Traveling

D’travellers: Antara Angkot dan Museum Angkut

17 Desember 2015, 11.00 WIB

“Duh, baterai hp sudah dehidrasi nih… butuh diinfus” gumam saya. Dan keluarlah alat infus hp yang berwujud powerbank 😀

Seandainya saja ada charging corner alias tempat yang khusus menyediakan fasilitas colokan listrik ya… Hehe..ini sih maunya saya saja yang masih mengandalkan gadget untuk mengabadikan momen-momen yang ada 😀

Ya, perjalanan traveling ke obyek wisata di Kota Batu selain butuh stamina yang prima, juga butuh cadangan baterai gadget atau kapasitas power bank yang cukup 😀 Begitu banyak spot yang menggoda untuk di abadikan. Salah seorang sahabat saya bahkan memberi saran untuk memaksimalkan waktu 1 hari dengan mengunjungi 1 – 2 wahana saja.

Bagi saya travelling bukanlah sekedar jalan-jalan biasa, kadang saya hanya menikmati duduk malas dan santai di tempat tujuan. Layaknya seorang Travel Blogger Indonesia yang mengamati suasana yang ada dengan sepenuh kesadaran. Setelah itu saya mengambil foto obyek-obyek yang akan menjadi bahan amunisi pendukung artikel di blog. Perjjalanan traveling ini sudah ada dalam bentuk artikel mulai dari awal keberangkatan.

Mendung mulai terlihat berarak membentuk gumpalan-gumpalan berwarna abu-abu gelap di langit Kota Batu. Cuaca meredup, angin yang berhembus pun sudah terasa dingin dan jenuh dengan titik-titik air. Sepertinya sebentar lagi jutaan tetes air dari langit akan menyerbu bumi hihihi… Memilih waktu travelling di musim hujan memang harus pandai-pandai mempersiapkan diri bila hujan turun kapan saja waktunya.

Dari depan Museum Satwa Jatim Park 2 kami menunggu kereta wisata yang akan membawa kami menuju Jatim Park 1 dan untuk selanjutnya menuju lokasi Museum Angkut. Tinggal tunjukkan aja tiket terusan yang melingkar di tangan, dan berangkat deh naik kereta wisata gratis. Disini terasa sekali nyamannya service yang diberikan pada wisatawan yang menggunakan tiket terusan dan wisatawan yang menginap di hotel yang ada dalam jaringan managemen Jatim Park (Hotel Rumah Pohon Inn dan Pondok Jatim Park). Nih lihat deh peta lokasinya…

map jatim park
“Lho ini kan mbak yang tadi, kan?” tiba-tiba driver kereta wisata menyapa ramah.

“Eh iya, ternyata ini kereta yang sama dengan saat berangkat tadi” kami merespon teguran mas driver sambil tertawa.

“Iya mbak, hanya ada 3 kereta disini, warna putih, hijau dan merah” jawab mas driver itu.

Dari teguran ramah tadi, terpancinglah mas driver untuk bercerita tentang suka duka bekerja di sini. Kami selalu memilih kursi paling depan saat menaiki kereta wisata. Biar lebih cepat sampainya 😀 (Padahal kan sama saja keretanya ya?). Memancing obrolan tentang pengalaman orang lain adalah cara yang menyenangkan untuk mengisi perjalanan. 10 menit kemudian sampailah kami di halte akhir kereta yang terletak di depan wahana Jatim Park 1.

IMG-20151217-WA0004

halte-jatim-park-evazahra.com
Setelah sampai di halte akhir di Jatim Park 1, mas driver itu membantu kami untuk menghubungi pos pelayanan agar kami segera mendapatkan shuttle car yang akan membawa kami dari Jatim Park 1 menuju Museum Angkut. Jadi jangan menyepelekan pengaruh sebuah teguran ramah dan kekuatan senyuman ya 😀 Perlakukan petugas dan pekerja di setiap obyek wisata dengan baik,  mereka adalah seorang profesional yang kita butuhkan bantuannya.

Dari depan halte pengantaran di depan wahana Jatim Park 1, kami dijemput oleh mobil putih yang sudah dimodifikasi sebagai alat transportasi wisata. Karena kami menginap di hotel yang berada di bawah manajemen Jatim Park, maka kami mendapatkan fasilitas antar jemput pulang pergi dari halte/hotel menuju wahana wisata ini.

shuttle-car-evazahra.com

Kami menuju Pasar Apung untuk makan siang dan ibadah siang di musholla yang ada di sana. Pasar Apung adalah pusat kuliner dan souvenir yang berada di sebelah Museum Angkut. Mengapa namanya Pasar Apung? Karena kios-kios dan warung yang ada dibangun diatas lahan serupa danau kecil, ada pula yang berjualan di atas perahu kecil yang merapat di dekat jalan utama. Berbagai menu tradisional ada disini, dengan kemasan unik, harga termasuk normal, dan dijajakan dengan cara yang menarik.

pasar-apung-evazahra.com pasar-apung-museum-angkut-evazahra.com

Setelah dari mushola, saya memilih makan di sebuah restoran berbentuk replika kapal Cheng Ho yang menyajikan menu chinese food halal. Saya memilih makan di lantai 2, sehingga lebih luas pemandangangannya. Dari lantai 2 resto itu, terlihat pemandangan Museum Angkut dari beberapa sisi.

Sebenarnya apa sih Museum Angkut itu? Awalnya dalam bayangan saya, Museum Angkut adalah tempat memajang alat-alat transportasi yang ada di dunia. Tapi saya tak pernah punya bayangan jika cara memajangnya sangatlah unik dan menarik. Begitu sampai di lokasi, sudah terlihat sebuah helicopter, tank militer dan sebuah lokomotif yang dipajang.

brosur-museum-angkut-evazahra.comTernyata ribuan alat transportasi ini dipajang dengan disertai tema cerita. Kita bagaikan berjalan dari satu scene film ke scene film lainnya. Bagai mengunjungi tempat syuting film sekelas dunia.

Siapkan kamera, gadget, batre dan powerbank yang terisi penuh. Karena seharian rasanya tak akan cukup untuk mengeksplorasi tempat wisata ini. Apalagi untuk teman-teman yang hobby fotografi atau hobby selfie. Oiya dilarang membawa makanan masuk ke wahana ini, karena pasti akan disita saat pemerikasaan di pintu masuk. Tapi jangan kuatir, di dalam ada cafe untuk membeli makanan dan minuman dengan harga cukup terjangkau, tak jauh beda dengan harga di luar.

Hulk-Museum-Angkut-evazahra.com
museum-angkut-evazahra.commuseum-angkut-evazahra.com
Zona terbagi atas beberapa jenis kendaraan juga, motor, mobil, pesawat, kapal, alat transportasi tradisional jaman dulu dan lainnya. Terdapat pula cinema yang memutar film tentang sejarah transportasi dunia.

Lelah sudah mendera, maghrib segera menjelang. Kami memutuskan untuk segera pulang ke hotel untuk beristirahat. Kepala saya agak pening dan saya mulai bersin-bersin, mungkin virus flu yang saya bawa dari rumah sedang mulai aktif.

Jalur keluar dari Museum Angkut adalah lorong panjang. Eh kok ada di dinding kanan dan kiri berderet layar LCD yang menayangkan pemandangan laksana kita sedang berdiri di pinggir jendela kereta api. Hei… ternyata memang sengaja dibuat seperti itu 😀 Ada suara kereta api yang berjalan lengkap dengan suara deritan roda kereta api yang beradu dengan relnya. Bahkan lantainya pun dibuat bergoyang-goyang, sehingga kita merasakan sensasi berjalan di atas gerbong kereta api.

Luarbiasa konseptor dan manajemen Museum Angkut ini. Rapi, efisien, dan memaksimalkan semua kemungkinan yang ada.

Tiba di luar, hujan turun dengan lebatnya, kami berlari-lari berteduh sambil menunggu mobil shuttle yang akan mengantar kami kembali ke hotel. Malam ini kami menginap di The Batu Villas and Lounge. Yang hanya berjarak 200 meter dari Museum Angkut. Besok kami akan melanjutkan perjalanan ke Wana Wisata Gunung Banyak. Ada obyek wisata omah kayu dan wisata Paralayang disana. Tunggu ya kelanjutan cerita saya 😀

Regards

@EvaZahraa

4 thoughts on “D’travellers: Antara Angkot dan Museum Angkut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *