Personal Life

Buanglah Galau Pada Tempatnya !

Judulnya kok mirip-mirip dengan pesan himbauan kebersihan ya? šŸ˜€ Yah begitulaah. Ide menulis artikel kadang datang dari tempat-tempat yang tak terduga hehe…

Sambil menunggu waktu shubuh, jadi ingin curcol tentang tentang galau. Sebenarnya “galau” bukanlah hal baru, hanya saja istilah itu baru booming akhir-akhir ini. Terutama di dunia social media yang memang luarbiasa kecepatannya dalam menyebarkan sebuah istilah baru.

Supaya lebih nyaman, paling enak memang menggunakan diri sendiri sebagai sasaran evaluasi šŸ˜€ Bebas dari resiko demonstrasi dari pihak-pihak yang terdzolimi.. #halah

Siapa sih yang tidak pernah galau? Semua orang pasti pernah berada di situasi dimana banyak hal yang memenuhi pikiran dan perasaan, baik itu rasa sedih, rasa kuatir, rasa marah, rasa bingung dan berbagai perasaan yang sukar untuk di jelaskan maknanya. Kesimpulannya “Galau” adalah suatu perasaan yang tak terdefinisi yang tak kalah aneh dengan UFO/aliens šŸ˜€

Begitupula yang terjadi pada Saya. Walaupun Saya komunikatif dalam berbicara. Namun dalam mengungkapkan rasa galau seringkali macet sampai di pikiran saja. Sukar untuk diungkapkan.

Banyak orang dengan mudahnya menuliskan kegalauannya di facebook, bbm, path, Twitter, dan jejaring sosial yang ada. Namun bagi Saya butuh perjuangan keras untuk melakukannya. Bahkan saat sudah berhasil menuliskan tweet galau #halahlebay :pĀ  kadang-kadang akhirnya Saya hapus lagi tweetnya setelah beberapa saat hehehe. *malu

Sebagian teman mengatakan itu pertanda Saya sukar mempercayai orang lain.Ā  Hmmm… bisa jadi…bisa jadi. Namun bagi Saya, galau tidak harus diberitahukan ke semua orang. Galau berat adalah pertanda Allah sedang rindu pada Saya. Menunggu Saya untuk segera curhat kepadaNya.

Untuk kegalauan yang ringan dan menurut Saya tidak terlalu pribadi, Saya masih bisa bercerita pada sahabat-sahabat yang bisa dipercaya akan sifat amanahnya. Untuk taraf galau yang lain, Saya lebih suka menuliskannya dalam lembar-lembar kertas yang Saya simpan, ataupun mengadukannya pada DIA Sang Pemilik Hidup Saya. DIA Sang Maha Membolak-balikkan hati, Maha Kuasa merubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Setiap orang punya hak untuk memilih tindakannya masing-masing. Kebutuhan manusia akan perhatian orang lain akan terlihat dari perilaku yang ditunjukkannya.

Remaja dalam masa pencarian jatidiri cenderung ekspresif dalam meminta perhatian orang lain. Dan semakin bertambah kedewasaan seseorang, maka akan berbeda lagi cara mengungkapkannya.

Buanglah galau pada tempat yang tepat. Carilah orang yang tepat dan amanah untuk tempat curhat. Dan bila masih macet juga curhatnya, masih ada sajadah untuk tempat Kita bersujud, meletakkan kening Kita, merendahkan diri dihadapanNYA, mencurahkan semua kegalauan yang Kita rasakan. Bebas menangis dan bercerita tanpa kuatir tak berbalas dengan rasa tenang dan damai. Karena Kita sudah menitipkan dan memasrahkannya di tempat yang tepat.

Renungan menjelang shubuh… Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *