Notes

Force Versus Power

“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu nanti jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Dido’akan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”

~ KH. Maimoen Zubair ~

Di sebuah acara training yang saya ikuti, ada sebuah materi yang membahas tentang fenomena FORCE danย  POWER. Sebagian inti pembahasan materinya ada di sini. Sumber pembahasan materi ini diambil dari bukunya David. R. Hawkins, M.D., Ph.D., Power vs Force ; An Anatomy of Conciousness, The Hidden Determination of Human Behaviour.

Menurut penelitiannya Pak David R. Hawkins, pikiran dan emosi manusia itu mempunyai berbagai tingkatan energi. Sebagian dimasukkan ke dalam kelompok getaran FORCE, sebagian lagi dimasukkan ke dalam kelompok getaran POWER.

FORCE adalah getaran pikiran dan emosi yang energinya rendah (lemah), yang termasuk di dalam kelompok FORCE adalah : rasa malu, rasa bersalah, apatis, kesedihan yang mendalam, takut, keinginan, marah, bangga.

POWER adalah getaran pikiran dan emosi yang energinya tinggi (kuat), yang termasuk di dalamnya adalah : berani, pasrah (netral), kemauan, penerimaan/syukur, berpikir, cinta, suka cita, kedamaian dan pencerahan.

Tentu saja ini semua berlaku saat intensitas getaran perasaannya sangat berlebihan dan terjadi dalam jangka waktu yang lama (dirasakan dan dialami dalam secara intens).

Coba perhatikan kedua tabel dibawah ini:

energi-powerenergi-forceSaat kita sedang mengejar target dan kita menggunakan getaran pikiran FORCE, maka konsekuensinya adalah aktifitas kerja fisik kita harus sangat keras. Sehingga bila kita sudah bekerja sangat keras tapi semuanya seperti serba sulit, buru-buru cek, jangan-jangan kita sedang menggunakan FORCE.

Sedangkan jika kita menggunakan getaran pikiran POWER, kerja fisik kita jadi lebih ringan. Kita tetap melakukan usaha dengan aktifitas fisik, namun target yang kita kejar juga akan berlari mendekat ke arah kita. Sehingga tak jarang kita temui kejadian dimana kita justru yang dikejar hasil.

Gimana? Pusing ya nyimak pembahasannya? Kok kayak nggak nyambung sama quote di awal artikel ini hihihi… Baiklah mending saya cerita tentang apa yang saya alami saja ya…

Kegiatan usaha saya adalah di bidang jasa bimbingan dan konsultasi belajar. Nah…. tabel yang ada di atas tadi, sangat membantu saya dalam mengatur dan menyelaraskan diri dalam mengelola usaha saya.

Contohnya : saat saya mengajar dalam kondisi perasaan apatis, sedih, marah atau merasa takut, maka suasana kelas dan murid saya cenderung akan sulit dikontrol.. proses belajar bisa jadi berantakan dan muncul komplain. Jadi getaran perasaan itu tertangkap oleh orang lain dengan jelas. Bahkan bisa menular bila terlalu kuat.

Yang menarik adalah saat saya mengajar dengan keinginan yang kuat untuk membuat mereka pintar, justru tingkat stres saya akan meningkat. Begitupun murid-murid saya, mungkin karena saya jadi terlampau memaksakan hasil agar mereka segera mencapai target prestasi yang diinginkan.

Kadang saya jadi mulai hilang kesabaran, lupa kalau mrngajar itu adalah sebuah kenikmatan. Mulai berkurang rasa ikhlas, berganti aksi merutuk dalam hati “Kok nggak paham-paham sih, kan kemarin sudah saya jelaskan”. Lalu mungkin si murid pun berkata dalam hati “Saya sudah berusaha, mbok ya bu guru sabar kalau ternyata saya belum bisa”. Bila dilanjutkan mungkin akan terjadi perang ilmu kebatinan dan bahasa perasaan hihihi… Begitupun saat saya mengajar dengan perasaan bangga yang berlebihan, over PD, bisa jadi murid-murid saya malah menjadi tidak nyaman dengan cara mengajar model begini.

Namun, ketika saat mengajar saya melakukan afirmasi bila hari ini saya akan bertemu murid-murid yang menyenangkan, fokus pada menikmati kegiatan mengajar dan menjalaninya dengan penuh suka cita maka hari itu menjadi lebih indah. Saat saya melihat murid-murid saya masing-masing sebagai sosok yang istimewa, maka rasa hormat akan hadir di dalam kegiatan belajar yang ada. Apalagi bila disertai rasa ikhlas berbagi ilmu, dan memasrahkan hasilnya pada kuasa Allah, ternyata berbeda jauh hasilnya.

Suasana kelas menjadi seru, penuh dengan diskusi interaktif dan sesekali muncul canda tawa. Murid-murid saya sepanjang waktu les bersikap menyenangkan dan mudah memahami pelajaran yang saya sampaikan. Kadang saya malah jadi nggak ada kerjaan karena mereka asik mengeksplorasi soal latihan dan berusaha mengerjakannya sendiri mihihihi…. Dan waktu berlalu tak terasa, kemudian kerusuhan hadir saat saya harus membujuk mereka untuk menyudahi kegiatan belajar, agar giliran kelas berikutnya bisa segera memulai les nya ๐Ÿ˜€ Meskipun begitu, kadang mereka ini juga belum mau pulang, hanya pindah keluar kelas lalu mencari posisi enak buat gegoleran atau duduk-duduk meneruskan kegiatan belajarnya.

Itu baru satu contoh saat getaran FORCE dan POWER yang diterapkan saat mengajar. Padahal pengaturan getaran pikiran dan emosi ini bisa digunakan di hampir semua kegiatan dan aktifitas kita. Mungkin ada baiknya tabel itu diprint lalu dipajang di ruang kerja, ruang keluarga atau di cermin agar kita ingat untuk mengakses energi POWER.

Emang bisa mengaksesnya?

Bisa dong…. Yaitu saat kita sudah berhasil mengendalikan pikiran kita, fokus di saat ini, tidak mengkuatirkan masa depan, tidak menyesali masa lalu dan berdamai dengan diri sendiri serta berdamai dengan kondisi saat ini ๐Ÿ™‚

Kayaknya mudah ya… Iya relatif mah, tapi bisa dilatih dan dibiasakan.

Jadi kapan mau mulai latihan?

Mulai saat ini yaa… kapan lagi? ๐Ÿ˜€

Udah ah.. nggak selesai-selesai nulisnya hihihi…. Yuk latihan…

Regards

Eva Zahra

4 thoughts on “Force Versus Power

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *