Blogging Tips, Personal Life

Manfaat Menulis Untuk Terapi Emosi Wanita

Mbak, aku jenuh dengan rutinitas hidupku, berasa nggak punya karya dan kurang berdaya, tolong dong beri saran, apa yang harus aku lakukan?

Ada nggak sih kegiatan yang bisa menjadi hiburan sekaligus solusi stres yang kita alami?

Pernah mendengar pertanyaan seperti ini? Yap…. ini hal yang bisa terjadi di sekitar kita, atau mungkin kamu juga pernah mengalaminya? 😀

Wanita dengan segala kompleksitas permasalahan hidupnya dianggap lebih mudah mengalami tekanan jiwa dibandingkan dengan pria. Begitukah? Yuk kita lihat apa saja yang mungkin menjadi penyebabnya.

manfaat menulis untuk terapi emosi wanita
source : pixabay.com

Peran wanita saat ini ada di berbagai bidang profesi, baik karena murni pilihan hidupnya sendiri atau karena dipaksa oleh kondisi dan keadaan saat itu. Ibu rumah tangga, wanita karir, social worker (mau menulis istilah pekerja sosial kok kurang asik maknanya), maupun profesi lainnya. Semua itu menurut saya adalah sebuah profesi karena membutuhkan skill khusus  masing-masing.

Banyak pula wanita yang menjalani profesi ganda dalam hidupnya. Sehingga tidak bisa kita membandingkannya satu sama lain. Kita perlu pahami latar belakang pilihannya. Lalu apa saja yang memicu stress pada wanita saat ini?

Mengapa Menulis Menjadi Terapi Stres Pada Wanita?

Penyebab stres pada wanita diantaranya adalah :

  1. Faktor hormonal
    Nah ini dia yang sering kali dijadikan alasan saat kondisi wanita sedang PMS (rasa sakit sebelum periode datangnya menstruasi). Meskipun tidak semua, ada sebagian wanita yang mengalami perubahan mood dan mengalami ketidakstabilan emosi saat PMS. Bahkan ada joke begini : “Kalau ada singa bertemu wanita yang sedang PMS, bukan wanitanya yang takut, tapi singanya yang minggir” 😀 Untungnya ini hanya terjadi beberapa hari dalam sebulan.
    Kondisi hormonal yang menyebabkan perubahan mood yang lebih ekstrim bisa dialami oleh ibu-ibu yang sedang hamil.  Belum lagi yang dialami oleh wanita yang baru saja melahirkan. Baby Blues Syndrom dan Postpartum Depression, adalah peristiwa yang masih membutuhkan banyak edukasi atas efeknya. Mereka butuh dukungan sekaligus solusi untuk mengatasinya.

    manfaat menulis untuk terapi emosi
    source : pixabay.com
  2. Masalah hidup sehari-hari.
    Namanya juga tinggal dalam sebuah lingkungan hidup, pasti ada donk masalah yang muncul pada wanita. Misal : persaingan di lingkungan kerja, deadline tugas, ibu-ibu menghadapi anak yang sakit, permasalahan dengang pasangan, perselisihan dengan tetangga/teman, tagihan bulanan yang wajib dilunasi, dan hal lainnya. Ini pasti membutuhkan effort yang lebih besar untuk mencari solusinya.
  3. Manajemen waktu karena berperan ganda.
    Tanpa memberikan penilaian atas setiap pilihan yang diambil, sebagian wanita menjalani peran ganda, sebagai wanita karir sekaligus ibu dan istri dengan kompleksitas masalahnya. Beruntunglah bagi para wanita yang memiliki pasangan yang bisa menjadi partner sekaligus team yang solid saat mengatasi permasalahan yang hadir. Namun kondisi tidak selalu ideal, dan wanita yang kelelahan menjalani peran ganda ini sangat rentan dengan stress.
  4. Merasa tidak berdaya.
    Berapa banyak wanita yang ingin berubah ke arah yang lebih baik namun tidak tahu bagaimana caranya. Bisa karena memang kurangnya informasi, kurang percaya diri, belum menemukan komunitas yang sesuai.  Atau bisa juga karena kurang mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitarnya. Rasa tidak berdaya yang bertumpuk-tumpuk ini yang lama kelamaan akan berkembang menjadi stres.

    menulis untuk terapi emosi
    source : pixabay.com
  5. Perubahan hidup yang mendadak.
    Peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba seperti musibah, ditinggal pasangan, kena pemutusan hubungan kerja atau lainnya adalah hal yang bisa menjadi sebab stres bagi wanita.

Pada dasarnya wanita butuh dukungan dari pihak lain (spiritual, keluarga, teman atau komunitas) untuk mengurangi tekanan pikirannya. Salah satu yang sering dilakukan adalah dengan cara curhat.

Bila kegiatan curhat dilakukan pada pihak yang tepat dan mampu memberi solusi, maka besar kemungkinan wanita ini dapat mengatasi tekanan pikirannya. Namun bila tidak, bukan solusi yang diperoleh, tapi justru kebuntuan pikiran. Rasa malu pada orang lain untuk curhat dan ketakutan bila kisahnya tersebar luas bisa juga menjadi penghalang bagi para wanita untuk mencari solusi dengan cara curhat.

Bila stres ini tidak diatasi, efeknya akan mempengaruhi orang-orang di sekitar wanita itu juga. Keluarga, pasangan, anak, sahabat, teman, relasi dan lain sebagainya bisa jadi ikut merasakan saat seorang wanita mengalami tekanan pikiran yang berat.

Bagaimana kalau menuliskannya saja? Menulis selain bisa menjadi cara ekspresi diri, membagikan isi pikiran, personal branding, berbagi ilmu, berbagi kisah, bisa menjadi sarana terapi diri lho…

Mental Block Memulai Menulis Untuk Terapi Emosi

Aduuuh menulis apa ya? Saya tidak bisa menulis.

Pernah mendengar kalimat seperti itu? Ada saja alasan yang muncul saat saran menulis ini diberikan pada seorang wanita. 😀 Apa saja sih yang biasa jadi alasan?

terapi menulis
source : pixabay.com
  • Tidak punya bakat.
    Memangnya harus punya bakat ya untuk menulis? 😀 Yang perlu dibentuk itu kebiasaan menulisnya dulu. Syaratnya cuma dua : rutinitas dan latihan.
    Itu dahulu yang perlu dilakukan. Biasakan menuliskan apa yang dirasakan dan lakukan setiap hari sampai kira-kira 1 bulan. Boleh di kertas, di buku, atau langsung dalam bentuk blog. Dengan membentuk habit/kebiasaan baru ini, akan lebih mudah menggali potensi diri.
  • Tidak bisa menulis.
    Masa sih, lalu puluhan tahun kita sekolah itu ngapain saja? 😀 Menulislah, mulai dari saat ini, diulang-ulang, sampai kita menemukan pola tulisan khas kita sendiri.
  • Tidak punya waktu.
    Mantan Presiden kita Bapak BJ Habibie yang terkenal sebagai ilmuwan dan sangat sibuk pun masih bisa meluangkan waktu untuk menulis. Lha kita lebih sibuk kah? Kalau tidak dimulai sekarang, lalu kapan lagi? Penundaan adalah pangkal kegagalan memulai perubahan. Ayo diatur ulang waktunya.
  • Takut dikritik orang.
    Biarkan saja orang mengkritik hasil tulisan kita, ambil sisi baiknya untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. Lagipula lihat dulu siapa yang mengkritik kita. Kalau dia orang yang kompeten di bidangnya, jadikan mentor sekalian. Tapi kalau dia hanya bisa mengkritik tanpa kasi saran, buat apa didengarkan?
  • Tidak paham struktur bahasa dan ejaan yang benar.
    Kita menulis bukan untuk membuat modul kuliah dengan bahasa resmi. Tujuan kita menulis adalah untuk sarana terapi diri. Memindahkan beban pikiran ke atas kertas agar lebih mengurangi berat beban sekaligus mencari solusi masalah yang kita hadapi.

Mau pakai alasan apalagi? 😀 Menghitung alasan sama sulitnya dengan menghitung bintang di langit 😀

Menulis Untuk Terapi Emosi

Menulis itu memiliki banyak manfaat, terutama bagi para wanita untuk mengendalikan emosinya. Maraknya akun sosial media makin memperbanyak sarana alternatif yang bisa digunakan selain menulis langsung di kertas dan di dalam blog.

Lalu bagaimana cara memulai menulis untuk terapi diri? Perlu diingat bahwa tidak semua tulisan bisa menjadi terapi emosi diri.

Apa saja langkah yang perlu dilakukan?

  1. Membentuk kebiasaan/habit.
    Luangkan waktu yang tetap dalam hari-hari kita untuk menulis. Di malam hari sebelum tidur, dini hari setelah sholat tahajud, setelah sholat subuh atau kapanpun kita bisa meluangkan waktu yang tetap dan tidak ada gangguan. 15-30 menit saja cukup. Masa nggak ada sih? 😀
  2. Niatkan diri untuk menulis sebagai sarana terapi diri.
    Perbaiki niat karena ini akan mempengaruhi prosesnya. Menulis untuk terapi berbeda dengan menulis untuk kebutuhan lainnya. Niatkan ini untuk kebaikan dan perbaikan hidup kita dan orang-orang yang kita sayangi.

    mengatasi tekanan stres
    source : freegreatpicture.com
  3. Mulai menulis, abaikan kaidah bahasa.
    Menulislah… boleh di kertas atau di laptop. Tuliskan seakan-akan kita menulis untuk diri kita sendiri. Menuliskan beban pikiran kita, impian kita, harapan  kita, masalah kita. Setelah selesai, lalu simpan. Baca ulang setelah beberapa hari kedepan. Akan muncul sudut pandang baru dari hasil tulisan kita. Tidak mustahil solusi masalahpun hadir. Segera lakukan solusi yang hadir.  Setelah itu terserah mau disimpan, dirobek dan dibuang, atau diremake untuk dibagikan pada orang lain.
  4. Bolehkan menulis di facebook dan akun sosial media lain?
    Boleh saja, tapi ada syaratnya. Hilangkan : keluhan, hujatan, kalimat yang berisi kemarahan/hinaan/menyerang pihak lain, begitupula dengan kata-kata negatif.
    Tuliskan hal-hal yang bermanfaat dan memberi efek positif bagi diri kita dan orang lain.
  5. Benahi terus pola bahasa setiap kali kita menulis dan membaca ulang tulisan kita. Ambil hikmah di dalamnya. Dan berpikirlah dengan cara yang lebih positif.
  6. Bagikan pada orang lain pelajaran positif yang bisa kita dapatkan.

Masih banyak langkah-langkah yang bisa ditambahkan. Tapi semua itu tidak ada artinya bila tidak kita praktekkan…

Ok..setelah membaca itu semua, kapan kamu akan memulainya?

Regards

Eva Zahra

4 thoughts on “Manfaat Menulis Untuk Terapi Emosi Wanita

  1. Yup bener Eva. Bagiku, menulis utk diri sendiri, syukur2 bisa bermanfaat pengalamannya utk orang lain. Menjadi catatan yg bisa dikenang melalui tulisan, supaya hardisk di kepala dan hati gak full, terus menginspirasi lewat tulisan ya kita.

Leave a Reply to Primastuti satrianto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *