Traveling

D’traveler : Kebun Buah Mangunan

Perjalanan menuju puncak memang berat dan sulit, tapi sesampainya di atas, akan lebih luas pemandangan yang bisa kau lihat.

Helicopter scope adalah istilah yang seringkali dipakai untuk menggambarkan bagaimana luasnya jangkauan pandangan kita saat berada di ketinggian. Awalnya kami tergoda untuk mengulang kembali petualangan ke Kalibiru namun karena terbatasnya waktu tak sebanding dengan banyaknya obyek baru yang membuat kami ingin tahu, maka kami memilih untuk fokus eksplorasi daerah Imogiri Bantul dan sekitarnya.

Melanjutkan kembali kisah petualangan D’traveler keliling obyek wisata di Kabupaten Bantul. Setelah pagi hingga siang menikmati serunya perjalanan mencari arah rute ke Canopy Trail Selopamioro yang bisa dibaca kembali di sini, kami melanjutkan perjalanan ke target buruan wisata kami berikutnya. Dengan mempertimbangkan arah dan waktu, maka kami memutuskan untuk menuju Kebun Buah Mangunan, dimana kabarnya ada tebing tinggi yang digunakan sebagai gardu pandang dengan pemandangan yang fantastis.

Apa yang terlintas di pikiran anda saat mendengar kata Kebun Buah Mangunan? Mungkin ada yang membayangkan suatu perkebunan penuh dengan pohon buah-buahan dan menawarkan aktifitas memetik buah yang sudah masak dari pohonnya langsung. Ternyata……tidak seperti itu 😀 Nama memang membentuk persepsi. Tadinya saya sudah malas saja saat membaca nama obyek wisata yang menurut saya tidak kepo-able (bikin kepo/penasaran dan ingin tahu). Tapi saat saya googling, ternyata menarik sekali foto-foto yang ada. Jadi penasaran. Sebagus itukah? Atau hanya sebatas foto belaka. Ini dia salah satu foto teaser nya:

teaser kebun buah mangunan

Maka dari arah canopy trail Selopamioro kami berbalik kembali ke arah kota bantul, menyusuri rute Imogiri-Dlingo. Jalanan mulai menanjak dan naik turun, sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan indah berupa deretan pepohonan, bukit-bukit yang menghijau sekaligus jurang yang menganga di kanan kiri jalan. Tiba-tiba ada pemandangan unik di sisi kiri jalan, di kejauhan ada sebuah bukit kecil dan kompleks bagunan-bangunan jawa berwarna putih yang luas, dengan anak tangga kecil-kecil yang luarbiasa banyaknya. Terlihat kontras dengan suasana di sekitarnya. Kompleks apakah itu?

Ah iya… kami lupa. Imogiri kan terkenal dengan kompleks makam raja-raja Kerajaan Mataram dan Keluarga keraton Ngayogjakarto Hadiningrat. Mungkin lain waktu kami akan wisata budaya kesana, bukan untuk ziarah, hanya sekedar ingin tahu wujud dan suasana cagar budaya ini.

Jalan yang halus memancing keinginan untuk ngebut, jurang-jurang yang menganga menjadi pengingat atas resiko sebuah tindakan. Berani lengah, wassalam… Sampailah kami di suatu persimpangan, ke kanan adalah  arah kebun buah mangunan, arah kiri menuju hutan pinus dan puncak becici. Obyek wisata Puncak Becici ini yang katanya sih mempunyai spot rumah pohon yang mirip dengan obyek wisata Kalibiru. Masa sih? Let’s see…

Kami berbelok ke arah Kebun Buah Mangunan dulu. Jalan menanjak, tak begitu rata dan sempit, hingga sampailah kami ke lokasi kebun buah Mangunan. Tiketnya hemat bener, cuma 5000 rupiah 😀

tiket kebun buah mangunan

Kami langsung mengambil rute menuju arah parkir gardu pandang. Sepanjang perjalanan terlihat ada kandang penangkaran rusa, rumah kaca tempat pembibitan buah dan pohon buah-buahan yang belum masa nya berbuah. Sayang sekali, jadi tak ada tawaran memetik buah masak dari pohonnya. Jalan menuju lokasi parkir di puncak Mangunan cukup sempit, menanjak, berkelok tajam dengan kondisi seadanya, menjadikan suasana makin seru saja (ini alasan saja untuk menyembunyikan rasa seram hehe…).

tanjakan mangunanNaik-naik ke puncak Mangunan

Dari lokasi parkir di puncak Mangunan, kami masih harus berjalan sekitar 50 meter menuju arah gardu pandang, tak usah kuatir kelaparan, ada banyak warung-warung penjaja makanan dan minuman disana.  Sudah disediakan anak-anak tangga yang lebar dan cukup rapi, mempermudah akses pengunjung menuju tepian tebing.

menuju mangunan

Sampai jugalah saya ke tepian tebing, yang dibatasi oleh pagar dari beton yang dibentuk dengan motif kayu. Wow.. sepertinya ada yang menarik dibawah sana, puluhan meter dibawah sana, ada Sungai Oy0 yang berkelok-kelok tajam dan berwarna-warni permukaannya.  Hmmm menurut buku yang pernah saya baca dulu, tanda-tanda sebuah sungai berusia tua adalah alurnya yang berkelok-kelok tajam laksana ular naga. Wallahu a’lam.

mangunan view 2

mangunan view 6

mangunan view 4

Jpeg

Tiba-tiba teman kami, Agus nyeletuk santai, “Itu kan jembatan gantung Selopamioro yang tadi kita kunjungi. Jadi harusnya kita bisa ya langsung naik aja sampai kesini tanpa harus muter lagi”.

Apaaaaah? Jauh-jauh menempuh perjalanan, ternyata kami disuguhi pemandangan Canopy Trail Selopamioro dari ketinggian huehehe… Wow amazing, kami seperti mengumpulkan puzzle di sepanjang perjalanan ini. Ternyata melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang itu sangat menarik. Apalagi melihat suatu hal dengan metode helicopter scope. Dari ketinggian yang signifikan. Jembatan yang terlihat besar sebelumnya, menjadi terlihat sangat kecil dibandingkan dengan yang lainnya.

Saat itu musim kemarau, air sungai Oyo sedang surut. Sehingga sungai terlihat berwarna-warni sesuai dengan kedalaman air dan endapan yang ada di dasarnya. Bukit-bukitpun tak begitu hijau, sebagian terlihat kecoklatan karena kering.

Best view di Puncak Mangunan adalah pagi hari dan sore hari saat sinar mentari tak terlalu terik. Walaupun saat itu cuaca sangat terik dan panas, tetep saja saya, Dian, Dite, Emi dan Agus beserta Azka dan Pak Eko banyak-banyak mengabadikan momen-momen indah kebersamaan kami. Tetap semangat walau panas menyengat. Mungkin lain waktu harus datang kembali ke sini di sore hari , di penghujung musim penghujan untuk menikmati pemandangan matahari terbenam dan siapa tahu kami menemukan pelangi indah disana.

Karena sudah tiba saat adzan dzuhur, waktunya kami rehat sejenak untuk mendirikan sholat dzuhur, rehat sejenak dari kegiatan duniawi. Kami kembali ke parkiran mobil dan mengarahkan kendaraan kami menuruni puncak menuju lokasi parkir di dekat mushola yang terletak beberapa meter di sebelah barat kandang rusa.

Sambil istirahat dan menormalkan panas badan yang tersengat sinar matahari, kami mempersiapkan diri menuju obyek wisata berikutnya, yaitu Hutan Pinus dan Puncak Becici. Ada apa ya disana? Tak kalah seru pastinya.

Tunggu ya di artikel berikutnya 😀

Regards

@EvaZahraa

8 thoughts on “D’traveler : Kebun Buah Mangunan

  1. Helicopter Scope yaa beda istilah doang. Kalo istilahnya Gus Sabrang, helicopter scope ini adalah jarak pandang. Untuk melihat sesuatu tak cukup hanya mengandalkan sudut pandang. Jarak pandang juga penting. Pribahasa gajah dipelupuk mata tak nampak karena jarak pandangnya tak memungkinkan.

    Jadiii untuk instrospeksi diri, Helicopter Scope ini bisa dipraktekkan.

    Haiisssh ini komentar di blog atau ceramah siik kwkwkw

    Salam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *