Life

Males Menulis Sesat di Pikiran

Ternyata sudah 3 minggu berlalu sejak postingan blog yang lalu 😀 Nggak terasa ya… Komplikasi antara sibuk, males dan lupa. Luwarbiyasak efeknya… Kebablasan jadi mager alias males gerak.

Yuk maree kita mulai lagi konsistensi mengisi blog ini dengan tulisan sesuai mood dan pesanan hehehe…

Teringat pada tulisan yang tertera pada sebuah pembatas buku,

Rasa malas yang dituruti dan dibiarkan, lama-kelamaan akan membelitmu laksana ular phyton yang siap menghancurkanmu.

Yes, rasa malas itu ternyata bersahabat akrab dengan kebiasaan menunda. Keduanya berjalanan beriringan, dan makin lama akan saling menguatkan. Penundaan yang satu akan mengajak penundaan berikutnya hingga timbul rasa malas. Rasa malas ini yang akan bergulir makin lama makin susah dihilangkan.

Malu bertanya, sesat di jalan… Itu mah peribahasa jaman dulu. Justru yang terjadi saat ini adalah makin banyak orang yang malas bertanya dan siap tersesat. Karena dengan nyasar saat traveling, justru ada banyak pengalaman seru dan kejutan-kejutan seru yang justru membuat sebuah traveling menjadi kenangan indah yang susah dilupakan. Seperti saya misalnya 😀

Malas menulis, sesat di pikiran. Nah ini yang sedang saya rasakan. Banyak orang bilang jika saya punya bakat membuat meriah suasana dengan obrolan random saya ehehe… Sebenarnya ini hanya kalimat untuk memperhalus kebiasaan saya yang suka memancing kehebohan 😀 Tapi tetap saja ada banyak hal termasuk keluhan dan masalah yang tidak nyaman untuk saya share terbuka saat berbincang bersama teman dan sahabat. Salah satu solusinya adalah dengan cara menuliskannya. Lha kalau menulispun mulai jarang saya lakukan, yang terjadi adalah masalah-masalah yang belum ada solusinya itu bergerak liar di pikiran saya. Tersesat di relung-relung yang ada dan kadang mengganggu konsentrasi saya.

Bagi sebagian orang, menulis bukan hanya media tempat menuangkan ide dan khayalan. Banyak juga yang menggunakannya sebagai sarana merelease masalah atau kenangan yang ingin dibuang jauh. Karena ingatan kita ini laksana rumah yang harus ditata dan dirapikan serta dibersihkan dari hal-hal yang tidak berguna lagi.

Bayangkan rumah yang disana-sini bertebaran sampah, penuh barang-barang yang tidak berguna dan berantakan susunannya. Sangatlah tidak nyaman, terasa sumpek dan kotor. Untuk mampir sendiri pun mungkin tak akan bertahan lama, bagaimana mungkin mengajak orang lain untuk berlama-lama juga berkunjung kesana.

Berbeda dengan rumah yang tertata rapi, sering dibersihkan, berisi perabotan yang sesuai dengan kebutuhan, terasa lapang dan sejuk dipandang. Membuat kita betah dan ingin menetap selama mungkin disana. Begitupun dengan orang lain, mereka pun nyaman berkunjung dan berlama-lama menikmati kenyamanan yang ada.

Jadi menulislah saat mulut kita tak sanggup mengungkapkan apa yang tersimpan di dalam pikiran. Pindahkan sebagian beban pikiran dalam lembaran-lembaran tulisan. Tak harus kita tunjukkan pada orang lain, bisa jadi tetap menjadi rahasia yang kita simpan. Namun mungkin kini atau nanti hikmahnya akan bisa kita bagikan agar memberi manfaat bagi banyak orang.

 

Regards,

Eva Zahra

 

7 thoughts on “Males Menulis Sesat di Pikiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *