Notes

Halal is My Way

halal cornerSudah beberapa bulan Saya bergaul dengan teman-teman dari Komunitas Halal Corner. Sebuah komunitas edukasi yang mengajarkan tentang pentingnya menerapkan prinsip halal dalam setiap aspek kehidupan kita.

Komunitas ini Saya kenal pertama kali melalui social media LINE (Aplikasi Android) dan pada perkembangannya merembet ke forum whatsapp, twitter @HalalCorner , @HCJogja , website www.myhalalcorner.com  dan kegiatan-kegiatan offline (kopdar).

Awalnya pengetahuan Saya tentang kehalalan masih sangat terbatas, seperti makanan dan minuman tanpa alkohol, tidak mengandung daging babi dan binatang-binatang yang diharamkan dalam Al Qur’an.

Namun semakin banyak informasi yang Saya dapatkan, semakin selektiflah Saya dalam memilih makanan/minuman yang Saya konsumsi. Termasuk memperhatikan proses pembuatan makanan/minumannya. Mencermati apakah menggunakan bahan baku yang sudah halal, atau tercampur zat yang haram (contoh : angciu, rhum dll)

Salah satunya Saya mencermati titik kritis dari bahan baku makanannya dan melihat reputasi dari pemilik rumah makan tersebut bila tidak menemukan rumah makan yang bersertifikat HALAL RESMI (bukan sekedar tulisan halal buatan pemiliknya yang ditempel di spanduk/billboard nama rumah makannya).

Dan bukan hanya itu saja, Saya mulai selektif memilih produk-produk lain seperti kosmetik, sabun, sikat, pastagigi, hingga sepatu kulit (takut terbuat dari kulit babi) dan sistem pembiayaan (terpapar Riba atau tidak).

Saya yang tadinya hobby wisata kuliner, suka mencoba-coba menu baru di rumah makan, mulai memilah-milah untuk hanya makan di rumah makan yang sudah bersertifikat Halal resmi dari MUI Indonesia.

Yang tadinya kalau belanja asal comot produk yang populer, jadi meluangkan waktu lebih lama untuk mencermati daftar isi bahan baku produk dan memastikan ada logo kehalalan produk tersebut.

Mungkin bagi orang lain terkesan ribet, tapi mengingat resiko yang harus Saya tanggung bila mengkonsumsi produk Haram, seperti : tidak diterima amalannya selama 40 hari, sholatnya tidak diterima selama memakai pakaian yang haram, termasuk do’a-do’a yang tak terkabul.

Mengkonsumsi produk haram membuat hati menjadi “keras” juga dapat mengikis keimanan, sedekah dan silaturahimnya sia-sia, bahkan nanti ibadah Haji dan Umrohnya ditolak.

Membaca resiko mengerikan yang tertulis di atas, maka Saya memilih untuk sedikit lebih ribet, daripada hidup Saya jauh dari berkah dan rahmatNYA.Ini demi hidup Saya sendiri juga, supaya tidak sia-sia semua amal ibadah yang berusaha Saya lakukan untuk tabungan di hari kemudian.

Yuk belajar hidup Halal.. Silahkan kunjungi website dan twitter diatas… Semoga bermanfaat dan menambah berkah hidup Anda

Salam Hangat,

 

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *