menurut saya tetap harus dikembalikan ke aturan agama dulu yang pertama. Baru kemudian kePANTASan yang membutuhkan empati dan pemahaman atas budaya dan kondisi lingkungan setempat.

Terkadang sesuatu yang terlihat baik dan dianggap pantas ternyata tidak bisa dibenarkan oleh norma agama. Mungkin karena sudah menjadi suatu kebiasaan, sehingga norma agama dikesampingkan.Banyak contohnya, misalnya dalam hal pergaulan antara pria wanita non mahrom yang saat ini sudah sangat bias batasannya baik di dunia nyata maupun di dunia maya (online).

Begitupun, banyak hal yang terlihat baik dan benar, namun bisa jadi tidak pantas dilakukan. Misalnya kita ingin berkunjung ke rumah orang lain untuk suatu kepentingan yang baik dan benar. Namun bertamu di waktu malam yang sudah larut, maka nilai kepantasannya menjadi hilang karena itu adalah waktu istirahat bagi tuan rumah.

Apalagi bila ada salah satu kriteria antara BAIK, BENAR dan PANTAS yang tidak terpenuhi, tak perlu diperdebatkan lagi untuk melakukannya. Tinggalkan saja karena hanya berisi keraguan didalamnya.

Nasehat seorang guru bisa jadi sangat sederhana. Namun dalam sekali bila ditelaah maknanya. Sebagaimana air yang secara normal tak bisa mengalir ke tempat yang tinggi. Begitupun Ilmu, tak akan masuk ke dalam pikiran yang congkak dan hati yang sombong. Butuh kerendahan hati dan kemauan untuk membuka wawasan, perasaan dan pikiran dalam mencari ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat.

Sebuah renungan untuk saya dan anda semua. Semoga bermanfaat.

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *