Notes

Lelaki Kecil Itu

Lelaki kecil itu duduk di ujung tangga. Diam termenung melihat ke arah jalan raya. Tak terlihat kerling mata jahil dan senyum usil di wajah lucunya.

Puluhan kendaraan yang melintas tak mengalihkan arah pandangan matanya. Ya…sepertinya dia sedang melamun. Tapi apa yang dilamunkan oleh seorang lelaki kecil usia 8 tahun?

“Mikirin apa sih, serius sekali” tanyaku

“Nggak mikirin apa-apa kok…” jawabnya sambil tersenyum malu. Kemudian dia meraih tanganku, pamit untuk pergi berlalu.

Pertemuan berikutnya…

Lelaki kecil itu datang di waktu yang tidak biasanya. Dia mengikutiku kemana-mana seperti gerbong yang mengikuti lokomotifnya. Berharap lokomotif ini berhenti sejenak dan memberinya waktu untuk berbicara.

“Kok ngikutin mulu… sini deh mau cerita apa?” tanyaku sambil menarik sebuah kursi untuknya.

“Nanti malam papaku pulang, aku takut kalau dimarahi lagi” katanya sambil menggoyang-goyangkan kaki kecilnya.

“Seharusnya senang donk, papa pulang. Kan sudah lama tidak bertemu”, kataku menghiburnya.

“Setiap papa pulang, aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang papa berikan, kalau salah, aku dimarahi. Semoga papa nggak jadi pulang”, ucapnya sendu.

Aku tidak tahu apa yang sudah dia alami selama ini. Yang aku tahu, dia anak sulung dengan 3 adik balita, dan hanya dia yang lahir dari ayah yang berbeda dengan adik-adiknya.

Hingga di suatu senja, seorang ibu muda datang dan bercerita tentang rencananya untuk pergi mengikuti suaminya dan meninggalkan lelaki kecil ini dalam asuhan kakek neneknya.

Di pertemuan yang kesekian… Lelaki kecil itu terlihat semakin kurus dan tak bersinar lagi sorot matanya. Walaupun masih suka mengikutiku kemana-mana, tapi semakin sedikit kata-kata yang dia rangkai dalam sebuah cerita.

Dia semakin terlatih menyembunyikan luka hatinya. Dan aku semakin kehabisan kata-kata untuk memancing ceritanya. Hanya bisa menemaninya yang sedang menumpahkan isi pikirannya dalam lukisannya.

Di suatu senja di pertemuan yang entah keberapa, lelaki kecil ini kembali kutemukan sedang duduk termenung di ujung tangga. Menunggu ada yang menjemputnya untuk segera pulang. Hingga malam menjelang, tak jua ada yang menjemputnya pulang.

“Yuk, aku antar pulang, mungkin keluargamu sedang ada keperluan penting dan belum bisa menjemputmu pulang” ajakku saat melihat wajah sedihnya.

Tapi disana, yang terlihat adalah wajah-wajah tak peduli, seakan-akan lelaki kecil itu antara ada dan tiada.

Sejak itu, aku tak pernah melihat lelaki kecil itu lagi… Tak juga kutemukan lagi kerling jahil dan senyum usilnya saat memunculkan kepalanya sekedar memberi salam kepadaku dari balik pintu.

Lelaki kecilku, dimanapun kini kamu berada, semoga kebahagiaan akan menyertaimu segera. Kamu masih terlalu kecil untuk menanggung beban pikiran tanpa tahu bagaimana cara menceritakannya.

*****

Selintas kisah di pagi hari dan mengingatkanku pada lelaki kecil itu.

Regards

Eva Zahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *