Notes

Belajar Untuk Menulis, Menulis Untuk Belajar

Adakah orang yang tidak mampu menulis? Menurut saya ini bukan tentang mampu atau tidak mampu, tapi tentang mau atau tidak mau.

Apakah menulis itu harus berupa artikel panjang dan detail? Tidak juga… Munculnya beberapa jejaring sosial media sudah berhasil memicu keriuhan dunia komunikasi online. Yang berarti orang makin mudah untuk mengungkapkan ide dan isi pikirannya dalam bentuk tulisan.

Dulu saya orang yang pemalu (ini serius…jangan tertawa ya…).¬† Saya kadang¬† merasa terhambat dalam mengungkapkan isi pikiran saya secara langsung. Baru sekitar 2 tahun terakhir ini saya belajar untuk menulis artikel dalam bentuk blog dan berani sharing hasil tulisan spontan di beberapa grup chat. Diawali dari dunia Twitter, menjadi admin beberapa grup LINE, admin beberapa grup whatsapp dan berlanjut ke blog/personal web.

Awalnya memang berat, rasa tak percaya diri pasti muncul, kuatir menghadapi tanggapan orang lain pasti ada. Tapi karena dunia online tidak mengharuskan saya untuk bertatap muka secara langsung dengan orang banyak, rasa minder itu perlahan-lahan mulai bisa diatasi.

Dan munculah sifat asli saya yang mungkin dahulu tertutup oleh rasa minder, yaitu sifat senang memancing kehebohan obrolan dan senang menjadi konektor untuk membangun kehangatan persahabatan yang terjalin dalam grup tersebut. Yang tadinya pemalu, sekarang terkadang malu-maluin hihihi… Semakin sering menulis, semakin banyak manfaat yang saya peroleh dari aktifitas menulis itu. Beberapa diantaranya saya bagikan disini.

Menjadi media untuk belajar menyampaikan isi pikiran.
Saat saya sedang menulis, secara tidak langsung saya belajar untuk berkomunikasi dengan pembaca tulisan saya. Saya berusaha agar apa yang saya tuliskan ini mudah dipahami, menarik, tidak membosankan dan pesan yang ada di dalamnya tersampaikan dengan cara yang baik. Dan proses belajar ini tak ada akhirnya, terus berlangsung dari waktu ke waktu.

Saya belajar dengan cara membaca karya penulis-penulis buku best seller dan “mencontek” gaya bahasa mereka. Hingga akhirnya saya menemukan gaya bahasa saya sendiri yang membuat saya nyaman saat menuliskan hasil pemikiran saya. Semakin banyak referensi dan buku yang saya baca, makin banyak pula “tabungan kata-kata” yang saya miliki. Dan makin banyak contoh format tulisan yang saya pelajari.

Menulis adalah sarana mengikat ilmu dan menyebarkannya.
Saya sadar ingatan saya sangat terbatas, usia saya pun berbatas. Bila saya tidak menuliskan apa yang sudah saya pelajari, saat saya meninggal nanti, bisa jadi ilmu itu akan menghilang dan hilang pula kesempatan untuk menyebarkan ilmu yang menurut saya bermanfaat itu. Sayang banget kan?

Ilmu dan pengalaman hidup yang saya tuliskan, semoga bisa menjadi sumber aliran pahala yang berlanjut walaupun saya sudah tiada nanti. Dunia online adalah dunia tak terbatas jarak dan waktu, mungkin saja dari sekian banyak orang yang membaca hasil tulisan saya ini, ada yang menyebarkannya lagi atau mendapatkan manfaat darinya.

Menulis akan membentuk kepribadian
Kualitas diri seseorang bisa dinilai berdasar kata-kata yang dia gunakan. Dengan membiasakan diri untuk menulis, saya harus belajar menggunakan kata-kata yang baik. Seperti analogi sebuah teko, teko akan mengeluarkan isi sesuai dengan apa yang dimasukkan ke dalamnya. Teko itu adalah pikiran saya, bagaimana orang lain menilai diri saya salah satunya adalah dengan menilai apa yang saya tulis dan saya katakan. Ini adalah salah satu sarana untuk selalu mawas diri.

Menurut ilmu kedokteran, menulis adalah sebuah cara untuk mencegah kepikunan.
Saya ingin di masa tua nanti, saya terhindar dari penyakit kepikunan. Salah satu caranya adalah dengan rajin menulis. Bukan cuma badan yang butuh olahraga. Otak pun butuh olah pikir. Dengan menulis, otak saya akan dipaksa untuk mengingat, mengolah data dan menuliskannya kembali sesuai dengan apa yang saya pahami.

Menulis melatih diri untuk menerima saran dan kritik orang lain
Saat membagikan hasil tulisan untuk dibaca orang lain, pasti sudah siap untuk menerima respon apapun yang akan muncul. Support, saran, dukungan, komentar apapun akan menjadi input yang baik bagi saya. Itu yang akan membuat pribadi dan skill saya berkembang. Latihan berbesar hati menerima input dan reaksi orang lain.

Menulis bisa juga menjadi sarana terapi diri.
Saat sedang sedih, marah, bahagia, bingung, atau pikiran sedang semrawut. Tuliskan saja semuanya dan dibaca ulang saat pikiran sudah tenang. Yang ini sih tak perlu dibagikan ke orang lain. Cukup saya simpan dalam catatan saya sendiri. Sambil belajar menunda respon, karena terkadang sebuah emosi bila sudah terlanjur diucapkan secara reaktif pada orang lain, yang ada hanyalah penyesalan.

Menulis bisa menjadi gudang ide lho…
Seringkali dari hasil tulisan saya itulah muncul ide-ide baru, baik yang idenya biasa saja atau ide yang upnormal dan mungkin dianggap sedikit sinting. Apapun ide yang muncul, bisa jadi akan menjadi berkah dalam hidup saya. Aamiiin.

Itu adalah beberapa manfaat yang saya dapatkan dari kebiasaan menulis. Mungkin anda mempunyai hikmah dan manfaat lainnya. Saran saya, tuliskan saja seperti saat kita ngobrol dengan teman akrab kita. Semakin sering kita berlatih menulis, makin mahir dan mengalir pula cara komunikasi kita.

Okesip, sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya. Semoga bermanfaat,

@EvaZahraa

1 thought on “Belajar Untuk Menulis, Menulis Untuk Belajar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *