Minimalism

Tips Hidup Minimalis : Decluttering Adalah Seni Mengikhlaskan

Hello… masih membahas tentang tips hidup minimalis. Salah satu tips yang seru dan menarik untuk untuk dilakukan adalah Decluttering.

Ada yang pernah mengalami kejadian seperti yang ada di bawah ini kah?

Menyimpan baju yang sudah sesak tidak muat untuk badan. “Nanti juga bakal kepakai lagi kalau badanku sudah kembali ke ukuran semula”. Lalu kita khilaf mulu beli baju baru hihihi… Dan baju lama itu tak jua mendapat kesempatan untuk kita kenakan lagi.

Mempertahankan barang-barang penuh kenangan. Terutama hadiah pemberian dari teman dekat. Disimpan terus, yang terkadang hanya membuat kita gagal move on setiap kali menatapnya. #uhuk

Mengumpulkan majalah-majalah yang menarik isinya, misal majalah full resep masakan atau desain interior. “Suatu saat nanti aku pengen praktekin tips yang ada di majalah itu”. Tahun demi tahun pun berlalu dan majalah itu tetap setia menunggu kita untuk mengingat janji yang dulu 😀

Membeli pernak-pernik saat traveling, “Lucu banget nih buat dipajang di rumah”. Waktupun terus bergulir menyisakan gerombolan pernak-pernik yang menumpuk dan bingung mau ditaruh dimana.

Sebagai orang yang sangat gemar membaca buku, ada budget khusus untuk membeli “makanan pikiran” ini. Pola beli-baca-simpan terus berulang, rak buku pun beranak pinak, cepat sekali terisi dengan deretan penghuni yang memikat hati. Hingga sebagian besar semakin jarang tersentuh ulang, untuk dibaca lagi.

Bagaimana? Ada yang mengalami hal yang sama dengan saya? 😀 Selamat… anda punya banyak teman yang punya pengalaman yang sama…

Tips Hidup Minimalis dengan Decluttering

tips hidup minimalis decluttering adalah seni mengikhlaskan
source : www.loving-your-health.com

Istilah termudah menurut saya untuk menjelaskan tentang decluttering adalah aktifitas untuk menata ulang dan mengurangi timbunan barang yang kita miliki. Decluttering lebih memfokuskan pada apa saja yang perlu disimpan, dan bagaimana menata ulang benda yang disimpan itu.

Saya amati isi ulang isi kamar dan isi rumah. Scanning saja…. Lalu pilih beberapa barang secara acak, dan mulai mengingat, untuk alasan apa saya menyimpan barang itu. Dan masih kah barang itu memberi manfaat untuk hidup saya saat ini?

Untuk barang-barang kebutuhan primer dan bentuknya relatif besar, sangat mudah saya temukan alasannya. Tapi saat meluaskan pandangan pada benda-benda yang tidak menjadi kebutuhan primer saya. Ternyata alasan utama mengapa menyimpannya lebih banyak karena faktor emosional termasuk didalamnya adalah faktor kenangan.

Beberapa hal yang bisa menjadi target sasaran decluttering adalah:

  • Decluttering pakaian
    Yang ini sudah sering saya lakukan 😀 #bangga Untuk mengendalikannya sekarang saya memakai jurus Buy 1 Give 1, jadi mikir bener sebelum membeli pakaian 😀
  • Decluttering alat make up/kosmetik.
    Ini juga sudah mulai dibiasakan. Tidak ada lagi cerita persediaan alat make up melebihi 1 jenis. Membeli hanya saat stock yang lama sudah habis/kadaluarsa. Mengingat kulit wajah saya yang sensitif dan mudah jerawatan, jadi saya perlu cermat memilih produk make up yang aman. Make up untuk traveling pun lebih baik membawa yang sudah ada, namun dikemas ulang dalam wadah-wadah yang kecil dan efisien.
  • Decluttering perlengkapan mandi / toiletries.
    Sekarang saya membeli perlengkapan mandi seperlunya, membuka toiletries baru hanya saat stock yang ada di toilet sudah benar-benar habis. Dulu, setiap kali mau traveling, saya pasti sibuk membeli toiletries yang baru. Sekarang selain mengandalkan toiletries yang disediakan pihak hotel/penginapan, saya juga menyiapkan wadah-wadah kecil untuk mengemas ulang toiletries yang ada di rumah.
  • Decluttering isi pikiran.
    Wah ini… masih butuh waktu yang cukup panjang. Sudah beberapa kali saya angkat jadi artikel di blog ini, tapi kok ya masih sering muncul menjadi PR.
  • Decluttering koleksi buku.
    Hiks… ini adalah proses yang menimbulkan dilema bagi saya. Sekian lama terbiasa menyimpan koleksi buku yang saya beli atau saya dapatkan sebagai hadiah dari teman baik saya. Rasa posesif pasti ada, apalagi jika dibumbui dengan sedikit drama dan emosi mempertahankan kenangan yang ada #halah.

Decluttering Koleksi Buku

tips hidup minimalis decluttering buku

Sekian tahun yang lalu, saya punya impian, memiliki sebuah perpustakaan pribadi di rumah yang terbuka juga untuk siapapun yang gemar membaca. Tahun demi tahun tumpukan koleksi buku saya semakin menggunung. Rak dan lemari buku satu persatu penuh dengan isi koleksi buku.

Ya, saya bisa dibilang sangat gemar membaca buku dari berbagai macam genre dan jenis ilmu. Mungkin karena sejak kecil saya terbiasa melihat bapak dan ibu saya mengisi waktu pagi selepas subuh dengan membaca buku. Kebiasaan itu akhirnya menular pada anak-anak beliau, ada yang aneh kalau dalam sehari tidak memegang dan membaca buku walaupun hanya beberapa lembar yang dibaca.

Kegiatan usaha saya di bidang lembaga bimbingan belajar semakin memperbesar ketertarikan saya untuk membeli dan mengoleksi buku. Sebagian buku yang saya beli itu memang mendesak dan penting untuk digunakan. Sebagian dibeli agar bisa dipinjam siswa-siswa yang tidak mampu membeli buku paket. Namun, sebagian besar justru dibeli berdasar alasan “Suatu saat pasti terpakai”. Ternyata perubahan kurikulum pendidikan di negeri ini membuat sebagian buku-buku itu menjadi jarang terpakai dan semakin menumpuk di kantor.

Lalu saya berpikir, berapa banyak ya pohon yang ditebang demi membuat kertas yang menjadi bahan baku buku-buku ini? Yang ujung-ujungnya nanti ganti buku lagi karena kurikulum yang nggak jelas. Dan kertas-kertas ini nantinya hanya menjadi kertas pembungkus dan berakhir di tempat sampah. Mengapa tidak mulai berpikir ke arah paperless saja. Toh jaringan internet sudah sangat memungkinkan untuk mengakses bahan-bahan materi pelajaran. Tanpa perlu kuatir pada perubahan kurikulum yang ada.

decluttering untuk hidup minimalis

Sejak itulah saya mulai melakukan decluttering buku-buku pelajaran yang sudah tidak terpakai,. Sebagian disumbangkan pada pihak yang membutuhkaan. Sebagian buku yang sudah dalam kondisi tidak layak, saya jual pada para pedagang buku bekas.

Berlanjut koleksi buku pribadi. Muncul tantangan yang lebih besar, karena berkaitan dengan buku-buku kesayangan yang dibeli karena ketertarikan saya pada isi buku ini. Rasa pelit mulai muncul. Hingga suatu ketika terjadi peristiwa rusaknya sebagian buku koleksi karena pengaruh kelembaban ruangan. Ini membuat saya berpikir ulang tentang konsep mengoleksi buku.

Buku itu intinya ada di dalam isinya dan kebermanfaatannya. Semakin banyak orang yang mendapatkan manfaatnya, semakin besar berkah buku itu. Mulai lah saya menjadikan sebagian buku-buku kesayangan saya ini sebagai hadiah untuk teman-teman baik saya. Saya sesuaikan isi buku yang saya hadiahkan dengan karakter dan kebutuhan teman-teman saya. Yang tetap saya simpan adalah buku-buku yang masih sering saya baca karena saya membutuhkan isinya.

tips hidup minimalis

Impian memiliki perpustakaan yang terbuka untuk umumpun ternyata tidak harus saya wujudkan sendiri. Saya belum memiliki kemampuan dan keluangan waktu untuk mengelolanya, tapi ternyata diluar sana banyak sekali teman-teman baru saya yang sudah memulai mewujudkan perpustakaan umum dengan modal buku seadanya. Mengapa tidak kolaborasi saja ya?

Mulailah saya melakukan decluttering buku koleksi dengan tujuan disumbangkan ke taman-taman bacaan dan perpustakaan-perpustakaan masyarakat yang dikelola dengan baik. Saya titipkan sebagian besar buku-buku saya pada mereka. Harapan saya, buku-buku itu akan memberi manfaat lebih bagi orang lain.

Dengan begitu, makin mudahlah saya mengikhlaskan untuk decluttering benda-benda yang saya miliki, karena saya yakin, ada kebermanfaatan yang lebih luas di dalamnya. Hidup juga terasa lebih ringan dengan hanya menyimpan benda-benda secukupnya, sesuai dengan yang saya butuhkan.

Anda mau ikut mencobanya?

Coba deh… dan rasakan bedanya 😀

Regards,

EvaZahra

4 thoughts on “Tips Hidup Minimalis : Decluttering Adalah Seni Mengikhlaskan

  1. nice mba 🙂
    sudah setahun ini saya juga mulai decluttering, & selalu gagal move on tiap berhadapan dengan buku 😀
    masih harus banyak belajar (& mengikhlaskan nih 🙂 )

Leave a Reply to mala Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *