Traveling

Kereta Api Uap Terus Melaju di Ambarawa

kereta api uap terus melaju di ambarawa

Tuuut…tuuut…. Asap kereta api uap membumbung di udara kompleks Museum Kereta Api Ambarawa. Pagi itu saya menikmati suasana stasiun tua yang dulunya bernama Stasiun Willem I. Awalnya stasiun ini dibangun oleh Raja Willem I untuk membawa tentara Belanda ke Semarang. Saat ini stasiun Willem I sudah dialihfungsikan sebagai Museum Kereta Api Ambarawa sejak tahun 1976.

Dahulu stasiun ini adalah salah satu simpul jalur transportasi kereta api dari Semarang ke Yogyakarta, sebelum tahun 1970 ditutup karena ada sebagian jalur rel yang longsor dan karena alasan kalah bersaing dengan transportasi darat lainnya. Saat ini Museum Kereta Api Ambarawa digunakan untuk menyimpan puluhan lokomotif tua yang sudah tidak difungsikan lagi.

kereta api uap melaju di ambarawa

By the way, kok saya gaya banget bisa naik kereta api uap di Ambarawa? Padahal kereta api uap dengan bahan bakar kayu ini tidak melayani pemesanan tiket retail. Reservasi dilakukan dengan sistem borongan untuk sekali perjalanan kereta.

Jadi ceritanya begini nih…┬ábeberapa hari sebelumnya, kakak saya tiba-tiba menawari saya untuk ikut wisata kereta api uap yang diadakan oleh Taman Kanak-kanak tempat keponakan saya belajar. Sudah dibayarin pula biayanya. Aih, tahu saja kalau saya sudah lama ingin menikmati wisata kereta api uap buatan jaman kumpeni. Lha.. lalu tugas saya disana ngapain? Ya menikmati suasana traveling gratis tanpa ikatan aturan ­čśÇ

Dan disinilah saya pagi itu… Diantara barisan liliput-liliput kecil berseragam pink yang lucu dari sebuah TK, sambil diam-diam melipir mencari celah untuk memisahkan diri dari rombongan. Menikmati kesibukan mendokumentasikan pemandangan-pemandangan unik yang belum pernah saya dapatkan.

Suasana stasiun kereta api itu mengingatkan saya pada film Harry Potter and the Sorceres Stone, bedanya disini tidak ada peron 9 3/4 yang menjadi jalan masuk ke dunia sihir yang ada di film itu ­čśÇ

kereta api uap ambarawa

Bau asap kayu yang terbakar menyeruak di sepanjang koridor stasiun buatan tahun 1873 ini. Lokomotif hitam legam bernomor B2503 buatan Maschinenfabrik Esslingen, terus menghembuskan asapnya. Jenis lokomotif uap ini hanya tersisa 3 di dunia, selain di Swiss dan India.

Ada 2 jenis lokomotif yang ada di stasiun tua ini, jenis lokomotif uap dan jenis lokomotif diesel. Lokomotif B2503 berbahan bakar kayu untuk mengubah air di dalam tangki menjadi uap yang menjadi penggerak mesin uap. Lokomotif uap ini hanya digunakan untuk tujuan wisata sistem pesanan rombongan. Tidak digunakan untuk wisata penumpang umum lagi.

Sementara itu, lokomotif diesel masih dioperasikan untuk wisata umum, setiap hari Minggu dan hari libur nasional dengan 3 kali periode perjalanan. Teman-teman bisa memesan tiketnya langsung (tidak menerima reservasi) dengan biaya 50ribu rupiah ditambah tiket masuk museum seharga 10ribu rupiah.

Yuk kembali ke perjalanan wisata saya….

Lokomotif uap berhenti sejenak, menunggu para penumpang menaiki gerbong sebelum berangkat membawa serta penumpangnya untuk berwisata dari kota Ambarawa menuju daerah Bedono. Lokomotif B2503 bisa menarik maksimal 3 gerbong.

Ada 2 macam gerbong yang biasa digunakan dengan susunan kursi yang berbeda bentuk. Satu gerbong bisa diisi penumpang sekitar 40 orang, dengan biaya sewa borongan saat ini sekitar 10 juta rupiah (1 gerbong), 12,5 juta rupiah (2 gerbong) atau 15 juta rupiah (3 gerbong).

wisata kereta api uap ambarawa

Kereta api uap terus melaju menyusuri rel yang panjang terhampar. Melewati lahan persawahan yang hijau membentang di sepanjang perjalanan, dengan pemandangan gunung Telomoyo dan gunung Merbabu di kejauhan yang tinggi menjulang. Sesekali terlihat lambaian tangan anak-anak kecil di perkampungan sepanjang jalur yang dilewati kereta api uap itu.

Yang unik dan menarik dari jalur wisata kereta api uap dari Ambarawa menuju Bedono adalah adanya rel bergigi.  Bentuk rel dengan tambahan 1 rel di bagian tengah lajur rel normal, dengan disertai gerigi. Rel bergigi ini digunakan untuk jalur rel kereta api yang menanjak dengan kemiringan sekitar 6 derajat. Posisi lokomotif pun akan berpindah ke bagian belakang gerbong untuk mendorong gerbong menanjak menyusuri jalur rel kereta api ini.

kereta api uap bedono tuntang

Sumber gambar : id.wikipedia.org

Pemindahan posisi lokomotif ini dilakukan di Stasiun Jambu. Saat lokomotif melakukan pengisian tangki air yang digunakan sebagai bahan uap penggerak mesin uap. Di Stasiun Jambu, lokomotif dilepas dari gerbong untuk melewati jalur berputar sebelum memposisikan diri di belakang gerbong. Siap mendorong gerbong melewati jalan yang menanjak.

kereta api uap rel gigi

Bau asap pembakaran dari bongkahan-bongkahan kayu jati yang dimasukkan ke perapian yang ada di lokomotif uap itu terus menjadi aroma khas di sepanjang perjalanan wisata ini. Jendela kereta yang terbuka tanpa kaca, membuat aroma asap melekat di baju-baju para penumpang. Kereta uap ini digerakkan dengan tenaga yang dihasilkan oleh mesin uap. Air di dalam tangki mesin dipanaskan dengan bantuan pembakaran bongkahan kayu jati. Inilah yang membuat perjalanan wisata kereta api uap ini menjadi berbiaya mahal, karena kebutuhan kayu jati sekitar 3 meter kubik sebagai bahan bakar selama perjalanan.

pembakaran kayu kereta api uap

Tak terasa 1 jam sudah berlalu, jarak Ambarawa – Bedono yang hanya sekitar 10 km selesai ditempuh pulang balik. Para penumpangpun segera turun dan bisa melanjutkan wisata dengan melihat-lihat peralatan yang dahulu digunakan untuk mengoperasikan kereta api uap di Stasiun Willem I.

museum kereta api ambarawa

Kereta pun segera bergerak kembali ke depo pemeliharaan kereta untuk menjalani checking rutin. Perjalananpun wisata pun berakhir sampai disini.

Pengalaman yang menarik, berasa kembali ke masa lalu saat kereta api uap masih menjadi andalan transportasi di Indonesia. Museum Kereta Api Ambarawa ada di Jl. Stasiun No 1┬áAmbarawa,┬áJam buka : 08.00 – 16.00 WIB.

Jadi kapan anda piknik kesini? ­čśÇ

Regards,

Eva Zahra

3 thoughts on “Kereta Api Uap Terus Melaju di Ambarawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *