Personal Life

Beda Selera

Saya tidak tahu sejak kapan Saya tidak suka makan daging merah, daging dari binatang ternak berkaki empat yang halal tentunya hehe.. Daging sapi, daging kambing dan teman-temannya. Seingat Saya itu sudah terjadi semenjak masa kanak-kanak.

Saya lebih suka menikmati masakan dari daging ayam, unggas, maupun seafood. Bahkan saat Hari Raya Idul Adha yang identik dengan jamuan menu serba daging, Saya dengan bahagia membuat menu seafood untuk diri sendiri hihihi….

Mengapa Saya tidak suka daging merah? Karena biasanya, perut Saya jadi mual saat menyantap masakan yang menggunakan bahan dasar daging merah. Kalaupun terpaksa, saat tidak ada masakan lain, Saya hanya makan kuahnya atau memilih masakan daging merah campuran semisal abon atau bakso. Walaupun nanti resikonya perut jadi kurang nyaman saja, tapi tak seberat rasa mual saat menyantap masakan daging merah murni tanpa campuran

Bagi sebagian teman Saya, terkesan rugi besar jika tidak bisa menikmati masakan daging merah yang katanya lezat luar biasa hihihi… Sudah kebal Saya di iming-imingi jenis masakan rendang, sate, gule, rawon, steak sampai pizza dan spagheti. Paling-paling Saya temani saja mereka makan, dan Saya memesan menu yang lain. Yang penting sama-sama menikmati menu masing-masing.

Sama kasusnya dengan selera makan Saya yang anti cabe. Sama sekali tidak doyan cabe. Seringkali Saya kena bully menjadi bahan becandaan saat Saya memesan rujak buah, lothek sayur ataupun nasi goreng dengan tambahan kata “tidak pakai cabe sama sekali”. Sementara sebagian besar sahabat Saya adalah penggemar sambal dan menu masakan serba pedas.

Jadi tidak mengherankan saat Kami beramai-ramai makan di sebuah rumah makan, teman-teman penggemar pedas langsung mengkudeta sambal yang menjadi pelengkap menu pesanan Saya hehe… Ikhlaaaas…daripada Saya harus sakit perut karena pencernaan tidak tahan rasa pedas. Sudah berulang kali mencoba makan pedas dan biasanya berakhir dengan tambahan biaya untuk berobat ke dokter karena radang pencernaan.

Kejadian seperti itu membuat Saya sadar bahwa masing-masing manusia itu unik. Sesuatu yang menurut orang lain enak, bisa jadi menurut Saya tidak enak, demikian juga sebaliknya. Tergantung selera masing-masing.

Bukan hanya soal makanan, tapi juga di setiap sisi kehidupan Kita. Keluarga, karir, hobby, pilihan hidup dan lain sebagainya. Apa yang baik untuk orang lain, belum tentu baik bagi Kita, begitu juga sebaliknya.

Kita yang menjalani hidup masing-masing, maka Kita yang harus belajar menempatkan diri. Menjalani hidup ini dengan penuh rasa syukur, rasa bahagia dan menikmati setiap prosesnya. Yakinlah Allah SWT sudah mendesain hidup Kita masing-masing dengan cara yang sempurna.

Semoga bermanfaat,

Salam hangat,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *