Minimalism

Do More With Less : Hidup Minimalis Dalam Pola Pikir

Do More With Less, minimalis dalam pola pikir. Mungkin masih ada yang menganggap gaya hidup minimalis itu kalau tidak identik dengan pelit ya identik dengan keterbatasan alias kekurangan. Padahal hidup minimalis itu adalah sebuah konsep menyederhanakan hidup dari keinginan yang semu.

Sekali lagi ya… GAYA HIDUP MINIMALIS ADALAH SEBUAH PILIHAN. Eh maaf, #CapslockKepencet 😀

Hidup minimalis itu menurut saya adalah meletakkan segala hal dengan proporsional. Kelompokkan sesuai dengan prioritasnya. Jika yang dibutuhkan kualitas, ya pilih sesuai kadar yang kita butuhkan.  Misal:

  • Punya uang yang cukup tapi tidak terjebak dalam gaya hidup foya-foya, lebih baik diinvestasikan atau dimanfaatkan untuk hal yang lebih berdaya. Gunakan sesuai proporsinya, belanjakan sesuai kebutuhan bukan menuruti keinginan.
  • Meskipun mampu menginap di hotel berbintang seribu #halah. Saat yang kita butuhkan adalah ruang istirahat untuk tidur yang nyaman dan aman, pesanlah kamar hotel yang sesuai dengan kebutuhan kita.
  • Banyak tawaran workshop dan majelis ilmu, tapi kita pilih yang betul-betul kita perlukan dan bisa konsisten kita terapkan dalam kehidupan.
  • Decluttering. Membatasi jumlah barang yang kita miliki, agar manfaatnya lebih maksimal. Lalu salurkan barang-barang yang tidak kita perlukan atau jarang kita gunakan pada yang lebih membutuhkan. Mau dijual boleh, didonasikan ya monggo….

Masih banyak yang bisa ditambahkan contohnya, sesuai dengan yang kita alami masing-masing…

So, gaya hidup minimalis bukan gaya hidup yang antikemapanan. Justru adalah sebuah pola untuk hidup visioner. Masih ada masa depan yang perlu kita persiapkan dan perjuangkan saat ini. Bukan malah berlebih-lebihan yang hanya cukup untuk hari ini saja.

Dalam beberapa artikel yang lalu saya sudah menulis tentang metode decluttering  atau cara menyederhanakan jumlah barang-barang yang kita miliki. Memilih untuk menyimpan barang-barang yang benar-benar kita butuhkan. Sebagian metodenya saya peroleh dari sebuah buku karya Marie Kondo yang berjudul The Life-changing Magic of Tidying Up : Seni Beres-beres dan Metode Merapikan Ala Jepang.

Nah, selain minimalis dalam hal kepemilikan, kita perlu juga menerapkan konsep minimalis dalam pikiran.

Apasih Minimalis Dalam Pola Pikir itu?

Minimalism adalah konsep berpikir yang fokusnya untuk membatasi pikiran dari hal-hal yang tidak memberdayakan hidup kita. Lebih baik fokus memikirkan yang penting dan urgent saat ini. Dengan begitu kita ini bisa menjalani hidup secara mindful, dengan penuh kesadaran.

Oiya, tolong dibedakan ya antara Mind Full dengan Mindful.

Mind Full itu pikiran yang isinya terlalu banyak dengan hal yang dipikirkan.  Sedangkan mindful artinya adalah sadar sepenuhnya, keadaan sadar secara utuh.

Mindful. Fokus pada saat ini, tidak terganggu memikirkan hal-hal kurang penting yang kadang membuat hidup ini menjadi lebih rumit dan kurang nyaman.

Perhatian utama dari minimalis dalam pola pikir ini adalah menjalani kehidupan sesuai dengan fitrah yang Allah berikan. Cari tahu apa sih peran kita di dunia ini. Pelajari apa keunggulan diri kita yang bisa kita asah dan kita maksimalkan potensinya. Agar memberi manfaat pada sebanyak mungkin manusia. Mengerjakan hal yang membuat kita bahagia, jauh dari menumpuk-numpuk sesuatu yang membuat rumit kehidupan kita sendiri.


Minimalis Dalam Pola Pikiran Dimulai Darimana? 

Ya dimulai saja dari aktifitas keseharian kita. Sampai saat ini saya juga masih terus membiasakan diri menerapkannya. Misalnya :

Fokus, mindful ke satu kegiatan di satu waktu.
Apa ya misalnya?
– Makan tidak sambil sosmed an.
– Driving tidak sambil telfon atau texting.
– Naik motor tidak sambil ngantuk (ya iyalah, bisa celaka kita)
– Saat jalan kaki, nikmati proses jalannya. Pandangan ke depan. Bukan “menundukkan pandangan” ke gadget.
– Nulis artikel di blog tidak sambil facebook_an atau menerima curhatan (duh malah nyindir diri sendiri)
– Ngobrol langsung di dunia nyata tidak sambil whatsapp-an atau sosmed an dengan orang yang jauh disana.

Kalau diterusin bakal menuh-menuhin artikel nih. Lanjutin sendiri ya contohnya…

Kendalikan asumsi dan prasangka saat menilai suatu hal yang terjadi di sekitar kita.
Sosmed sangat terbuka dengan yang namanya mispersepsi dan miskomunikasi. Mudah memancing sebagian pengguna sosmed untuk memencet tombol share berita tanpa dicek dulu kebenarannya. Sehingga efek viralnya menjadi seperti bola salju yang bergulir liar. Pikiran kita yang rutin menyimaknya menjadi begitu terbiasa melompat-lompat dari satu topik ke topik lainnya.

Belum lagi efek GR yang berpotensi muncul saat ada status yang melintas di timeline sosmed yang membuat kita merasa “Ih itu kayaknya nyindir saya deh” , “Wow statusnya pas banget dengan apa yang sedang saya alami”. Hayooo.. Cung yang pernah mengalaminya 😀 Padalah kenyataanya belum tentu juga.

Tombol Log in, Log out, Like, Share, Comment, Unfollow dan Unfriend itu diciptakan untuk digunakan dengan bijaksana. Manfaatkan saja sebaik-baiknya.

Pilih baik-baik lingkungan pergaulan tempat kita tumbuh dan rutin berinteraksi.
Termasuk saat merespon teman yang curhat. Beranilah berkata tidak pada orang-orang yang kecanduan curhat tanpa solusi. Posisikan diri kita ini netral dan menjadi teman diskusi yang fokus pada solusi dan pastikan solusinya ditindaklanjuti. Kecuali memang profesi kita adalah seorang konsultan profesional. Beda kasus temans…

Sekalian deh saya minta maaf pada teman-teman yang saat curhat berkali-kali tentang hutang, masalah rumah tangga, patah hati, galau nggak jelas dan sebagainya. Ada waktunya saya merespon dengan bahasa yang pedas. Mengingatkan diri sendiri juga untuk fokus pada solusi, bukan fokus pada masalah atau terus menerus merasa menjadi korban. Bukankah kita adalah sutradara kisah hidup kita? Ciptakan peran utama yang berdaya…

Tiga hal diatas terlihat sederhana, tapi kalau dilakukan dengan konsisten, akan membuat hidup ini menjadi lebih nyaman.

Dengan menerapkan Do more with less, minimalis dalam pola pikir, minimalis dalam hidup, dalam kepemilikan barang dan dalam pengelolaan pikiran, kita belajar untuk sadar seutuhnya siapa dan apa peran diri kita ini sesungguhnya. Sekaligus kita belajar untuk melihat orang lain seutuhnya. Melihat dan menunjukkan keistimewaan mereka. Melihat sisi baik dari setiap individu yang berinteraksi dengan kita.

Semoga bermanfaat,

Regards,

Eva Zahra

 

5 thoughts on “Do More With Less : Hidup Minimalis Dalam Pola Pikir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *