Traveling

Jelajah Bukit Tidar

5 Desember 2015.

Hari Sabtu pagi, jam dinding menunjukkan pukul 07.30 WIB.

Ting tung….Notif pesan Whatsapp saya berbunyi nyaring.

“Kita sedang di Warung Sop Senerek Pak Parto, ya” bunyi pesan pagi itu.

“Ok, 15 menit lagi insyaallah sudah sampai kesana” jawab saya.

Hmm..sepertinya teman-teman saya dari Jakarta, Tangerang, Jogja dan Boyolali sudah memulai perjalanan liburan weekend ini di Magelang. Desember sepertinya selalu menjadi bulan silaturahim yang seru dan heboh bersama sahabat-sahabat yang saya kenal sejak 3 tahun yang lalu dan sudah menjadi layaknya saudara sendiri.

Saya segera melaju menuju lokasi warung Sop Senerek Pak Parto yang terletak di kaki bukit kecil di pusat kota Magelang. Bukit Tidar, hutan kecil di tengah kota. Tempat yang ditumbuhi pepohonan pinus yang tinggi, dengan udara yang sejuk dan segar dan suasana yang tenang. Separuh bukit bagian timur dan selatan adalah wilayah bebas untuk dijelajahi, separuhnya lagi adalah wilayah terlarang untuk dimasuki orang umum karena berbatasan dengan wilayah Akademi Militer, tempat penggodokan dan penggemblengan calon-calon perwira militer di Indonesia.

gunung-tidar-mapsBukit Tidar tampak dari atas

borobudur-golf-magelangBukit Tidar dari sisi barat (Borobudur Golf)

monyet-gunung-tidarPenunggu Bukit Tidar hihihi…

Bukit Tidar terbalut sejarah dan mitos yang dipercaya oleh sebagian orang. Dalam kisah pewayangan Jawa, konon dahulu pulau jawa bagaikan lempengan yang bergerak kesana kemari, sehingga para dewa meletakkan “Paku” untuk membuat pulau jawa tetap berada di tempat semula. “Paku” itu berwujud sebuah bukit yang berada di tengah pulau Jawa dan saat ini dikenal sebagai Bukit Tidar.

Wisata religi yang dikenal oleh sebagian masyarakat adalah ziarah ke beberapa situs makam yang dikeramatkan di lingkungan Bukit Tidar. Hingga saat inipun masih banyak masyarakat yang melakukan wisata ziarah kesana. Tapi saya tak akan membahas hal ini karena saya bukan penganut faham itu. Saya lebih suka menikmati Bukit Tidar sebagai tempat rihlah, tempat yang tenang untuk mengagumi ciptaan Allah sambil berekreasi bersama sahabat dan keluarga.

Lima belas menit kemudian, sampailah saya di warung sop senerek di kaki bukit itu. Dari kejauhan tampak Ratna, Erika, Emi, Zuhri dan Ijal yang sedang ngobrol seru dan sepertinya mereka sudah selesai sarapan. Kami saling tersenyum dan bertukar tawa, bertegur sapa melepas rindu dan tak lupa saya memesan sepiring sop senerek beserta 2 potong tempe goreng. Bagi saya, makan tanpa tempe, bagaikan sayur kurang garam 😀 Oiya, sop senerek adalah sup yang berisi kacang merah, wortel, bayam berikut kuah kaldu yang ditaburi irisan daging empal. Karena saya tak suka makan daging merah, jadi saya memesan sop senerek tanpa irisan daging.

Beberapa saat kemudian muncullah Bunda Dian beserta 2 anaknya: Tesya dan Baby Hai, bersama Mbak Asih dan suami. Sehingga sempurna sudah kemeriahan di warung sop itu. Selalu ada bahan obrolan seru  yang muncul bila sudah berkumpul bersama sahabat-sahabat saya ini. Tak terbatas oleh rentang usia, karena memang kami awalnya dipertemukan di komunitas online dan berlanjut menjadi sahabat di kehidupan nyata. Ternyata mereka sudah ada rencana untuk mendaki Bukit Tidar bersama-sama. Ketinggian bukit hanya 503 MDPL (meter di atas permukaan laut) sehingga hanya dibutuhkan waktu 30 menit oleh para pendaki untuk mencapai puncak bukit. Seperti hiking biasa dengan jalur perjalanan yang teratur dan tertata rapi.

travelista-gunungtidar-evazahra.comtravelista-gunung tidar-2-evazahra.com

Jalur perjalanan menuju puncak memang dikemas untuk tempat rekreasi untuk berbagai rentang usia. Sahabat saya Bunda Dian, bahkan mengajak 2 anaknya yang salah satunya masih berusia hitungan bulan dan masih ada di tahap pemberian ASI Eksklusif. Jadi bisa dibilang jalur perjalanan di bukit ini ramah untuk Busui (Ibu Menyusui).

bukit-tidar-ramah-busui

puncak-tidar-evazahra.com

Tangga yang tersusun rapi dilengkapi dengan beberapa tempat pemberhentian untuk beristirahat, Warung minuman dan makanan serta toilet bersih juga tersedia di titik pertengahan perjalanan menuju puncak. Tak perlu kuatir kelaparan dan kehausan saat mendaki. Di puncak Bukit Tidar terdapat tanah lapang yang di bagian tengahnya terdapat sebuah Tugu Putih yang dipercaya sebagai simbol PAKU Pulau Jawa yang disebutkan dalam kisah di dunia pewayangan.

Lapangan di puncak bukit ini seringkali digunakan untuk berolahraga dan bermain-main oleh penduduk di sekitar bukit maupun oleh para pengunjung bukit. Jika kita terus berjalan menuju arah belakang lapangan, maka akan terlihat sebuah lahan persegi yang dinaungi atap berbentuk tumpeng berwarna kuning dan dikelilingi tembok setinggi kira-kira 1 meter. “Tumpeng” ini dikenal sebagai makam Kiai Semar. Saya tidak tahu detail mitos tentang Kiai Semar. Dibawah atap tumpeng itu terdapat sebuah keris dengan ukuran abnormal (sekitar 1,5 meter panjangnya) yang di letakkan di bawahnya dengan posisi berdiri.

travelista-bukit-tidar-evazahra.com

Lega rasanya berhasil sampai di puncak bukit ini bersama-sama. Oiya, bila anda sempat berkunjung dan berekreasi ke puncak bukit ini, jangan lupa untuk mengambil jalur turun yang sama seperti jalan saat menaiki bukit ini.

Mengapa?

Karena saya dan beberapa sahabat saya, di tahun 2014 pernah salah memilih jalur turun. Jalur ini ada di sisi barat lapangan puncak bukit. Melewati perkebunan salak dan berakhir di dalam kompleks Akademi Militer. Bayangkan saja saat 3 orang sahabat, tersesat di dalam kompleks Akademi Militer dan bertanya arah jalur keluar pada petugas yang saat itu ada di sana. Dan terjadilah sebuah komunikasi yang tak terlupakan. Intinya seperti kejadian di bawah ini 😀

“Kok kita malah sampai ke kompleks Akademi Militer ya?” gumam saya.

“Mungkin memang harus keluar lewat gerbang Akmil” sahut Emi. “Coba deh tanya pada petugas yang ada di sana” lanjutnya.

akmil-evazahra.com

Saya kemudian memberanikan diri menghampiri seorang petugas yang sedang membersihkan lapangan rumput di depan salah satu bangunan disana.

“Permisi pak, maaf mengganggu sebentar. Kami mau menanyakan arah jalan keluar dari kompleks ini” kata saya.

Bapak petugas itu terlihat kaget dan bertanya,”Lho mbak ini datang dari arah mana tadi?  Kok bisa masuk ke dalam kompleks ini?”

“Saya dari puncak bukit pak, tadi saya dan teman-teman saya ini turun lewat jalur yang berbeda dengan jalur naik” dengan polos saya menjawab.

“Wah seharusnya ini daerah terlarang untuk dimasuki warga sipil tanpa ijin mbak. Untuk keluar dari sini tak ada cara lain selain menaiki bukit itu kembali” jawab bapak petugas itu.

Saya dan teman-teman saya cukup kaget sekaligus geli dengan kejadian ini. Untunglah petugas itu tidak marah dan tak memberi sanksi pada kami. Tapi imbasnya kami harus mendaki bukit kembali sampai puncak kemudian turun kembali. Luaaaaarbiasaaaa…..

akmil-2-evazahra.com

“Guys, kita harus mendaki puncak lagi nih hehehe…” kata saya pada teman-teman saya.

“Yah gimana lagi, satu-satunya jalan ya harus dilalui” sahut teman-teman saya sambil tertawa terpingkal-pingkal. Yak itulah bahagianya berjalan bersama sahabat dengan sifat positif thinking dan selera humor yang ok 😀

Sejarah baru kami jalani, naik turun bukit dua kali dalam satu hari. Cukup menguras keringat dan tenaga. Namun kami menjalaninya dengan hati riang. Karena di dalam setiap kejadian selalu ada sisi lucu untuk ditertawakan dan disyukuri. Kapan lagi kami mengalami kejadian ini jika bukan sekarang? Sehingga kami nikmati dengan mengabadikannya melalui rangkaian  foto yang kami ambil disana hehehe….

Selalu ada cerita seru dan pengalaman baru di setiap perjalanan hidup kita 😀

Regards

@EvaZahraa

2 thoughts on “Jelajah Bukit Tidar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *