Kehidupan

Mainkan Saja Peranmu

Suatu ketika saya mendapatkan sebuah BroadCast artikel yang entah sudah ke berapa juta kali diforward #haiyah 😀 Isinya cukup dalam untuk direnungkan. Isinya tentang menjalankan peran masing-masing sebaik-baiknya. Bukankah Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna? Semua sudah didesain dengan sempurna. Manusia sempurna lengkap dengan peran masing-masing. Hanya saja manusia seringkali menilai kesempurnaannya dengan standar kesempurnaan orang lain.

Level iman manusia itu naik turun laksana roller coaster. Disaat level iman melemah, terkadang kita iri pada pencapaian orang lain, sehingga kita lupa bila kita pun punya peran dan amanah untuk dijalankan. Pepatah lama mengatakan “Rumput tetangga lebih hijau”. Harusnya ditambahin lagi, “Tanyalah bagaimana cara merawatnya!”.  😀

Berikut ini isi BC nya..
Penulis reminder ini adalah Ust Salim A. Fillah, seorang Da’i yang kiprahnya luarbiasa. Dan isi artikelnya beredar luas dari broadcast ke broadcast di dunia online.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan. Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati, sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab. Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis. Mainkan saja peranmu, ya mainkan saja, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk. Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah? Lelah yang Lillah, berujung maghfirah.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu? tetap berjalan bersama ridha-Nya dan ridhanya, untuk bahagia buah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya, langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut. Mainkan saja peranmu dengan sebaik-sebaiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam menengadah mesra bersamanya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati. Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana zulaikha yang sabar menanti Yusuf tambatan hati, atau bagai Adam yang menanti Hawa di sisi.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini, membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu. Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian, rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah dalam catatan takdir manusia.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Taat yang dalam suka maupun tidak suka.Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasa menjadikan kekuatan untuk tetap taat.

Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-Nya, dan karena-Nya.

*******

Seandainya kita memahami peran masing-masing di dunia ini, maka yang muncul adalah kedamaian di dalam diri. Berusaha lagi untuk memperbaiki Tauhid kita pada Allah. Kembali lagi pada upaya mengenal diri sendiri. Betapa sering kita sibuk melihat keluar, berusaha memahami orang lain. Berusaha keras untuk mengambil peran penting dalam kehidupan orang lain. Sementara diri kita sendiri belum diakrabi. Peran sebenarnya yang Allah titipkan pada diri ini belum kita sadari dan belum kita jalani sebaik-baiknya dengan hati yang ikhlas.

Sebuah renungan bagi diri ini yang masih terus belajar untuk memperbaiki level Tauhid dan berusaha memahami diri sendiri.

Semoga bermanfaat,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *