Lesson in Life

Dua Buah Batu Bata

Sekelompok  pertapa di sebuah bukit yang tenang, tengah sibuk bersama-sama membangun rumah untuk tempat tinggal mereka. Rumah ini nantinya sekaligus akan digunakan sebagai  tempat mereka berbagi ilmu kepada masyarakat luas.

Mereka mengerjakannya dengan tenaga mereka sendiri, tanpa melibatkan tenaga ahli bangunan profesional. Karena latar belakang mereka yang bermacam-macam, maka cara mereka membangun rumah pun hanya mengandalkan teori dan apa yang pernah mereka lihat.

Seorang pertapa mendapatkan bagian menyusun setumpuk batu bata agar menjadi sebuah tembok. Dia mencampurkan semen, pasir, air dan menggunakannya sebagai perekat batu bata yang disusunnya. Satu persatu batu bata berhasil disusun dengan hati-hati. Terkadang sedikit meleyot ke kanan dan ke kiri, dan pertapa inipun berusaha meluruskannya serapi  mungkin. Pertapa ini ingin tembok yang dibangunnya terlihat sempurna.

Saat tembok itu sudah berdiri, pertapa itu terkejut melihat ada dua buah batu bata yang terlihat kurang rapi, tersusun tak beraturan, sehingga tembok yang seharusnya rata dan rapi menjadi terlihat janggal menurut pandangannnya. Pertapa ini ingin memperbaikinya, tapi apa daya semen sudah mengering, dan tak mungkin mengatur ulang susunan batu bata itu lagi. Seharian dia menggerutu, menyesali kedua batu bata itu.

Tibalah waktu peresmian rumah yang mereka bangun dengan gotong royong. Ketua pertapa mengundang banyak tamu dari desa sekitar bukit. Untuk memperkenalkan diri sekaligus mengakrabkan diri dengan penduduk yang berada di sekitar tempat tinggal mereka.

Tamu-tamu sudah berdatangan, dan sang pertapa ini mendapat tugas memandu sekelompok tamu untuk melihat-lihat seluruh bagian bangunan ini sekaligus menjelaskan proses pembangunan dan fungsi masing-masing ruangannya.

Karena malu, sang pertapa selalu menghindari berjalan di sisi bagian tembok yang menurutnya “cacat”. Dia mengajak tamu-tamu nya untuk meninjau bagian lain terlebih dahulu. Namun, akhirnya tetap juga bagian tembok ini harus mereka lewati. Sang pertapa merasa kurang nyaman dan ingin cepat-cepat melewati bagian ini.

Tiba-tiba salah seorang tamu berkata,”Tembok yang indah dan sempurna”.

Sang pertapa refleks merespon,”Tembok itu tidak sempurna, ada dua buah batu bata yang menonjol dan membuat tembok ini terlihat aneh”. Pertapa itu menunjukkan bagian tembok yang menurutnya janggal.

Tamu tersebut menoleh ke arah sang pertapa dengan pandangan heran dan berkata,”Mengapa anda berkata seperti itu? Tembok ini tersusun dari 1000 buah batu bata, 998 diantaranya tersusun dengan rapi, dan  ada dua buah batu bata yang tersusun dengan posisi yang unik”.

“Kedua batu bata ini terlihat istimewa diantara 998 batu bata lainnya, justru itulah yang membuat tembok ini terlihat menarik dan lebih indah untuk dipandang. Tembok ini SEMPURNA”, lanjut tamu itu.

Sang pertapa itu terdiam, dan mulai merenung. Dua hal yang selama ini dia nilai sebagai sebuah kegagalan yang memalukan. Dan sepanjang waktu dia sesali dan terus berusaha disembunyikan. Ternyata bagi orang lain adalah dua hal yang unik dan menakjubkan.

 

Kisah diatas adalah sebuah metafora tentang bagaimana kita memandang diri kita dan orang lain.

Ada 1000 hal yang ada dalam diri kita, dan ada 1000 hal yang ada pada orang lain. Seringkali kita terpaku pada dua hal yang menurut kita buruk dan memalukan. Sehingga kita melupakan 998 hal lain baik lainnya. Kita lebih fokus mengkritisi dua  hal itu sebagai sebuah kegagalan dan ketidak layakan. Padahal orang lain melihatnya sebagai dua hal unik yang membuat sebuah pribadi menjadi istimewa dan sempurna.

Sebuah pengingat untuk diri ini, bahwa Allah sudah menciptakan diri kita dengan sempurna. Tinggal bagaimana kita menjadikan setiap “modal” yang ada dan menjadikannya sebagai sesuatu yang harus disyukuri keberadaannya. Karena dengan adanya hal itu, kita menjadi SEMPURNA.

 

Semoga bermanfaat,

@EvaZahraa

2 thoughts on “Dua Buah Batu Bata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *