Lesson in Life

Jebakan Kolam Asam

Setiap orang saya yakin pernah mengalami kejadian yang tak sesuai dengan rencana semula. Cerita metafora di bawah ini semoga bisa menjadi cara kita bermuhasabah tentang arti sebuah sikap.

Jebakan Kolam Asam

Suatu pagi, di lereng sebuah bukit yang asri, di pinggir sebuah hutan kecil, tampaklah sebuah padepokan yang dipimpin oleh seorang Guru Silat ternama. Guru ini sangat disegani kebijaksanaannya, sekaligus ditakuti karena kedigdayaannya. Banyak orang ingin menjadi muridnya, dan hanya segelintir orang yang sanggup menerima ujian yang guru itu berikan.

Suatu ketika, datanglah seorang pemuda desa setempat memberanikan diri untuk memohon kesediaan Sang Guru itu untuk menjadikannya seorang murid. Saat itu Sang Guru hanya tersenyum dan mengajak pemuda itu untuk memasuki sebuah ruangan. Ruangan itu kosong, hanya terdapat sebuah kolam kecil, yang berisi cairan berwarna hijau. Diatas kolam itu terdapat sebuah titian yang terbuat dari rangkaian 3 batang bambu.

Sang Guru mengajak pemuda itu mendekati kolam, dan melihat ke arah dasar kolam. Di sana terlihat berserakan tulang-tulang manusia, berwarna putih dan terlihat menyeramkan. Siapapun akan merinding saat melihatnya.

Sang Guru berkata,”Wahai anak muda, kolam ini berisi larutan asam yang sangat berbahaya. Siapapun yang jatuh ke dalamnya, bisa dipastikan kehilangan nyawa, karena hancur dagingnya. Tulang-tulang dibawah itu adalah sisa-sisa dari mereka yang nekat menjalani ujian untuk menjadi muridku”.

“Aku mencari pemuda pemberani yang sanggup berjalan meniti bambu yang ada di atas kolam itu tanpa terjatuh. Bila berhasil, dia akan menjadi muridku, bila gagal dia akan menjadi penghuni dasar kolam ini”, lanjut Sang Guru.

Pemuda itu sejenak merinding, namun besarnya tekad membuat dirinya tetap pada sikap semula, ingin menjadi murid Sang Guru. Pemuda itu berkata,”Guru, beri saya waktu untuk berlatih menyeberangi kolam, saya mohon ijin untuk berlatih di halaman padepokan”.

Sang Guru akhirnya memberikan waktu 1 minggu pada pemuda itu untuk berlatih. Pemuda itu membuat titian dari bambu setinggi jembatan yang ada di atas kolam. Hari demi hari dia lalui dengan berlatih dan membayangkan wujud asli kolam asam itu. Dia berusaha mengalahkan keraguannya.

Seminggu sudah berlalu, tibalah waktu untuk menghadapi ujian dari Sang Guru. Berbekal hasil latihan, do’a dan tekad yang membara, pemuda itu mengikuti Sang Guru menuju titian bambu di atas kolam asam. Dan apa yang terlihat? Titian bambu itu sudah diganti dengan titian yang lebih kecil, hanya terbuat dari 2 batang bambu. Terlihat sempit dan tidak stabil. Sudah tak ada waktu lagi untuk mundur.

Sang Guru mempersilahkan pemuda itu untuk berdo’a dan menyeberangi kolam asam kapanpun dia siap. Sementara itu Sang Guru duduk di tepi kolam, sambil menikmati hidangan sarapan paginya.

Dengan hati-hati pemuda itu mulai melangkahkan kaki di atas titian bambu. Selangkah demi selangkah, dia lalui titian itu. Matanya fokus pada titian bambu. Hingga tibalah dia di tengah kolam. Dan dia kehilangan konsentrasi pada titian bambu itu. Dia memandang ke dasar kolam, dan tampaklah tulang-tulang yang berserakan di dalamnya. Kakinya mulai bergetar, jantungnya berdetak kencang, nafasnya mulai tak beraturan.

Pemuda itu terus melangkah, getaran di kakinya makin tak terkendali. Dan akhirnya…

Jatuhlah pemuda itu ke dalam kolam asam…

Sang Guru memandang kejadian itu dengan wajah datar. Sejenak terjadi keheningan. Hingga perlahan-lahan terdengar suara tawa di dalam ruangan itu. Ternyata Sang Guru tertawa terbahak-bahak melihat kejatuhan pemuda itu. Sang Guru terlihat sangat puas memandang kegagalan pemuda itu menyeberangi kolam.

Tiba-tiba…

Muncullah sesosok makhluk dari dalam kolam. Badannya berwarna kehijauan, basah seluruh tubuhnya. Makhluk itu berkata dengan nada bersungut-sungut,”Guru…Kolam ini bukan berisi air asam. Ini air biasa yang diberi warna hijau, tulang-tulang itupun hanya mainan”.

Sang Guru semakin kuat tertawanya, hingga keluar air mata di ujung matanya. Setelah reda tertawanya, Sang Guru berkata,”Anak muda, bukanlah besarnya rintangan yang membuatmu jatuh. Kejatuhanmu disebabkan oleh besarnya rasa takutmu untuk melangkah”.

Cerita itu berhenti sampai disini 😀

Apakah hikmah yang bisa anda ambil dari metafora diatas?

Mari kita cermati peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita yang kita sebut sebagai sebuah kegagalan. Benarkah itu disebabkan oleh besarnya dan beratnya rintangan yang kita hadapi? Atau jangan-jangan besarnya ketakutan di dalam diri kita lah yang membuatnya tidak berhasil dilalui.

Sebuah muhasabah diri, untuk saya dan untuk anda semua.

Semoga bermanfaat,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *