Notes

Lucunya Dimana?

Mungkin kamu pernah berada di situasi semacam ini.Β  Saat sedang rame-ramenya bercanda, ketawa ketiwi sambil saling bully, tiba-tiba salah seorang temanmu bertanya,”Lucunya dimana?”. Dan suasana langsung freeze, hening sejenak, hanya suara jarum jam dinding yangΒ  terus berdetak..tik..tok..tik..tok…lalu pecahlah suara tawa berjama’ah, menertawakan ketidaklucuan temanmu itu.

Ya…lucu itu relatif. Yang bagiku lucu mungkin bagimu tidak lucu. Begitupun sebaliknya. Karena lucu itu letaknya di rasa, bukan di logika. Coba kamu bayangkan seandainya lelucon bahasa jawa diterjemahkan menjadi bahasa indonesia. Mungkin akan kehilangan nilai lucunya. Karena lucu itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang sedang ada di frekuensi lucu yang sama. #halah

Teringat aku pada kejadian yang telah lalu, saat aku terkikik-kikik membaca sebuah buku di salah satu pojokan favorit di toko buku langgananku. Dan ternyata, tanpa aku sadari orang-orang yang ada di sekitarku memandangku dengan ekspresi yang aku sendiri tidak paham maksudnya apa. Mungkin mereka heran, ini ada mbak-mbak berjilbab cekikikan sendiri, jangan-jangan dia butuh di rukyah karena kesambit jin yang terobsesi ikut acara stand up comedy.

Tapi biarlah, aku tidak peduli. Wajar donk kalau aku ketawa membaca buku yang lucu. Coba mereka nanya, “Mbak, kok ketawa mulu, lagi baca buku apa sih? Kayaknya lucu banget”. Dan aku dengan senang hati akan berbagi cerita, syukur-syukur aku bisa membuatnya tertawa, dan kami berdua akan mengundang tanya dari orang lain juga hahaha…

Ya.. Lucu itu memang relatif. Pernah suatu ketika saat aku masih kuliah, seorang temanku terlihat membaca sebuah buku, dan sepanjang waktu itu tak tampak sedikitpun senyum dan tawa yang terlihat di wajahnya. Setelah lama mengamatinya, akhirnya aku dan teman akrabku mengambil kesimpulan,”Sepertinya buku itu salah memilih orang, bagaimana bisa dia tidak tertawa, sementara kita berdua bisa dikira gila karena tertawa terus saat membacanya”.

Ketika kami berdua bertanya padanya tentang apa yang dia baca barusan, dia menjawab,”Aku nggak paham dimana lucunya”. Dan jawaban itu cukup untuk membuatku dan teman akrabku tertawa sekaligus prihatin dengan selera humor kami yang berbeda-beda.

Begitupun hidup ini, semua serba relatif. Tergantung siapa yang menjalaninya dan bagaimana dia menggali maknanya. Berat ringannya suatu beban kehidupan hanya lah sesuatu yang relatif nilainya. Masalah yang menurutku biasa saja, bisa jadi menjadi hal yang serius dan membebani pikiran orang lain. Begitupun sebaliknya.

Yang jelas, aku bersyukur dikaruniai kemudahan untuk tertawa dan menemukan hal-hal sederhana untuk ditertawakan. Karena saat aku mengalami sebuah masalah yang menurutku berat, maka salah satu ukuranku untuk tahu tingkat kesembuhan luka hatiku adalah saat aku sudah bisa melihat sisi lucu dari masalah itu dan menertawakannya.

Dan bila suatu ketika aku menemukan seseorang yang bertanya,”Lucunya dimana?”, aku akan menjawab,”Lucu itu ada di rasa, bukan di logika”. Kemudian aku akan membuatnya tertawa, menertawakan ketidaklucuannya. πŸ˜€

Dariku, yang senang melihatmu tertawa dan bahagia,

@EvaZahraa

5 thoughts on “Lucunya Dimana?

  1. Onok sing luwih menyebalkan mba. Dalam sekumpulan grup sedang ngakak-ngakan guyon. ehh ada seorang yang komentar joke yang disampekno temen yang lain itu garing… hmm padahal yang lain ketawa.
    iniii wes ora ngerti lucunya di mana malah komentar pedes. Njauk disambit sandal jepit.

    1. Huehehe.. Ajaib banget tuh. Dia sendiri ga tahu kalo dirinya ga tahu πŸ˜€ Kene mas tak rewangi mbalang wong kuwi πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *