Personal Life

Content dan Context

Sambil menikmati udara sejuk di sini…dan menikmati hari keempat lepas dari Android hehe…. Android kesayangan Saya rusak. Dan Saya hanya mengandalkan komunikasi bbm dan sms saja, karena aplikasi lain (whatsapp, email, LINE)Ā  terbiasa menggunakan Android

Hari pertama tanpa Android (Sabtu), rasanya aneh..sedikit uring-uringan karena seperti terasing dari komunikasi dengan relasi dan teman-teman. Jadi sering BBM ke sahabat hanya untuk bertanya, “Ada kabar apa di grup LINE dan WA?” hehehe….. Untunglah ada media lain untuk menyalurkan hobby Saya untuk sharing sedikit ilmu yang mampir ke kepala Saya. Semisal Blog dan email via laptop #asiiik2…

Hari kedua mulai terbiasa tanpa Android, mulai menyibukkan diri di dunia nyata, lebih banyak mengamati hal-hal yang terjadi di sekeliling saya. Ternyata seru juga istirahat dari riuhnya suara gadget dan social media haha.. Waktu terasa lebih lambat berjalan, pikiran jadi lebih fresh dan fokus dalam memikirkan kehidupan nyata #eaaaaa

Hari ketiga, bangun pagi lebih seger…. sempat menikmati celoteh burung kenari di samping rumah, bisa mengamati semilir angin, suara gemericik air di kolam, kecipak suara ikan yang berenang, tanpa terpecah konsentrasi dengan jari yang sibuk menari di layar gadget šŸ˜€

Jadi teringat dengan training #EduNLP yang beberapa hari yang lalu Saya ikuti. Trainer NLP waktu itu, Mas Surya, mengajarkan ilmu tentang merubah content dan context dari masalah yang Kita temui dalam hidup Kita.Tujuannya agar Kita lebih positif dalam memandang kehidupan ini.

CONTENT adalah kenyataan dari sebuah masalah, dan ini tergantung pada asumsi dan sudut pandang yang kita gunakan, Karena sebenarnya, MASALAH ADALAH SESUATU YANG NETRAL. Diri inilah yang memberi label baik buruk sebuah keadaan. Sementara CONTEXT adalah frame/bingkai/wawasan yang kita gunakan dalam memandang sebuah masalah… Makin besar dan luas frame yang Kita gunakan dalam menilai dan menyelesaikan sebuah masalah, makin banyak pula alternatif penyelesaian masalah tersebut.

Android rusak adalah MASALAHnya… Saya bisa memilih CONTENT dari peristiwa ini.
Pilihan pertama : Saya anggap sebagai musibah dan ngomel menyalahkan keadaan.
Pilihan kedua : Saya anggap sebagai ilmu baru bahwa Saya juga harus belajar memahamiĀ  karakter gadget yang Saya gunakan. Mesin pun punya ketahanan maksimal.
Dan Saya mengambil pilihan kedua. Sehingga Saya lebih positif menilai keadaan yang terjadi.

CONTEXT dari masalah ini, Saya perluas frame yang Saya gunakan untuk menilai hal ini.|
Frame sebelumnya : Android rusak, kegiatan terhambat, harus beli gadget baru, dan mengurangi isi tabungan.
Frame yang diperluas : Android rusak, jadi dapat kesempatan untuk refreshing dan mengambil jeda sejenak untuk fokus memikirkan rencana kehidupan Saya. Daripada beli, lebih baik menghubungi saudara-saudara yang bisa meminjamkan gadget yang tak terpakai.

Dan taraaaaaaaa……. akhirnya Saya dapat pinjaman BlackBerry dari saudara Saya yang justru jauh lebih bagus dari BB yang Saya punya huehehehehehe……

Hikmah yang Saya ambil dari kejadian ini adalah:

Tetaplah berbaik sangka pada apapun yang Allah berikan dalam hidup Kita. Kita berkuasa atas pikiran Kita, hal yang kelihatannya buruk pun dapat Kita ubah menjadi hal yang lebih baik dan memberdayakan. Dan hasil dari pikiran positif itu, akan menarik hal-hal positif dalam hidup ini.

Semoga dapat diambil hikmah dan manfaatnya….

 

Salam Hangat,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *