Lesson in Life

D’travelers : Let The Journey Begins

Hari masih pagi, matahari masih malu-malu menyapa bumi, cuaca yang berkabut menemani saya pagi ini, 26 September 2015.  Selepas subuh, saya sudah bersiap-siap untuk menuju Jogjakarta. Weekend ini saya akan traveling bersama sahabat-sahabat saya, Dite, Dian, Agus dan Susan.

Berawal dari sebuah artikel yang saya upload di facebook yang link artikelnya ada di sini. Muncul rencana traveling untuk membuktikan sendiri, apakah wujud nyata nya seindah yang ada dalam artikel tersebut. Ada 7 lokasi yang diulas di artikel tersebut. Beberapa sudah pernah kami datangi  beberapa lainnya kurang kami minati karena terlalu mainstream. Kami sepakat untuk mengunjungi Canopy Trail Siluk Imogiri, Kebun Buah Mangunan (Gardu Pandang), Puncak Becici, Museum Kayu Wanagama Wonosari, Jembatan Plunyon di daerah Sleman. Ditambah dengan mengunjungi Desa Teletubbies atau Sentra Wisata Nglepen tempat rumah Dome berada.

Indonesia-Kaya

Rencana Tujuan Wisata D’travelers

Ransel ungu sudah menanti untuk diisi dengan peralatan tempur berwujud gadget berikut amunisi charger, dompet berikut baju-baju ganti. Tak sabar rasa hati ini untuk segera menikmati rencana yang sudah kami sepakati untuk mengisi weekend ini sekaligus menjadi  ajang reuni setelah sekian lama tak bersua di dunia nyata, hanya berkomunikasi via dunia maya. Okay, sepertinya semua persiapan sudah beres, berangkatlah Dora eh…saya menuju lokasi meeting point yang sudah kami sepakati.

Saya menyusuri jalan raya Magelang-Jogjakarta menuju  terminal Jombor yang terletak di batas utara kota Jogjakarta sebagai lokasi meeting point tepat jam 8 nanti. Mengukur jalanan dari Magelang – Blabak – Muntilan – Salam. Hmm… ini masih jam 06.15 pagi, masih cukup waktu untuk bersantai, makan pagi, membeli sedikit bekal dan oleh-oleh untuk sahabat-sahabat yang saya sayangi.

“Kruuuk…kruuk”, perut saya bersuara riuh, meminta perhatian sejenak. Wow, rupanya dia minta diisi. Kebetulan sudah sampai di SPBU Salam, di perbatasan Magelang dan Jogjakarta. Perlahan saya meminggirkan kendaraan saya ke kiri menuju SPBU Salam, dimana pusat oleh-oleh Baledono berada. Saya ingin membeli bakpia isi ubi ungu dan bakpia isi keju sebelum makan pagi di restoran di samping toko.

bakpia-baledonoSentra Oleh-oleh Baledono, Salam, Magelang

Tingtung..tingtung.. suara gadget saya berbunyi. Rupanya notif dari whatsapp grup D’traveler.

“Aku sudah sampai di terminal jombor”, tulis Dite. Apaaaah, ini kan masih jam 7 pagi, bukankah jam 8 meeting time-nya ya? Karena saya menepati jadwal yang disepakati, maka saya memutuskan untuk melanjutkan…..makan pagi 😀

Stock oleh-oleh sudah beres, bekal sudah cukup, makan pagi pun sudah selesai. Saya kembali melanjutkan perjalanan. Menyusuri kembali jalanan dari Salam – Medari – Denggung – dan sampailah saya di Terminal Jombor.

Celingak-celinguk saya mencari dimana Dite berada. Oh itu dia…rupanya sudah menunggu di dekat halte bis transjogja. Pak Eko, driver favorit kami menjadi pencari rute traveling yang handal. Sebagai traveler dengan persentase nyasar yang signifikan, saya membutuhkan driver yang paham rute perjalanan. 😀

15 menit kemudian Susan sampai juga di terminal Jombor. Riuh bertegur sapa, melepas kangen setelah sekian lama tak berjumpa. Berangkatlah mobil putih kami melaju menembus lalulintas kota Jogja ke arah selatan menuju lokasi meeting point berikutnya, di Jalan Imogiri Timur untuk bergabung dengan Dian, Agus dan Azka.

Menelusuri jalanan dalam kota Jogja yang eksotis, berbaur dengan bis, sepeda motor, becak, sepeda onthel dan delman beserta kuda nya. Merasakan kembali waktu yang terasa melambat setiap kali kembali ke kota Jogja yang berirama slooooow motion.  20 menit perjalanan menuju Jalan Imogiri Timur. Pukul 9 pagi team traveling akhirnya lengkap berkumpul untuk memulai perjalanan menuju target pertama, Canopy Trail (jembatan gantung) di daerah Imogiri. Dua buah mobil beriringan, si putih dan si hitam. Menuju arah selatan, berbekal informasi rute yang harus ditempuh menuju arah desa Siluk, Imogiri.

Menurut informasi, jembatan ini dibangun tahun 2004 diatas Sungai Oyo, sebagai penghubung Desa Selopamioro dengan Desa Sriharjo, Imogiri, Kabupaten Bantul. Tujuannya untuk memperpendek jarak antara kedua desa.

Penuh percaya diri Pak Eko memacu mobil putih bagaikan pembalap formula 1, rute naik turun gunung dilahap habis dengan irama yang halus. Pemandangan indah terpapar di sepanjang rute perjalanan. Jurang dan pepohonan silih berganti meminta perhatian kami. Satu jam sudah berlalu… belum sampai juga kami ke lokasi tujuan. Jalanan yang tadinya menanjak, mulai menurun. Perasaan kami mulai ragu. Hingga sampai di sebuah pertigaan kami melihat plank arah “Laut Bekah”. Lho kok malah menuju laut? Jangan-jangan kami tersesat. Berhentilah kami dan turun dari mobil untuk bertanya.

Saat kami bertanya pada pemilik warung di pinggir jalan, Agus dengan kalemnya bertanya,”Kita mau kemana sebenarnya? Jalan menuju Canopy trail sudah lama terlewat, kalian ngebut sekali bawa mobilnya, saya ikuti saja, saya pikir kita berubah rencana”. Haduh…ternyata benar, kami terlewat jauh dari tujuan semula. 😀

Kembali kami menuju arah kota jogja, kali ini mobil hitam yang menjadi pemandunya. 20 menit berselang, mulailah jalan berbelok menuju jalan sempit dan berkelok-kelok. Canopy trail / jembatan Selopamioro ini mulai dikenal traveler karena sering digunakan sebagai lokasi foto pre wedding dan pembuatan iklan. Bagi penduduk asli daerah Selopamioro mungkin ini jembatan biasa, tapi bagi orang-orang diluar daerah, jembatan ini menarik untuk dijadikan obyek wisata.

Jembatan selopamioro

sumber: diasporaiqbal.blogspot.co.id

Akhirnya sampailah kami di Canopy Trail Selopamioro. Parkir seadanya di depan jembatan dan mulai menelusuri jembatan hingga ujung. Jembatan gantung selopamioro hanya selebar 1,5 meter, dengan alas kayu yang disusun berjajar, sepanjang kurang dari 100 meter. Disangga 2 buah tiang pancang berwarna kuning dan berpagar besi. Menggantung 20 meter diatas permukaan sungai Oyo yang saat itu sedang susut airnya akibat musim kemarau. Hanya bisa dilalui orang, sepeda dan sepeda motor. Setiap kali ada sepeda motor atau sepeda onthel yang melintas, pastilah jembatan itu bergoyang-goyang. Cukup menantang bagi mereka yang takut ketinggian. Sambil berfoto ria, sesekali berpegangan besi pembatas pinggir jembatan akibat jembatan yang bergoyang.

Canopy Trail Selopamioro 2

Canopy Trail Selopamioro

sungai oyo

From above

Canopy Trail Selopamioro

Puas menikmati pemandangan dari atas dan bemain di dasar sungai serta mengabadikan moment dan pemandangan yang ada, kami pun berangkat menuju obyek berikutnya. Yaitu Kebun Buah Mangunan. Kabarnya disana ada tebing yang digunakan sebagai gardu pandang ke lembah dan sungai. Katanya sih, ada pemandangan indah disana. Seperti apa?

Nanti ya.. di artikel berikutnya 🙂

Regards

@EvaZahraa

5 thoughts on “D’travelers : Let The Journey Begins

  1. Nah pada intinya aku pengen comment yang di over estimate itu, namun tetapi kolom komentarnya ditutup aaih pedih sekaleee. Lebih daripada itu, mayan nih artikelnya untuk referensi kalo maen ke Ngayogyakarto Hadiningrat. Biar ga cuman maen ke Malioboro sama keraton ajah pas melantjong ke sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *