Personal Life

Ilmu Yang Banyak Atau Ilmu Yang Bermanfaat?

Catatlah yang terbaik dari yang kau dengar. Amalkan yang terbaik dari yang kau catat. Ajarkan yang terbaik dari yang kau amalkan.

Quote diatas saya baca dari sebuah buku menarik berjudul #NasehatDiri untuk para pekerja. Sesaat saya merasa diingatkan tentang hakekat mencari ilmu. Bukanlah banyaknya yang mengundang berkah, tapi manfaatnya yang akan menjadi nilai lebih bagi para pencari ilmu.

Hingar bingar perkembangan sosial media saat ini semakin membuka maraknya informasi tentang perkembangan ilmu, terutama ilmu bisnis, marketing dan pengembangan diri. Tak terhitung munculnya penawaran ebook, seminar, workshop, training, coaching maupun mentoring dengan berbagai range harga. Belum lagi bermunculan update status yang berisikan penggalan-penggalan ilmu yang menarik untuk disimak dan dipelajari. Hingga makin bias dalam menilai apakah penulisnya benar-benar ahli dan kompeten di bidangnya, ataukah hanya menuliskan apa yang dia dengar, baca dan lihat dari sumber lain.

Bagi para pencari ilmu, serbuan informasi di dunia maya adalah sebuah kesempatan sekaligus ujian untuk bisa membedakan sumber ilmu mana yang akan ditekuni. Karena di dunia online, personal branding bisa dibentuk sedemikian rupa. Semua serba berkilau menggoda, saling bersaing menarik hati orang-orang yang haus akan ilmu.

Jika dahulu seminar, training, coaching dan mentoring masih mengandalkan pertemuan langsung secara offline. Saat ini tak terbilang kelas-kelas online yang diadakan dengan durasi antara beberapa jam hingga beberapa bulan. Memudahkan untuk mengatasi kendala jarak, namun juga sekaligus memunculkan masalah baru tentang interaksi dalam sebuah majelis ilmu.

Belum lagi trend baru yang hadir dalam bentuk buku elektronik (ebook). Bukan hanya buku yang sudah selesai dituliskan dan diubah formatnya menjadi sebuah ebook yang saat ini dijual. Namun ebook yang belum mulai ditulispun sudah banyak yang dipasarkan dengan sistem Pre Order. Dan itupun banyak yang membelinya. Kualitasnya beragam juga, dari yang sekedar ikut trend jualan, hingga orang-orang berilmu yang memang punya kapasitas keilmuan yang diakui kualitasnya.

Luar biasa ya peluang bisnis yang muncul di era booming interaksi di social media 🙂

Kembali lagi ke judul artikel saya kali ini. Apakah banyaknya ilmu yang menjadi faktor meningkatnya kualitas diri para pencari ilmu? Atau kebermanfaatan ilmu itu sendiri yang memberi nilai lebih pada diri?

Saya termasuk orang yang pernah mengalami periode tamak ilmu. Tak berbilang biaya yang saya keluarkan hanya untuk memuaskan hasrat dahaga ilmu hingga kadang berasa overload dan ilmunya pun belum dipraktekkan apalagi diajarkan. Buku hard copy dari harga puluhan ribu hingga juta, ebook dengan range harga puluhan hingga ratusan ribu. Training dan workshop dengan biaya ratusan ribu hingga jutaan, saya ikuti demi memuaskan ego saya akan pencarian ilmu.

Suatu ketika saya ngobrol dengan salah seorang teman saya, pengusaha muda yang bisnisnya sedang menanjak pesat.

Me : Kang, ajarin saya ilmu bisnis yang akang pakai untuk mengembangkan usaha donk. Akang belajar dimana saja dan pada siapa?

Si Akang : Ilmu bisnis saya ya itu-itu saja mbak, tidak heboh ikut training ini dan itu. Tapi ilmu yang saya dapatkan itu saya praktekkan berulang-ulang hingga berhasil. Ilmu kalau tidak dipraktekin ya percuma, tidak ada manfaatnya.

Di titik itulah saya sadar, bila saya hanya sibuk mencari ilmu tapi lupa mempraktekan setahap demi setahap dan tidak punya kesempatan untuk membagikan manfaat ilmunya, lalu keberkahan apa yang saya dapatkan selain pahala mencari ilmu?

Mulailah saya mensortir dan fokus pada ilmu apa saja yang sebenarnya saya butuhkan. Yang bisa langsung saya praktekkan sekaligus bisa saya bagikan manfaatnya pada orang lain.

Saya mulai mempertimbangkan baik-baik untuk belanja buku dalam bentuk hard copy maupun soft copy. Selesaikan dulu buku yang masih belum rampung dibaca dan dipraktekkan dulu isinya.

Saya berusaha mengendalikan ego untuk mengikuti workshop dan training. Hanya memilih yang benar-benar saya butuhkan dan itupun dilakukan setelah materi workshop dan training sebelumnya sudah dipraktekkan dan dimaksimalkan manfaatnya.

Satu lagi yang ingin saya lakukan, membagikan intisari ilmu yang saya pelajari melalui blog ini. Semoga bisa menambah keberkahan dari ilmu yang saya pelajari.

Karena pada dasarnya memang bukan banyaknya ilmu saja yang akan menjadi bekal menuju kehidupan abadi kita. Tapi kebermanfaatan ilmu lah yang akan menjadi penerang jalan kita dalam bentuk aliran pahala ilmu yang bermanfaat. ^^

Regards,

@EvaZahraa

1 thought on “Ilmu Yang Banyak Atau Ilmu Yang Bermanfaat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *