Life

Hati-hati Saat Dicurhati…

Beberapa waktu yang lalu, saya kena “tampar” nasehat salah seorang guru saya, ketika mengikuti kajian di Jogjakarta. Beliau berkata, “Coba cek 10 orang yg paling sering berinteraksi denganmu, dan ingat-ingat apa yg mereka sering curhatkan. Percaya atau tidak, kamu akan mengalami hal-hal yg sama dengan yang mereka curhatkan bila tidak berhati-hati dan  mengantisipasinya”.

Kaget juga saya saat mendengarnya, karena biasanya nasehat yang sering kita dengar dari orang lain adalah bagaimana cara curhat yang efektif dan efisien #Halah 😀

Tahukah anda, bila kebiasaan mendengarkan curhat pun menyimpan bahaya yg besar? Terutama jika anda terbiasa mendengarkan curhat tentang hal-hal yang  negatif. Bayangkan jika kita sering menjadi tempat curhat yg tema nya galau, sakit hati, patah hati, broken home, menyalahkan orang lain dan lain sebagainya.

Ternyata, dalam jangka waktu yang lama, tanpa sadar kita yang sering mendengarkan curhatan org lain, akan menyimpan dan merekamnya di dalam Sub Conscious Mind (pikiran bawah sadar) kita. Yang artinya akan bisa membentuk mindset baru dalam pikiran kita dan tanpa sadar menjadi belief baru yang kita yakini kebenarannya. Dan akan mewujud dalam kehidupan kita. Seraaam bener ya 🙂

 

Kajian itu membuat saya teringat pada nasehat guru saya yang lain. Beliau menjelaskan bila ada 5 kriteria yang bisa membuat suatu hal tertanam kuat di dalam pikiran bawah sadar kita.

Kelima hal itu adalah:

1. REPETISI / Pengulangan

2. Kondisi EMOSI yang intensitasnya tinggi

3. Disampaikan oleh FIGUR yang mempunyai otoritas / kita segani

4. Pengaruh LINGKUNGAN

5. Kondisi FOKUS dan RILEKS

 

Yuk, satu persatu kita jabarkan…

1. REPETISI / Pengulangan.

Semakin banyak suatu tindakan / hal itu diulang, maka akan semakin kuat programnya terbentuk. Coba perhatikan dalam setiap kebiasaan baik dan buruk, pasti ada unsur PENGULANGAN dalam proses pembentukannya.

Kebiasaan-kebiasaan yang setiap hari kita lakukan adalah hasil dari pengulangan-pengulangan yang kita kerjakan. Semakin sering diulang, semakin kuat tertanam dalam pikiran kita.

Contoh :

~ Sebagai seorang muslim, kita hafal QS Al Fatihah karena diucapkan berulang-ulang minimal 17 kali dalam sehari saat kita sholat. Saking hafalnya, kita tidak perlu berpikir keras untuk memanggil data dalam ingatan kita.

~ Kita ingat rute jalan pulang menuju rumah kita sepulang dari bepergian. Karena kita telah melalui jalur itu tak terhitung jumlahnya. Bahkan mungkin sambil sedikit melamun saat berjalan pun, tahu-tahu sudah sampai rumah.
*dan kemudian kaget sendiri* 😀

Sekarang bayangkan jika yang kita dengarkan adalah curhatan galau dan segala macam hal-hal negatif. Berkali-kali kita mendengarkan hal-hal yang semacam itu. Kemudian kita ikut memikirkannya,  sehingga kita memutar rekaman itu dalam pikiran kita berulang-ulang pula. Sangat besar kemungkinannya untuk menjadi mindset yang tertanam dalam pikiran kita dan tanpa sadar kita yakini kebenarannya.

 

2. Berada dalam kondisi EMOSI yang tinggi intensitasnya.

Saat intensitas emosi kita sedang naik, kita akan mengalami kesulitan untuk bisa melupakan kejadian-kejadian yang punya unsur senang, sedih, marah, haru, bangga dan sejenisnya.

Contohnya :

Jika ada yang bertanya pada anda tentang pengalaman yang paling anda ingat, maka anda akan lebih mudah bercerita tentang pengalaman anda yang paling melibatkan emosi. Bahkan anda bisa menceritakan detail peristiwa dan siapa saja yang ada di sana saat itu. Bisa jadi itu pengalaman yang sangat menyenangkan, membanggakan atau bisa juga pengalaman yang sangat menyedihkan atau membuat marah.

Mengapa bisa terjadi? Karena saat mengalami peristiwa itu, emosi yang kita alami sedang berada dalam intensitas yang tinggi. Sehingga detail peristiwa nya mudah masuk dan terekam kuat dalam sub conscious mind kita.

Begitupun bisa terjadi saat kita dicurhati oleh orang lain, kadang tanpa sadar kita terbawa perasaan dan mengalami emosi yang sama dengan orang yang  sedang curhat pada kita. Saat intensitas emosi-emosi itu meningkat, maka saat itu juga Sub Conscious Mind kita sedang merekam apapun yang kita dengarkan. Dan itu melekat kuat dalam pikiran kita. Itulah mengapa kita harus hati-hati dalam mengendalikan emosi kita

 

3. Disampaikan oleh Figur yang memiliki otoritas (Authority)

Otoritas adalah kuasa yang kita berikan pada seseorang untuk memberikan pengaruh rasa segan, hormat, ataupun percaya  pada apa yang dia sampaikan. Bisa jadi karena kedekatan, rasa segan / hormat, entah dalam hal umur, pengalaman, ilmu, status sosial dan lain sebagainya, yang bisa membuat kita menjadi tidak kritis lagi saat dia yang punya otoritas itu yang berbicara.

Contohnya :

Seandainya anda saat itu sedang mules perutnya, lalu anda bercerita kepada saya, dan kemudian saya analisa, lalu bilang, “Anda kena kanker usus stadium 3”.

Apa yang akan anda lakukan? Ya, paling anda tertawa lalu balas ngebully saya. 😀

Seandainya yang menganalisa adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam senior yang sudah punya nama besar dan anda segani. Saat dokter ini bilang “Anda kena kanker usus stadium 3”.

Apa yang akan anda lakukan? Mungkin anda langsung kaget dan shock, keluar keringat dingin segede-gede jagung, perut tambah mules, kemudian anda langsung sholat taubat. Karena kuatir umur anda tinggal sebentar lagi hehe…

Maka berhati-hatilah saat memberikan otoritas pada orang lain. Baik pada sahabat, guru, dokter atau siapapun yang anda temui dalam lingkungan kehidupan anda. Gunakan pikiran logis dan tidak memihak. Anda boleh menerima sesuatu yang orang lain katakan hanya ketika anda sangat paham tentang apa yang dia katakan dan ketika orang itu memberikan argumen yang jelas. Bandingkan juga dengan pendapat orang lain yang juga mempunyai kompetensi yg sama. Cari sebanyak mungkin data sebelum memberi penilaian.

 

4. Lingkungan tempat kita berada.

Lingkungan adalah salah satu faktor yang sangat efektif untuk membuat seseorang mengikuti WARNA yang ada di situ. Jika warna lingkungannya suram maka ia bisa dengan mudah menjadi suram pula.

Rasulullah mengajarkan :

Jika bergaul dengan penjual parfum maka kita akan terpapar harumnya, dan jika kita bergaul dengan pande besi, maka kita bisa terkena cipratan apinya.

Lingkungan tempat kita menghabiskan sebagian besar waktu hidup kita bisa memprogram ulang apapun program yang sudah ada di Sub Conscious Mind (pikiran bawah sadar) kita, tanpa perlu izin terlebih dulu. Tanpa disadari tiba-tiba programnya sudah terinstall dalam pikiran kita.

Coba bayangkan seandainya kita berada di lingkungan yang isinya orang-orang yang hobby nya mengeluh terus, menyalahin orang lain, menghakimi orang lain, negatif thinking. Jika dilakukan dalam waktu lama, sudah bisa dibayangkan, akan seperti itu pula sifat kita jadinya nanti.

Maka cermatlah memilih lingkungan pergaulan kita, teliti memilih apa saja input data yang masuk melalui panca indera kita, karena itu yang nantinya akan mewujud menjadi representasi internal dalam pikiran kita. Hal itu lah yang kemudian berlanjut membentuk perilaku kita.

 

5. Kondisi FOKUS dan RILEKS

Saat kita ngobrol dengan teman akrab, curhat kesana kemari, fokus pada apa yang teman kita curhatkan, nyaman dan rileks dengan kondisi saat itu. Maka kita akan lebih mudah mengingat detail percakapan yg terjadi. Begitupun saat kita mempelajari sesuatu yang baru, akan lebih mudah “nyanthel” dalam pikira kita saat kondisi perasaan dan pikiran kita sedang senang, rileks dan fokus. Dan sudah pasti, akan mudah pula pikiran bawah sadar kita merekamnya.

 

Nah… Gmn caranya biar kita tidak terkena efek negatifnya? Beberapa diantaranya adalah:

1. Menghindar dari orang yang hobby mengeluh/ curhat negatif

2. Bila tak bisa menghindar, berusahalah mengalihkan topik curhat atau mengarahkan orang yang sedang curhat negatif untuk melihat sisi positif dari “masalahnya”. Sehingga dia akan fokus pada solusi, bukan fokus pada masalah.

3. Pastikan kondisi psikis anda sedang prima, gunakan pikiran logis dan pastikan perasaan anda netral tidak memihak. Orang yang sedang mengeluh, sedang curhat negatif, sesungguhnya membawa energi negatif yg siap ditularkan pada kita. Bila kita tak punya cukup energi positif untuk menghadapinya, bersiaplah untuk terpapar energi negatif orang tersebut.

4. Sering-seringlah berinteraksi dengna orang-orang yang membawa energi positif, hadiri majelis-majelis ilmu dan bacalah buku-buku yang membuat kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Ibaratkan pikiran kita seperti gelas yang berisi air keruh setelah menanggapi orang yang curhat negatif. Gelas itu tak bisa dituang isinya utk dibuang. Lalu bagaimana cara membuat isi gelas itu bisa menjadi jernih lagi? Tuangkan sebanyak-banyaknya air jernih ke dalam gelas pikiran kita. Hingga warna keruh itu akan memudar dan lama2 kembali jernih lagi.

Air jernih itu bisa kita temukan pada guru, ustadz, coach, ataupun mentor yang mengajarkan kebaikan, pada teman dan sahabat yang menularkan energi positifnya, dari tontonan yang bermanfaat, dari audio kebaikan yang kita dengarkan, pun dari membaca buku-buku yang isinya bermanfaat untuk kehidupan kita (terutama al qur’an)

Gunakan hati yg bersih dan logika pikiran yang jernih, jalin hubungan harmonis dengan Allah lewat ibadah-ibadah kita. Perbaiki citra diri kita, dan percayalah pada kualitas kebaikan yg ada pada diri kita.

 

Dan bagi anda yang suka curhat, ada tips supaya curhat anda segera mendapatkan solusi 😀
1. Curhat terbaik adalah curhat pada Allah saat sholat tahajud. Berceritalah seakan-akan kita sedang berbicara pada teman yang kita percaya. Jujur dan akui semua yang kita rasakan. Dan pasrahkan solusinya pada Allah.

2. Menulislah… Menuliskan apa yang kita rasakan adalah salah satu solusi untuk mengurangi beban pikiran kita. Setelah itu tutup. Dan bacalah lagi nanti, saat pikiran anda sedang tenang. Dan temukan sudut pandang baru saat itu.

3. Hindari curhat pada lawan jenis non mahrom. Iman kita naik turun. Kita tak pernah tahu kapan setan akan menggoda hati kita. Bisa-bisa nanti malah bertambah masalahnya. Jadi merasa di PHP in, salah menafsirkan perhatian ataupun malah terjebak pada kecanduan curhat.

 

Ok.. semoga tulisan saya ini bermanfaat. Sampai jumpa di lain waktu.

Jabat erat,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *