Kehidupan

Berteman Dengan Diri Sendiri

Akhir-akhir ini Saya sedang suka berakrab-akrab dengan sahabat terdekat Saya. Dia adalah sosok yang setia menemani Saya kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun. Dia sahabat terbaik Saya, yang terkadang kurang Saya perhatikan perasaan dan kesehatannya. Perkenalkan…. Dia yang luar biasa, yaitu DIRI ini 😀

Terkadang Saya terlalu sibuk fokus pada yang ada di luar diri Saya. Hingga tak memperhatikan bila ada sosok “DIRI” yang menunggu minta diperhatikan juga. Sosok DIRI yang tak pernah menuntut, selalu mendukung Saya sepenuhnya, “nrimo” menjadi orang terakhir yang mendapat perhatian dari Saya. Hingga terkadang Saya baru sadar pada kehadirannya saat DIRI jatuh sakit atau ngedrop kondisinya.

Atas saran beberapa teman baik Saya (tak usahlah Saya sebutkan identitasnya ya, nanti Anda ikutan antri minta nasehatnya :p ) , Saya mulai meluangkan waktu khusus untuk berdialog dan mengenal DIRI lebih dekat lagi. Caranya bukan dengan berdiri di depan cermin dan melakukan monolog lho ya… Kalau seperti itu terus sih, bisa-bisa otak Saya dianggap sedang kurang seperempat ons hihi…

Caranya sederhana, mematikan gadget beberapa jam secara temporer dan sibuk menikmati dunia nyata seutuhnya hanya berdua. Saya dan DIRI Saya. Kadang dengan menuliskan semua uneg-uneg Saya yang kemudian Saya baca ulang seperti membaca tulisan orang lain, bisa juga dengan meluangkan waktu untuk berjalan-jalan santai memperhatikan alam sekitar, bertemu dengan orang baru untuk sekedar ngobrol tatap muka langsung, ataupun melakukan hobby yang Saya sukai tanpa terganggu pekerjaan, alat elektronik dan gadget.

Banyak sekali hal-hal baru yang Saya temukan di dalam proses pengenalan DIRI ini. Menjadi lebih sadar pada apa kebutuhan DIRI ini, apa saja yang menjadi penyebab kekuatiran yang berlebihan dan sadar pada apa yang menjadi cita-cita dan harapan di masa depan, bahkan kadang kaget dengan hasil kalkulasi waktu yang telah Saya gunakan selama ini. Ternyata lebih banyak waktu yang Saya gunakan  untuk bersenang-senang tanpa manfaat. Ternyata yang menyenangkan itu belum tentu penting ya… #MenghelaNafasPanjang 😀

Proses ini menjadi lebih menyenangkan lagi saat dibarengi dengan pendekatan diri pada Allah SWT melalui jalan ibadah, meluangkan waktu lebih lama untuk menikmati ibadah yang Saya jalankan, berusaha memperbaiki cara ibadah Saya dengan bertanya pada sahabat-sahabat dan guru-guru yang Saya percayai, dan belajar mengosongkan pikiran dari hal-hal yang mengganggu konsentrasi saat menjalankannya.

Ajaibnya, semakin Saya berusaha mengenal DIRI sendiri, kehidupan seperti ikut menyesuaikan dengan proses yang Saya jalani. Pintu-pintu solusi tiba-tiba menjadi lebih mudah ditemukan, mungkin selama ini terhalang oleh kecintaan yang berlebihan pada dunia dan hal-hal menarik di dalamnya.

Keseimbangan waktu, itulah yang ternyata Saya perlukan. Menyeimbangkan waktu untuk mengakrabi hal-hal di luar DIRI dan di dalam DIRI.

Renungan siang hari, semoga bermanfaat ^^

Salam kalem,

@EvaZahraa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *