Lesson in Life

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Pepatah diatas pasti sudah sering kita dengar sejak kita masih berada di tingkat sekolah dasar. Biasanya pada pelajaran Bahasa Indonesia, pepatah ini menjadi materi wajib untuk disebutkan. Mindset kita diarahkan pada pendapat bahwa kemudahan itu hadir setelah kesulitan berlalu. Saya pun sekian lama menyetujui pendapat ini.

Hingga tiba saat tadi malam, ketika guru saya memberikan tausiyah tentang begitu dekatnya pertolongan Allah dalam sebuah grup online. Beliau mengingatkan kami, bahwa dalam Al Qur’an dituliskan “Inna ma’al ushri yusro” yang artinya “Bersama kesulitan ada kemudahan“. Lihatlah kalimat itu, menggunakan kata “bersama” bukan kata “setelah”. Kemudahan itu hadir bersama dengan kesulitan. Bukan hadir setelah kesulitan.

Saat bertemu dengan kesulitan,  seringkali kita terpaku pada pintu-pintu yang tertutup hingga lupa memperhatikan jendela-jendela yang terbuka. Fokus kita hanya pada masalah yang ada, hingga terlupa untuk sejenak melihat bahwa disana Allah bukakan kesempatan baru seluas-luasnya.

Teringat pada pengalaman masa kecil, saat kakek saya mengajarkan bahwa obat dari sengatan binatang berbisa sebenarnya ada pada binatang itu sendiri. Waktu itu yang dijadikan contoh adalah binatang yang kami kenal dengan nama “capit”. Wujudnya seperti kalajengking versi mini. Saat itu ada saudara saya yang tersengat binatang itu. Dia meringis kesakitan.

Hal pertama yang dilakukan kakek saya adalah menangkap binatang itu, melumatnya dan menggunakannya sebagai obat yang ditempelkan pada bekas sengatan capit itu. Dan ternyata manjur. Saya tidak tahu tinjauan ilmiahnya seperti apa. Tapi itu contoh yang kakek kami ajarkan waktu itu.

Dari peristiwa itu, mungkin kakek saya ingin mengajarkan sesuatu, bahwa Allah memberikan masalah lengkap dengan solusinya. Dan solusi itu sangat dekat, hadir bersama masalah itu, namun seringkali tak terlihat.

Masalah dan solusi ibarat dua orang tamu yang hadir bersama-sama ke hadapan kita.

Masalah muncul dalam wujud tamu yang berpenampilan menarik, glamour dan sangat haus perhatian. Dia tidak rela bila perhatian kita teralihkan dari dirinya, dia memaksa kita untuk terus terpaku padanya.

Sementara solusi muncul dalam wujud tamu yang berpenampilan sederhana dan pemalu, dia sabar menunggu kita menyadari kehadirannya. Solusi memilih menepi saat kita tak juga mengalihkan perhatian padanya sejenak. Solusi kadang memilih pergi meninggalkan kita saat begitu lama tak jua kita menyadari keberadaannya.

Kabar baiknya, solusi adalah tamu yang rendah hati. Dia akan hadir kembali saat kita sudah menyadari keberadaanya atau bahkan kepergiannya. Solusi akan hadir kembali, saat kita memanggilnya dalam do’a dan ikhtiar kita.

Kembali lagi pada “Inna ma’al ushri yusro”.  Mari gunakan sebagai sarana introspeksi diri saat kita menghadapi sebuah peristiwa yang kita anggap sebagai “kesulitan”. Benarkah itu sebuah kesulitan? Atau mungkin kita yang salah menerjemahkan? Bisa jadi itu adalah kesempatan yang Allah hadirkan, namun pikiran pendek kita salah menafsirkannya sebagai sebuah kesulitan.

Renungan awal malam, untuk saya dan untuk anda semua. Semoga bermanfaat.

Sampai jumpa,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *