Traveling

D’travellers : Escape to Malang

September, 2015.

“Jadi kapan rencana traveling selanjutnya?”, tanya Dite.

“Yuk rencanakan bulan Desember, ke Malang, waktu setelah tanggal 15 Desember”, jawab saya.

Itu adalah percakapan di bulan September lalu, saat saya dan sahabat-sahabat saya menjelajahi wisata alam di daerah Bantul dan Imogiri Jogjakarta. Kisah kami bisa dilihat di sini , di situ , di sana dan di sono. Menutup akhir tahun 2015, Kota Malang dan Kota Batu adalah destinasi pilihan kami sebagai tempat untuk traveling. Kenapa memilih 2 kota ini? Ya karena sudah lama saya mupeng ingin kesana 😀 Kapan lagi mewujudkan mimpi menjadi seorang Travel Blogger Indonesia bila tak dimulai dari sebuah rencana tertarget?

Rencana sudah disepakati, mulailah pikiran terfokus untuk mengumpulkan  info sejak 2 bulan yang lalu. Terbayang pilihan obyek-obyek wisata alam yang akan kami kunjungi. Wait….wisata alam? Yup, kami memang lebih menyukai wisata alam daripada wisata kota dan wisata belanja. Menyegarkan pikiran setelah sehari-hari terfokus pada kegiatan usaha dan menghasilkan karya.

 

Desember, 2015.

“Jadi kapan waktu fix untuk traveling dimulai?”, isi whatsapp dari Dite.

“Antara 15 sampai 20 Desember ini, pilih saja tanggalnya”, balas saya.

“Ok, 16 Desember sampai 18 Desember deal ya”, respon Dite.

Sip… mulailah kegiatan diskusi pemilihan moda transportasi menuju ke Malang, memilih tempat penginapan  budget maksimal yang kami sepakati dan obyek wisata mana saja yang akan kami jelajahi. Semua dilakukan via whatsapp chat, karena Dite berdomisili di Jakarta dan saya tinggal di Kota Magelang Jawa Tengah. Untung ada gadget dan social media yang bisa menghemat jarak dan waktu 😀

Benarlah apa yang dikatakan banyak orang bila fokus pikiran kita akan membuat kita mudah melihat info dan peluang yang ada. Mulailah bermunculan link artikel saat berselancar di internet ataupun colekan mention ataupun tag dari sahabat di social media yang menyarankan destinasi wisata alam. Warbiyasah memang efek domino dari rasa antusias untuk mewujudkan impian 😀

Akhirnya disepakati bila meeting point kami di Stasiun Tugu Jogjakarta, kereta Malioboro Ekspress menjadi pilihan transportasi menuju ke kota Malang PP. Di sana kami akan menghabiskan 2 malam, dengan menginap di Pondok Jatim Park 1 (hari pertama) dan The Batu Villas and Lounge (hari kedua). Time schedule sudah dibuat, rute traveling pun sudah di tulis, termasuk rencana silaturahim untuk berjumpa dengan beberapa sahabat online kami yang tinggal di kota Malang.

Ok… Let’s the journey begin.

 

16 Desember 2015, Jam 04.00 WIB

Diluar langit masih gelap, adzan subuh pun belum terdengar. Saya sudah mulai mempersiapkan diri dan memastikan semua perbekalan sudah beres untuk traveling kali ini sembari menunggu waktu untuk ibadah sholat subuh. Jam 05.00 WIB, selepas sholat subuh dan berpamitan pada bapak dan ibu, saya bertolak menuju Kota Jogjakarta.

Jalanan masih lengang, sudah cukup terang, tapi matahari belum menampakkan sinarnya. Mungkin karena cuaca sedikit mendung, tapi tenang saja, cuaca hati saya tetap hangat dan cerah 😀 Perjalanan ke kota Jogjakarta hanya butuh waktu 1 jam lebih sedikit. Kereta saya akan berangkat pukul 07.30 WIB. Jadi masih cukup lah waktu untuk bersantai menikmati sarapan di kota Jogjakarta pagi itu.

Jam 06.00 WIB saya sudah sampai di perempatan Tugu Jogja. Hmm… kepagian rupanya. Tapi tak apa, jadi ada waktu untuk sarapan bubur ayam dulu sambil menikmati jogja di pagi hari. Di kejauhan tampak Tugu Jogja tersaput kabut. Segera saya selesaikan sarapan saya dan menuju Stasiun Tugu Jogja.

Tugu-Jogja-evazahra.com

Ada 2 arah masuk disana, peron utama ada di sebelah utara menghadap ke jalan Mangkubumi, dan peron selatan menghadap Jalan Pasar Kembang. Saya masuk melalui pintu peron selatan. Dan baru saya sadar, bila di Stasiun Tugu tidak ada jasa penitipan sepeda motor yang dikelola warga sekitar. Yang ada hanya parkir resmi dengan biaya penitipan motor menginap Rp. 16.000/hari. Waduh gawat, saya berencana menitipkan sepeda motor saya selama 3-4 hari. Total bisa jadi Rp. 64.000.

Kembali saya menutar otak. Aha! Ada solusi. Masih ada 1 jam waktu untuk memindahkan sepeda motor saya ke Stasiun Lempuyangan. Disana ada banyak usaha jasa penitipan motor yang aman dan dikelola penduduk setempat. Biayanya hanya Rp. 3000 / sehari semalam. Hemaaat…. Sip… segera saya menuju ke Stasiun Lempuyangan yang hanya berjarak tempuh 15 menit. Beres menitipkan motor, saya naik ojek kembali menuju Stasiun Tugu.

Teman saya sudah gelisah menunggu saya dengan cerita drama parkirnya 😀 Jam 07.05 WIB sampailah saya kembali ke Stasiun Tugu. Menunggu kereta Malioboro Ekspress yang akan membawa kami ke Kota Malang.

stasiun-tugu-evazahra.com

Tak lama kemudian datanglah kereta Api Malioboro Ekspress, kami masuk dan duduk di Gerbong Eksekutif 2 di kursi nomor 7C dan 7D. Tepat pukul 07.30 WIB berangkatlah kereta api Malioboro Ekspress menuju destinasi wisata tujuan kami.

Sebenarnya saya bukan penggemar transportasi kereta api, kecuali saat bepergian beramai-ramai bersama teman-teman atau keluarga. Memang saat ini PT KAI sudah berbenah dengan meningkatkan kualitas pelayanannya. Tiket yang dapat dibeli via online maupun via agen tiket dimana saja, gerbong yang dilengkapi pendingin ruangan, suasana yang steril dari pedagang asongan dan waktu yang cukup bisa diandalkan ketepatannya. Namun bagi saya suasana di dalam kereta terlalu membosankan bila dilakukan untuk perjalanan lebih dari 3 jam. Hmm… saya jadi rindu suara “Nasi bungkus… nasi rames… mijon.. aqua.. kacang… kuaci” yang sering diteriakann para pedagang asongan jaman dulu hehehe…. Kadang mengganggu, tapi seru juga untuk dinikmati keriuhannya.

malioboro-ekspress-evazahra.com

Kereta terus melaju. Saya dan Dite menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang apa saja. 2 jam berlalu, perutpun mulai lapar. Lewatlah mbak petugas restorasi kereta api yang menawarkan pilihan makan pagi. Hanya ada 2 pilihan ternyata, nasi Goreng dan nasi ayam seharga Rp 20.000, minuman ada pilihan kopi atau teh seharga Rp 5000. Cukup untuk mengganjal perut yang kelaparan.

Nasi-goreng-reska-evazahra.com

Waktu terasa lambat berjalan. Perjalanan akan berlangsung kira-kira selama 8 jam. Rasa kantuk mulai menyerang. Kursi-kursi penumpang dalam kereta api ada beberapa yang kosong tak berpenghuni. Lumayan juga bisa digunakan untuk merebahkan diri. Dite pun berpindah ke kursi 9A dan 9B. Saya pun menikmati kelonggaran kursi kami.

Sip…waktunya istirahat, hingga kereta sampai ke Stasiun Kota Baru Malang nanti.

Tunggu ya kelanjutan ceritanya 😀 ada di sini, di sana dan di sono.

Regards

@EvaZahraa

2 thoughts on “D’travellers : Escape to Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *