Minimalism, Personal Life

Less is More : Gaya Hidup Minimalis Adalah Sebuah Pilihan

Dulu, arti gaya hidup minimalis yang terlintas dalam pikiran saya sebelumnya adalah rumah minimalis, desain furniture minimalis, taman minimalis dan hal-hal yang berkaitan dengan desain rumah dan furniture.

Hingga suatu ketika saya ngobrol dengan teman baik saya, Bang Diptraseorang design engineer yang sedang menjalankan konsep gaya hidup minimalis dan kadang antimainstream. Bang Diptra inilah yang sadar atau tanpa sadar sudah menularkan pola pikirnya pada saya. Hidup minimalis ala orang Jepang sepertinya cocok untuk menggambarkan dirinya.

Waktu itu di sebuah grup kami membahas tentang perlu nggak sih menyimpan pakaian dalam jumlah banyak sampai beberapa lemari, dan saat ada undangan untuk hadir ke sebuah acara, masih sempat mengeluh “Aku nggak punya baju” 😀 Lhaa yang di lemari tadi apa donk ya?

gaya hidup minimalis adalah pilihan

Jumlah baju di lemari saya melebihi jumlah hari dalam sebulan, jumlah tas melebihi jumlah undangan nikahan dalam setahun. Jumlah buku…..waini, buku adalah sebuah perkecualian untuk dibahas saat itu karena jumlah buku koleksi saya sudah melewati bilangan limaratusan. Dan saya cukup posesif pada buku-buku milik saya hihihi…

Yap, ternyata saya sudah memenuhi lemari saya dengan baju-baju yang mungkin tidak sampai setengahnya yang sering dipakai. Setengah lainnya jarang atau sangat jarang digunakan dan hanya menuh-menuhin isi lemari. Begitu pula dengan jenis barang-barang lainnya seperti tas, sepatu, buku dan benda-benda yang saya kumpulkan sekedar untuk memuaskan keinginan belanja.

Di belahan dunia lain, sudah banyak yang melakukan prinsip hidup minimalis dalam bentuk memakai pakaian yang monoton. Sebut saja gaya berbusana minimalis ala almarhum Steve Job (CEO Apple), gaya berpakaian simpel ala Mark Zuckerberg (CEO Facebook). Mereka menggunakan baju dengan pilihan warna dan modelnya itu-itu saja, karena mereka tidak mau menghabiskan banyak waktu untuk memusingkan mau pakai pakaian seperti apa untuk setiap acara.

Begitupun dengan buku-buku koleksi saya yang memenuhi beberapa lemari. Sebagian besar adalah buku yang saya beli, lalu dibaca sekali, selanjutnya hanya menjadi pengisi lemari. Hanya sebagian kecil yang saya baca berulang-ulang kembali. Sebagian dipinjam teman dan belum juga kembali 😀

Ada sebagian orang yang menganggap benda-benda yang dimilikinya adalah sebuah kebanggaan atas sebuah pencapaian sekaligus sebuah cara untuk memuaskan keinginan. Ada juga sebagian orang yang menempatkannya sebagai simbol strata sosial untuk ditunjukkan pada dunia bahwa dia memiliki barang-barang bernilai tersebut. Ada juga yang menganggap  benda-benda yang dimilikinya adalah sebuah investasi jangka panjang.

Namun ada juga yang justru merasa kurang nyaman saat memiliki terlalu banyak benda yang dia sendiri jarang menggunakannya. Sehingga memilih untuk menyederhanakan hidupnya dengan mengurangi kepemilikan yang ada. Hidup minimalis dengan sedikit barang.

Dari beberapa teman pelaku hidup minimalis lainnya, muncul sebuah pemahaman baru. Bahwa hidup minimalis itu adalah menikmati hidup dengan cara yang lebih berkualitas dan seimbang antara kegiatan duniawi dan persiapan akherat nanti.

Hidup minimalis adalah sebuah pilihan. Gaya hidup minimalis berbeda dengan pelit atau kikir. Menjadi seorang yang menjalani pola hidup minimalis bukan berarti tidak suka memiliki benda-benda yang berkualitas baik. Prinsip hidup minimalis yang mulai saya lakukan saat ini adalah menyederhanakan jumlah dan pilihan yang ada dan menggunakan secara efektif dan efisien.

Saya pun mulai menerapkannya dalam hidup saya. Tidak muluk-muluk, mulai dari 3 hal yang menjadi fokus saya untuk dijadikan ajang praktek pola minimalis. Apa aja tuuh?

Ini dia :

  • Menyederhanakan pola pikir
  • Menyederhanakan keinginan
  • Menyederhanakan jumlah benda yang saya miliki.

Yuk kita bahas satu-satu…

Hidup Minimalis Dengan Menyederhanakan Pola Pikiran

gaya hidup minimalisSebagai perempuan aktif yang dibekali sifat emosional dan reaktif dan sedang dalam proses menyeimbangkan pola pikir, ternyata keruwetan yang terjadi pada proses penyelesaian suatu masalah hidup bisa disebabkan oleh pola pikiran saya yang mbulet.

Tahu artinya mbuletMbulet adalah mempersulit diri sendiri dengan mencampurkan asumsi dan prasangka diri sendiri dengan logika berpikir untuk mencari solusi. Ada yang punya pengalaman seperti saya? 😀

Contoh kasus mbulet itu apa sih?

  • Misalnya terlalu kuatir tentang komentar orang lain atas tindakan/ucapan kita, sementara komentar orang lain itu sudah berada di luar kendali kita. Yang bisa kita kendalikan ya memilih melakukan sesuatu yang menurut kita baik, benar, bermanfaat dan pantas. Serta kendali diri untuk memilih komentar mana yang perlu diperhatikan.
  • Kuatir bila kita akan dijauhi oleh teman-teman kita, karena memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda pada suatu hal baik dalam lingkungan pergaulan offline maupun online. Padahal ini adalah tentang ketulusan dan saling ridho dalam berteman serta bagaimana peningkatan skill komunikasi kita.
  • Terlalu menjaga image agar terlihat selalu ok di depan orang lain. Padahal lebih nyaman saat kita bisa bersikap tulus apa adanya, serta tetap tahu diri bagaimana menjaga sopan santun dan kepantasan sesuai norma dan etika.

Tiga hal penyebab kasus mbulet diatas itu yang sekarang menjadi prioritas untuk saya benahi dulu. Belajar lagi untuk menyeimbangkan pikiran. Ada yang mau ikutan juga?

Minimalis Dengan Cara Menyederhanakan Keinginan

Tanpa saya sadari, ternyata benda-benda yang saya miliki lebih banyak saya beli karena INGIN, bukan karena BUTUH. Beberapa bulan terakhir ini saya meluangkan waktu untuk mengecek ulang isi lemari, isi kamar dan isi rumah. Wow luarbiasa, seringkali terucap tanya “Dulu saya beli ini buat apa ya?”.

Cangkir-cangkir lucu yang berakhir menjadi tempat pena dan pensil, pernak-pernik hiasan yang akhirnya memenuhi meja dan lemari dan sebagian harus masuk ke dalam kardus penyimpanan. Alat-alat tulis yang lucu-lucu bentuknya dan menjadi penghias meja. Tas-tas tenteng yang murah meriah teronggok pasrah karena hanya menjadi pemuas keinginan belanja. Duh, godaan benda-benda kategori “lucu” di masa lalu mulai dipertanyakan ulang 😀 Setelah dikalkulasi, ternyata banyak juga dana yang digunakan untuk membeli hal-hal yang kurang penting.

Sehingga saat ini saya mulai benar-benar mempertimbangkan alasan membeli suatu barang. Apakah karena keinginan ataukah karena kebutuhan. Keinginan tak akan pernah cukup untuk dipenuhi. Membeli sesuai dengan kebutuhan akan lebih baik untuk mengurangi barang-barang yang mubadzir (tak tergunakan). Utamakan yang berkualitas baik agar tidak menyesal saat membelinya.

Hidup Minimalis Dengan Mengurangi Jumlah Benda Yang Dimiliki

cara hidup minimalis dengan sedikit barang

Ini adalah tantangan terberat yang perlu saya lakukan. Mengurangi jumlah barang-barang yang saya miliki. Yang masuk ke dalam daftar awal adalah mensortir isi lemari pakaian. Baju, jilbab, dan teman-temannya saya kelompokkan menjadi 3 berdasarkan masa penyimpanan selama 6 bulan terakhir: rutin dipakai, jarang dipakai, sangat jarang dipakai.

Isi lemari pakaian yang sangat jarang dipakai langsung masuk ke dalam kotak untuk disumbangkan. Yang jarang dipakai masih disortir lagi, separuh disumbangkan, separuhnya disimpan untuk acara-acara tertentu. Sedangkan yang sering dipakai juga di sortir lagi sepertiganya untuk disumbangkan.

Isi lemari pakaian beres, beranjak ke isi kamar, mengumpulkan benda-benda yang kurang memberi manfaat dan hanya disimpan karena faktor kenangannya. Sehingga kamar terlihat lebih longgar dan bersih.

Yang terberat adalah mensortir koleksi buku….. haduuuuh…. butuh perjuangan untuk mengelola rasa posesif pada buku-buku ini hiks… Ini akan dibahas di artikel selanjutnya ya….

Begitulah proses perjalanan saya dalam memulai pola hidup minimalis 😀 Lebih ringan rasanya memiliki secukupnya dengan kualitas yang terbaik yang kita bisa usahakan.

Sampai jumpa di cerita saya selanjutnya ya…

Regards,

EvaZahra

22 thoughts on “Less is More : Gaya Hidup Minimalis Adalah Sebuah Pilihan

  1. Suka sekali saya dengan artikel kak Eva, saya sendiri kenal minimalism dari fotografi dan sekarang saya sudah memulai menerapkan nya dalam kehidupan saya, memang untuk pertama kali nya susah, tapi saya terus berusaha dan memulai nya dari kamar tidur, apa yang ada di dalam kamar tidur saya ? Kasur (bantal, guling), meja belajar, buku dan gitar. Untuk lemari pakaian berada di luar.

    Vernon Howard. “You have succeeded in life when all you really want is only what you really need.”

Leave a Reply to SONNY Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *