Bumi Langit

bumi langit

Bumi Langit, nama yang bisa dilekatkan ke berbagai hal. Saat pertama kali mendengarnya, saya pikir ini judul sebuah novel hehe… Sepertinya saya kebanyakan baca novelnya Tere Liye ckckck…

Kali kedua, nama Bumi Langit melintas di timeline facebook saya. Ternyata ini adalah nama sebuah warung kuliner organik di daerah Mangunan, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mulai deh saya kepoin dan browsing tentang warung Bumi Langit ini. Ketemulah website resmi dari tempat ini. Makin besar saja keinginan saya mengunjunginya. Relatif dekat dengan Kota Yogyakarta, daerah Mangunan, Imogiri, Bantul, butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan kendaraan.

Ah jadi teringat pada perjalanan saya bersama teman-teman D’traveler 2 tahun yang lalu saat melintasi daerah ini. Waktu itu saya  eksplorasi obyek wisata di daerah Mangunan, traveling bersama beberapa sahabat saya ke Hutan Pinus dan Puncak Becici , Kebun Buah Mangunan. Sepertinya Bumi Langit masih berada di satu jalur perjalanan, rupanya. Kenapa dulu tidak sadar ada tempat secantik ini ya?

Okebaeklaaah, yuk maree perlu diobati rasa kepo ini…Hari minggu 23 oktober 2016, saya bersama salah seorang sahabat saya, Mbak Opi, mendatangi tempat ini.

Perjalanan dimulai dari kota Yogyakarta, ke arah selatan menuju jalan Imogiri Timur yang terletak pas di seberang Terminal Bis Giwangan, Yogyakarta. Kami meneruskan perjalanan ke arah Bantul, melintasi jalan Imogiri Timur. Langit sudah terlihat sedikit mendung, angin yang berhembus terasa lembab, hujan ada kemungkinan muncul beberapa jam lagi.

Kendaraan kami melintas di depan Pasar Imogiri, terus melaju ke selatan hingga sampai di ujung sebuah persimpangan jalan. Jika teman-teman ambil jalur ke kanan, nantinya akan menemukan obyek wisata Canopy Trail Selopamioro.

Kami mengambil jalur ke arah kiri. Tidak jauh dari ujung persimpangan itu, terdapat obyek wisata religi, yaitu kompleks pemakaman Raja-raja Mataram.

Jalanan mulai menanjak dan berkelak-kelok mendaki bukit. Sepanjang perjalanan, pemandangan indah terpampang di lembah yang ada di sisi kiri jalan. Dari kejauhan terlihat kompleks bangunan berwarna putih, dengan ratusan anak tangga. Ah..ternyata puncak kompleks pemakaman para raja terlihat dari sana.

Beberapa ratus meter kemudian, di sebelah kiri jalan, kami menemukan plang penunjuk arah bertuliskan Bumi Langit.

Bumi-Langit
Bumi-Langit

Terlihat sebuah jalan kecil, lebarnya hanya cukup untuk sebuah mobil, menuju kawasan kompleks bangunan berbentuk Joglo Limasan, rumah khas suku Jawa. Mobil menyusuri jalan kecil itu, dan terlihatlah sebuah papan petunjuk bertuliskan Warung Bumi.

warung-bumi

Mobil bisa diparkir tepat di sebelah berbentuk rumah Joglo, yang difungsikan sebagai restoran, dengan menu makanan tradisional. Mau langsung pesan makanan? Masa sih jauh-jauh sampai ke sini malah tidak menikmati pemandangan alam di sekitarnya?

joglo-bumi-langit

 

Kami pun berjalan-jalan dulu menyusuri jalan setapak di belakang bangunan restoran itu. Hei.. ada dua buah ayunan yang bisa digunakan untuk membebaskan sisi kanak-kanak kami 😀 Di sebelahnya terdapat rumah yang semua bagiannya terbuat dari kayu. Nyaman untuk duduk-duduk melapas lelah.

Tidak jauh dari sana, setelah melewati beberapa puluh anak tangga dari bebatuan, terlihat pula sebuah mushola yang bersih dan cukup besar. Oiya, owner Bumi Langit ini adalah pasangan suami istri muslim. Jadi tidak usah ragu pada kehalalan menu yang disajikan.

mushola-bumi-langit

Jika kita meneruskan langkah untuk menaiki tangga batu menuju ke atas, akan terlihat beberapa rumah yang sepertinya difungsikan untuk penginapan tamu. Hmm… enaknya diterusin apa nggak ya jalan kesana?

Wait, daripada mengganggu privacy tamu-tamu yang mungkin ada disana, kami pilih kembali menuju ke bawah dan menelusuri jalan setapak lainnya, ternyata jalan setapak yang berikutnya ini menuju ke arah kandang sapi hihihi… ada beberapa sapi yang dipelihara disana, berdampingan dengan kebun sayur dan kebun lainnya.

Hati-hati dengan pagar kawat yang ada di kandang sapi itu, ada tulisan “Awas Listrik”. Sempat membuat saya tergoda iseng mencobanya untuk ngecharge gadget yang baterainya sudah berteriak minta diinfus 😀 Tapi jangan deh… iseng yang berbahaya…

bumi-langit-premakultur

Kruk..kruk..kruk.. suara perut riuh minta perhatian, pasti sudah jam makan siang. Setelah memberi salam pada sapi-sapi di sana… #halah 😀 Kami berbalik arah menuju ke restoran, melalui jalan setapak, yang melewati sebuah bangunan rumah dengan halaman rumput luas terbentang. Pohon-pohon Trembesi tinggi menjulang, dengan dahan-dahan dan dedaunan yang rindang.

Kami mampir sejenak sekedar duduk-duduk disana, sejuk dan tenang suasananya, merasakan gesekan rerumputan di tangan dan kaki kami, berlama-lama menikmati suasana ini.

bumi-langit-view

grass-beneath-my-feet

Rasa lapar mensabotase keinginan untuk berguling-guling menikmati rerumputan. Kami meneruskan langkah menuju restoran yang ada. Pemandangan dari restoran ini sebenarnya akan lebih indah bila cuaca cerah. Hari ini mendung menghalangi warna biru langit siang itu.

bumi-langit-resto-view

Bumi-Langit-panorama

Selain menyediakan menu masakan tradisional, restoran ini juga menjual produk organik seperti madu, sabun natural, masker kefir, mie organik, keripik mentah dari bahan-bahan organik dan lain sebagainya.

bumi-langit-organik-market

Daftar menu makanan pun datang diantar. Aih…sedap betul pilihan menu makanan di restoran ini, bahan organik dan halal dengan cita rasa tradisional yang lezat.

menu-bumi-langit

Tak perlu menunggu lama hingga pesanan makanan kami datang. Pisang goreng kayu manis bertabur gula alami, semangkuk Mie Lethek khas daerah Bantul, Nasi Campur menu andalan warung ini, berikut es markisa dan es teh menjadi pilihan menu makan siang kami.

menu-bumi-langit

Perjalanan wisata kulinerpun berakhir setamat riwayat makanan yang ada di hadapan kami. Amblas semua berpindah ke perut kecil dengan kapasitas maksimal ini 😀

Sudah..sudah.. dielap dulu air liurnya, teman-teman 😀 Mending segera nyusul kesini saja, wisata kuliner dan menikmati suasana tenang dan damai ala pedesaan.

Sampai ketemu ya…

Regards,

Eva Zahra

Author: evazahra

Entrepreneur | Travel Writer Wannabe ^^

2 thoughts on “Bumi Langit”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *