Life

Berburu Kelinci

Langit masih gelap, matahari belum menampakkan diri. Saya masih berusaha mengumpulkan “nyawa-nyawa” saya supaya lengkap ngumpul sembilan. Eh memangnya kucing, yang mitosnya punya 9 “nyawa” πŸ˜€ Menggunakan keheningan yang ada untuk mereview ulang perjalanan hidup yang sudah saya lalui.

Sejenak saya membiarkan monyet-monyet pikiran saya berayun-ayun di sulur-sulur ingatan ke masa lalu, meniti pelangi ke masa depan, lalu meluncur ke saat ini, untuk kemudian berlari-lari lagi kesana kemari. Kemudian… ting tung.. terdengar suara notif di hp saya, ternyata ada pesan dari seorang sahabat yang mengingatkan, jika blog saya sudah 2 minggu tidak ada update tulisan baru. Barulah monyet-monyet pikiran itu mau berhenti dan duduk manis hehehe….

Saya meraih laptop, membuka beranda blog.. Woh, iya.. sudah lama ternyata saya tidak publish artikel, dua minggu ini isinya lebih banyak draft artikel. Ada yang setengah matang, seperempat matang, ada yang kurang bumbu, ada yang baru judul saja, bahkan ada yang sudah basi tema nya ckckck πŸ˜€ #BongkarBongkarFile

Yak, waktunya untuk mengambil sapu dan lap, lalu mulai membersihkan sarang laba-laba yang mulai menghuni blog saya ini. Ini sebenarnya artikel apa sih kok malah berasa curhat hihihi…

Sebulan ini saya seperti seorang pemburu yang sedang berburu kellinci yang berlarian kesana kemari. Kelinci-kelinci berupa target usaha bimbel, target mengajar, target menambah ilmu, beberapa proyek freelance yang dikerjakan bergantian. Target hidup mah tak usah ditanyakan, buanyaaaak keinginan yang dalam proses diwujudkan dan mengambil porsi terbesar dalam pikiran.

Satu persatu target selesai dikerjakan dan kelelahan mulai terasa. Berpindah-pindah dari satu target ke target lainnya ternyata tidak efektif dan justru menghabiskan lebih banyak energi. Akhirnya buyar fokus dan mengalamiΒ  kelelahan pikiran dan fisik yang luarbiasa. Beberapa target tak tercapai maksimal, beberapa bahkan hanya sekedar tulisan tanpa wujud hasilnya. Lelah yang bermuara di keinginan untuk traveling lagi kemana-mana. Ransel mana ransel… #HayatiButuhPiknik hihihi…

Begitulah resiko berburu kelinci tapi lupa menentukan kelinci mana yang jadi target utama dan diuber sampai dapat πŸ˜€ Tandai dulu kelincinya, lalu fokusin kesan lalu uber dengan penuh semangat dan riang gembira.. #Halah

Sepertinya memang harus mulai memanage ulang waktu dan jadwal aktifitas. Menentukan prioritas mana yang harus dimaksimalkan dan mana yang harus dikurangi.

Sudah hampir separuh tahun 2016 dilalui, bulan Ramadhan pun tinggal beberapa minggu lagi. Waktunya mengkondisikan diri untuk membersihkan hati, pikiran, perasaan dengan rutinitas yang memberdayakan. Yang mana dulu yang ingin diseriusi (cieee diseriusi..).

Yuk maree mulai menulis list yang akan dilakukan seminggu kedepan, sebulan ke depan, setahun kedepan dan seterusnya. Eh bukan ini juga yang terpenting.. List hanyalah sekedar list, action-konsistensi-disiplin diri ini yang perlu dibenahi sebelumnya.

Ok, cukup dah pemanasan senam jempol pagi ini… πŸ˜€
Terimakasih sudah rela membaca curhatan saya pagi ini hihihi…

 

Regards,

Eva Zahra

8 thoughts on “Berburu Kelinci

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *