Traveling

Balada Backpackers Amatiran

Selama saya tinggal di Jogja, saya belum pernah merasakan menginap di hotel langganan para backpackers. Hotel seperti ini menyediakan kamar model dormitory room, dengan tempat tidur model bunkbed (tempat tidur bertingkat). Dalam satu kamar bisa diisi cukup banyak orang, artinya bila sedang musim turis berlibur, bisa jadi nanti harus berbagi kamar dengan orang lain yang tidak kita kenal. Tentu saja dipisahkan antara kamar pria dan kamar wanita.

Sabtu ini saya dan beberapa orang sahabat saya menghabiskan liburan akhir pekan di Jogja dengan menginap di EduHostel Jogja, sebuah hostel backpackers di dekat kawasan malioboro yang menjadi langganan backpackers domestik maupun mancanegara untuk menginap. Selain pertimbangan harga yang hemat, toh kami hanya butuh kamar hotel untuk menyimpan ransel dan istirahat malam, kami pasti banyak menghabiskan waktu di luar hostel untuk piknik. Kami juga tertarik dengan view di roof top hotel ini yang menghadap langsung ke arah Gunung Merapi.

eduhostel jogjakartaEduHostel Jogjakarta

Rooftop eduhostel jogjaRooftop Eduhostel Jogja

Kami tiba di EduHostel pukul 9 malam, waktu itu hotel ini penuh sesak dengan rombongan wisata, sehingga semua kamar penuh, bahkan banyak yang sepertinya menunggu di ruang duduk yang ada di mezanin lobby hotel untuk mendapatkan kamar kosong.

mezanin eduhostel

Setelah check in, kami menuju ke kamar masing-masing sambil membawa selimut dan handuk yang diberikan di lobby saat check in. Karena kamar yang tersedia adalah untuk kapasitas 6 orang, sementara kami terdiri dari 4 perempuan dan 2 laki-laki, maka saya dan 3 orang teman yang perempuan harus berbagi kamar dengan 2 orang lain. Begitupun 2 orang sahabat saya yang pria, mereka akan berbagi kamar dengan 4 orang asing.

shared room eduhostelDormitory Room Eduhostel Jogja

Nah disinilah keseruan dimulai. Kamar yang kami sewa terdiri dari 3 bunkbed, dan 6 kotak lemari untuk menyimpan ransel dan barang-barang bawaan kami. Kapasitas kamar maksimal adalah 6 orang, sementara rombongan kami yang perempuan ada 4 orang. Sudah pasti akan ada 2 orang lain yang bergabung di kamar kami nanti.

Saat masuk kamar dan membawa ransel untuk disimpan di lemari, kami terkejut karena menemukan 2 tas berisi beberapa botol bir kosong. 2 orang penghuni kamar selain kami mungkin sedang keluar. Seperti apa ya teman sekamar kami ini? Jangan-jangan bule yang gemar minuman keras. Begitupun yang terjadi pada 2 orang teman saya yang lain, karena hanya ada 2 pria di rombongan kami, jadi mereka bergabung dengan 4 bule asli dengan postur raksasa di kamar yang ada 😀

Kejutan yang kedua adalah, kamar mandi yang tak ada kuncinya. Karena di dalam ada 2 ruang shower yang disekat dan bagian depan hanya ditutup gorden plastik. Nah lo… bagaimana nih privasi nya nanti? Untung kami berempat, jadi ya pinter-pinteran bagi waktu dan saling menjaga saat mandi dan lain-lain, Yah sudahlah, kan memang seperti itu konsekuensi menginap di hostel untuk backpackers hehehe…

Kejutan yang ketiga adalah, kami tidak membawa gembok untuk mengunci lemari masing-masing. Maklum belum terbiasa menginap di dormitory room dan berbagi kamar dengan orang asing. Jadi buat yang ingin mencoba dormitory room, jangan lupa bawalah gembok sendiri.

Beberapa jam kemudian datanglah 2 orang teman sekamar kami itu. Ternyata 2 orang gadis cantik dengan busana minim 😀 Pasti mereka pun kaget saat tahu teman sekamarnya adalah 4 orang gadis berjilbab rapat huehehe… Langsung mati gaya dan terlihat canggung. Saya akhirnya mengenalkan diri untuk memecah kecanggungan. Mereka berdua adalah orang bandung yang sedang berlibur bersama 3 orang temannya, bule dari Wales.

Setelah istirahat dan bebersih, kami menyempatkan waktu untuk berjalan ke sekitar hotel mencari wedang ronde. Dari hotel kami menuju perempatan malioboro. Lumayan juga, berjalan kaki sekitar 30 menit, dan ramai sekali suasana malam itu. Mungkin karena sedang weekend sekaligus peak season. Karena sudah malam, kami tidak berlama-lama di luar hotel, segera kami kembali untuk beristirahat dan menyiapkan stamina untuk perjalanan minggu pagi nanti. Kembali kejadian lucu harus kami alami. Baru kali ini kami berempat sepakat untuk tetap memakai jilbab saat beristirahat malam hehehe… Begitupun yang terjadi pada 2 orang gadis yang berbagi kamar dengan kami, mereka pun sungkan tidur dengan baju minim 😀

Malam minggu pun berlalu hingga pagi menjelang. Seru juga pengalaman kami dalam memilih penginapan. Tak terduga hal-hal yang akan kami temui. Namun satu hal yang pasti, semua jadi lebih mudah bila dijalani bersama orang-orang yang berpikiran positif, yang kita percayai dan kita sayangi. Dengan positif thinking dan menikmati perjalanan yang ada, rintanganpun bisa berubah menjadi hiburan dan kisah indah untuk dikenang.

Lain waktu saya akan bercerita kemana saja kami melangkah untuk berwisata ke Jogja.

Sampai jumpa,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *