Life

Cinta Itu Bernama Passion

do-what-you-loveSaya tidak ingat sejak kapan passion mengajar itu mulai menguat dan sulit untuk dibendung lagi. Yang saya ingat adalah sejak masa sekolah dulu, sudah banyak teman saya yang datang untuk minta tolong untuk diajari mengerjakan materi pelajaran sekolah. Saya saat itu menikmati prosesnya. Kebahagiaan dan kepuasan saya waktu itu adalah saat melihat orang yang saya ajari menjadi lebih paham dan menemukan solusi.

Sayangnya saya saat itu tidak menyadari dan tidak menganggapnya sebagai sebuah bakat yang patut diseriusi 😀

Saya memilih untuk melanjutkan pendidikan dengan kuliah di Fakultas Teknik di sebuah Universitas Negeri ternama di kota Jogjakarta. Alasannya karena saya merasa mampu di bidang itu (bercampur sedikit gengsi pula sebenarnya). Mulailah saya melupakan bakat saya yang satu ini dan berjuang untuk menyamakan diri dengan kemampuan teknis dari teman-teman kuliah saya. Menjalani hari-hari dengan perjuangan mensejajarkan kemampuan dengan teman-teman saya. Sempat terbersit sebuah tanya, mengapa sepertinya mereka begitu mudah memahami materi teknik yang ada. Sementara saya harus berjuang ekstra untuk sekedar mengejar level rata-rata.

Selepas kuliah pun saya tidak menemukan kenyamanan saat bekerja di bidang yang sesuai dengan basis pendidikan saya. Cara saya mengurangi rasa stres adalah dengan bertemu banyak orang, traveling dan (lagi-lagi) mengajarkan sesuatu pada orang lain.

Masih juga saat itu saya belum sadar pada kekuatan saya sebenarnya. Masih juga saya bertahan untuk membuktikan kemampuan diri saya di bidang teknik.

Hingga akhirnya Allah membelokkan perjalanan hidup saya dengan kecebur di dunia mengajar les privat untuk mengisi waktu luang saya dan mendapatkan tambahan penghasilan. Semakin lama dijalani, semakin jatuh cinta saya pada dunia pendidikan dan psikologi perkembangan.

Terlebih lagi saat saya mulai tergerak untuk menjadi seorang entrepreneur yang fokus membangun usaha di bidang pendidikan. Saya mendirikan sebuah Lembaga Bimbingan Belajar dan mulai menarik orang lain untuk bergabung menjadi tim pengajar di usaha saya tersebut. Waktu pun terasa cepat berlalu, lelah dan rintangan tak lagi dirasakan sebagai sebuah hambatan untuk menebar manfaat dan berkarya nyata di bidang pendidikan.

Flashback kembali perjalanan jatuh bangun usaha saya. Berawal dari sebuah rumah kecil milik kakak saya yang dipinjamkan untuk memulai usaha saya. Di tengah kompleks perumahan yang asing bagi saya. Memulai lembaran baru dengan menawarkan jasa mengajar privat di rumah.

Be Smart Generasi 1Setahun berlalu, saya pun mulai memberanikan diri untuk menyewa sebuah rumah sederhana yang khusus untuk saya gunakan sebagai lokasi bimbingan belajar. Sehingga irama kehidupan saya mulai teratur antara sebagai ruang pribadi dan ruang usaha. Ruang usaha ini terdiri dari 4 kamar yang bisa digunakan sebagai ruang kelas.

Be Smart Basecamp 1Be Smart Basecamp 1Suasana yang terbangun tidaklah formal seperti di sekolah atau lembaga bimbingan lain. Karena saya ingin membuat ruang usaha ini senyaman mungkin untuk belajar dan berekspresi. Terkadang di luar waktu belajarpun ada siswa-siswa yang mampir hanya untuk bermain dan refreshing 😀

Saya menggunakan pendekatan Multiple Intelligent. Bahwa semua orang sudah dibekali kecerdasan masing-masing. Tidak sama antara satu sama lain, sehingga tak seharusnya sebuah sistem pendidikan menggunakan cara yang sama untuk memperlakukan murid-muridnya.

Beberapa lama kemudian, saya kembali melebarkan usaha dengan menyewa 1 tempat lagi karena sudah tak cukup tempatnya. Dengan jumlah tim pengajar 10 orang dan murid yang hampir mencapai 200 orang. Sebuah keputusan yang sedikit gegabah saya ambil. Termasuk menginvestasikan dana untuk membeli perlengkapan usaha tanpa melalui survey tentang kebutuhan customer.

Be Smart Basecamp 2Be Smart Basecamp 2

Mungkin terlihat lancar ya, padahal banyak riak-riak yang menghantam dan menjadi hambatan dalam menjalankan usaha ini. Diantaranya ilmu manajemen bisnis yang minim, ilmu manajemen keuangan yang kurang ok, pengendalian emosi diri yang belum matang, hingga ilmu komunikasi yang masih mentah. Semua itu diuji saat menjalankan sebuah usaha dengan sekian banyak hal kompleks di dalamnya.

Musuh terbesar kita adalah diri sendiri, saat kita mulai berubah fokus dari kebahagiaan memberi manfaat lebih luas menuju hasrat untuk cepat mendapatkan keuntungan materi. Disinilah badai akan datang untuk mengingatkan diri ini akan niat awal dan visi jangka panjang.

Desember 2013, Lembaga Bimbingan Belajar ini resmi berhenti beroperasi. 🙂

Apakah saya kehilangan passion saya?

Awalnya seperti iya. Saya melanjutkan kehidupan saya dengan bergabung menjadi seorang konsultan teknik di Jogjakarta. Memenuhi tahun 2014 dengan kegiatan untuk melupakan passion saya di dunia pendidikan dan psikologi perkembangan. Mengisi jeda-jeda waktu dengan sebanyak mungkin mengikuti training dan workshop bisnis dan pengembangan diri.

Semakin saya berlari untuk meninggalkan dunia pendidikan ini, justru makin kuat kerinduan saya untuk kembali fokus ke bidang ini. Hingga akhirnya saya sadar, bila memang passion, bakat dan kekuatanan utama saya ada di bidang ini.

September 2015…
Welcome Mahardhika Learning Centre.
Sebuah proyek baru saya di bidang pendidikan. Saat ini masih mulai menapaki jalannya. Dengan visi baru Mewujudkan Generasi Cerdas dan Fokus.

Next time, akan saya lanjutkan kisah ini dengan beragam manfaat yang bisa dibagikan.

14 thoughts on “Cinta Itu Bernama Passion

    1. Ini mbak Handini yang kita ketemu di semarang itu kan ya? Masyaallah bisa ketemu lagi disini 😀 Terimakasih ya do’anya. Mbak Handini juga, semoga makin berlimpah ketenangan dan berkah bersama keluarga. Aamiiin

    1. Emaaa… jadi ingat pas nangis-nangis dilema sebelum nutup bimbel dulu hihihi… ga terasa ya Ema udah akhir masa kuliah. Beruntung Mbak Eva bertemu dan bekerja sama dengan Ema. Sukses terus ya Ma, I’m so proud of you :*

    1. Sami-sami mbak, njenengan termasuk yang menjadi saksi awal perjuanganku di usahaku hehehe… matursuwun ya sudah menjadi tetanggaku yang baik banget 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *