Personal Life

Label Halal Atau Haram, Penting Yang Mana?

Lebih penting mana di Indonesia, label halal atau label haram?

Menarik banget untuk dijadikan bahan renungan, mengingat negeri ini mayoritas penduduknya muslim, tapi edukasi tentang halal dan haram, terutama pada barang-barang konsumtif  (makanan, kosmetik dll) masih terbatas pada bahan yang mengandung unsur dari babi, anjing, dan khamr. Sementara definisi kehalalan sebuah produk itu sangat luas.

Saya bukan orang yang ahli di bidang ini, tapi saya seorang yang peduli pada edukasi halal terutama untuk barang-barang yang kami konsumsi sehari-hari. Mengingat besarnya keutamaan mengkonsumsi produk halal, terutama untuk orang muslim.Perhatikan ayat Al Qur’an dibawah ini:

Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu

(QS Al Baqarah:168)

Karena kurangnya ilmu yang saya miliki, saya belajar dari komunitas-komunitas halal, contohnya @HalalCorner  ataupun membaca artikel  di website direktori halal yang bisa diakses dengan mudah, contohnya halalmui.org ataupun myhalalcorner.com

Kembali lagi pada celetukan tentang lebih penting mana label halal atau label haram tadi. Saya tidak ingin membahasnya dari sisi ilmu agama yang belum  saya kuasai dengan baik. Saya ingin berbagi kisah yang saya temui dalam lingkungan kehidupan sehari-hari.

Saat saya tinggal di Jogjakarta, seringkali ada info yang meresahkan tentang kehalalan makanan yang dijual di gerai-gerai di Mall, maupun rumah makan / warung makan yang ada di kota Jogja. Mulai dari kabar penggunaan minyak babi, bakso yang dicampur dengan daging yang haram, maupun penggunaan bahan-bahan tambahan yang mengandung arak. Saya sebagai orang awam tentu saja resah mendengar berita ini.

Sejak ikut pertemuan-pertemuan komunitas Halal Corner Jogjakarta @HCJogja , saya mulai memperhatikan pilihan-pilihan tempat untuk membeli makanan yang akan saya konsumsi. Terutama bila berada di suatu tempat yang asing bagi saya. Paling mudah memang membeli makanan di gerai-gerai yang sudah mencantumkan logo Sertifikasi Halal yang dikeluarkan oleh MUI. Tapi jika yang ada hanyalah warung-warung makan biasa, bagaimana saya bisa tahu bila mereka tidak menggunakan zat yang terindikasi haram?  Mungkin yang ada hanya logo halal bulat polos yang dipajang oleh sejuta warung di indonesia.

Logo Halal MUI 2Cara paling mudah adalah bertanya. Syukur-syukur bisa menengok ke dapurnya hehe… Tanyalah apakah warung ini menggunakan bahan arak, angciu, rhum atau nama-nama zat yang mengandung alkohol. Itulah fungsi dari mencari informasi dari web directory halal yang ada di media online. Kita jadi tahu titik kritis dari bahan-bahan yang digunakan untuk membuat makanan.

Tetaplah bertanya, walaupun pada spanduk di depan rumah makan it sudah ada gambar bulatan bertuliskan kata Halal yang seperti biasa terlihat di warung manapun. Kecuali rumah makan itu sudah terdaftar dalam daftar rumah makan yang bersertifikasi halal dari lembaga MUI yang infonya juga mudah diakses saat ini dengan media sms maupun aplikasi info produk  halal. Jangan sampai rasa sungkan itu membuat kita abai dan mengesampingkan keutamaan untuk mengkonsumsi makanan halal.

Saat saya tinggal di Kota Magelang, saya melihat fenomena menarik yang ada pada restoran dan warung-warung makan yang ada di sini. Banyak yang sudah mencantumkan daftar menu “haram” nya di spanduk, banner maupun daftar menu nya. Jadi tak usah heran bila di pinggir jalan ada tertulis menu Sop Babi, menu serba ular, Rica-rica RW (istilah lain dari Anjing), menu B2 (istilah untuk menu dari daging babi).

Menurut saya ini sangat menarik dan bermanfaat. Sebagai orang muslim, kita jadi tahu bila warung makan itu memang menyediakan menu makanan haram. Sehingga sudah jelas sebagai orang muslim saya akan mencari tempat lain yang hanya menyediakan makanan halal.

Saya teringat pada cerita dari seorang sahabat saya saat bepergian ke Singapura. Saat dia memilih sebuah restoran untuk tempat makan, salah seorang pelayan mendekatinya dan berkata bila restoran itu menggunakan bahan-bahan tambahan yang tidak boleh dikonsumsi orang muslim. Sehingga sahabat saya itupun mencari tempat lain untuk membeli makanan.

Luar biasa sekali perlindungan konsumen di restoran itu. Saya tidak tahu apakah ini berlaku umum disana, bahwa hak seorang muslim untuk mengkonsumsi makanan halalpun dihormati. Seandainya di negeri ini yang mayoritas muslim, pengusaha dan karyawan setiap rumah makan juga menyediakan informasi yang jelas seperti ini. Sehingga tak ada lagi siaran televisi yang mengangkat berita tentang ditemukannya bakso yang dicampur daging celeng (babi hutan), maupun makanan yang ternyata mengandung minyak babi.

Jadi manakah yang lebih penting, label halal ataukah haram? Dua-duanya penting. Di negara yang mayoritas muslim, mungkin akan lebih seru bila nanti ada sertifikasi haram, hehehe… Jelas dan tegas! Jujur pada konsumen tentang apa saja zat yang terkandung dalam produk makanan yang ada adalah sebuah bentuk perlindungan dan pelayananan untuk konsumen.

Semoga cuap-cuap saya kali ini bermanfaat ^^

Salam Hangat,

@EvaZahraa

2 thoughts on “Label Halal Atau Haram, Penting Yang Mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *