Lesson in Life

Masih Yakin PadaKU?

Saya mengenalnya sejak 2 tahun yang lalu, seorang gadis yang sekarang menjadi salah seorang sahabat terbaik, saudari, teman usil sekaligus guru dan inspirator hidup saya. Kami jarang bertemu langsung, mungkin hanya sebulan sekali menyempatkan bertemu untuk makan siang sekaligus ngobrol tentang hidup dan kehidupan.

Dia sudah mengawali kemandirian sejak SMP. Dia tidak tahu dimana orangtua nya, karena sejak kecil dia dirawat oleh keluarga lain. Sejak SMP dia memutuskan untuk mandiri, tidak membebani orang lain. Dia membiayai sekolahnya dengan bekerja sebagai buruh pemotong benang di sebuah perusahaan konveksi. SMA dan kuliah dia jalani sambil bekerja sebagai sales barang-barang kebutuhan rumah tangga. Sejak remaja semangat hidupnya terlatih oleh kerasnya kehidupan yang dia jalani.

Selepas kuliah dia bekerja di sebuah bank ternama. Dedikasi dan loyalitasnya tak perlu diragukan lagi, sehingga dia diberi penghargaan dengan kemewahan danĀ  fasilitas wisata menjelajahi negara-negara di asia dan eropa setiap 3 bulan sekali. Hingga akhirnya dia mengalami kejenuhan yang teramat sangat, dia merasa kering dari ketenangan hidup. Dia lapar ruhiyahnya. Hidayah itu akhirnya datang dari Allah. Tiba-tiba dia memutuskan untuk cuti dan menjadi relawan bencana gunung merapi di bagian dapur umum karena dia tak mempunyai kemampuan di bidang medis dan rescue.

Rencana cuti beberapa minggu berlanjut hingga seterusnya. Dia menemukan dunia yang dia cari, dunia sosial, dunia memberi, dunia berbagi manfaat dan menolong orang lain. Saat itu juga tanpa ragu dia resign dari bank tempatnya bekerja, meninggalkan kemewahan yang dia nikmati sebelumnya. Isi tabungan selama bekerja dia gunakan untuk berbagi, hingga habis tak tersisa. Jika semula ada fasilitas mobil mewah untuk bepergian, saat itu dia hanya menggunakan sepeda untuk bepergian kemana-mana. Banyak tawaran untuk kembali berkarir di bidang perbankan dan bisnis. Dia tolak karena merasa bukan disitu perannya di dunia.

Dari komunitas relawan sosial, dia menemukan keluarga baru yang dia inginkan selama ini karena dia menjadi dekat dengan komunitas pesantren dan komunitas kajian agama. Kemampuan managerial nya membuatnya menjadi koordinator event-event besar. Membuatnya mudah berkomunikasi dengan ulama dan da’i yang diundang untuk mengisi event pengajian akbar.

Hingga akhirnya dia diberi tanggung jawab untuk menempati sebuah rumah yang digunakan untuk kegiatan sosial dan pengajian sekaligus menjadi penanggung jawab untuk mengelola kegiatan-kegiatan tersebut. Kehidupannya seperti kembali stabil dan ideal untuk sekitar 2 tahunan. Zona nyaman dia nikmati. Tak perlu lagi pusing memikirkan bagaimana cara mempertahankan hidup di perantauan. Dia hanya fokus menjadi pengelola event dan komunitas. Rezeki hidupnya dia pasrahkan pada Allah.

Dan kembali zona nyaman itu terusik. Penyandang dana menarik diri karena suatu hal, kontrak rumah lokasi tak diperpanjang lagi. Dia terusir dari tempatnya bernaung, tanpa kejelasan bagaimana kelanjutan nasibnya. Menumpang tinggal di kos teman-temannya, sambil tetap mengisi hidupnya sebagai relawan komunitas pengajian dan sosial. Beberapa kali dia menginap di rumah saya. Dan semakin saya mengagumi sisi tauhid nya yang luarbiasa.

Setiap kali kami bertemu untuk melepas rindu dan bertukar kisah, tak terlihat rasa letih di wajahnya. Tetep ceria, usil dan tengil saat bercanda bersama. Pembicaraan kami tak ada basa basi, serius tapi penuh dengan tawa dan canda saat menemukan sisi lucuĀ  dan hikmah peristiwa yang kami alami masing-masing. Beberapa jam tak pernah cukup untuk belajar pada dirinya.

Suatu kali saya bertanya,”Pernahkah kamu lelah dan bertanya, mengapa perjalanan hidupmu luarbiasa pasang surutnya?’

Dia menjawab,”Hidup kita ini mempunyai pola, sejak kecil sudah terlihat dengan jelas. Ada jejak-jejak yang Allah tunjukkan. Coba perhatikan dan pelajari pola nya. Itulah peran yang Allah siapkan untuk kita di dunia. Sering-seringlah berkumpul dengan komunitas yang mengkaji al qur’an. Mendekat dan belajarlah dari guru-guru yang tawadhu dalam berbagi ilmu”

Saya pun kembali bertanya,”Bagaimana caramu mempertahankan semangat hidup dan prasangka baikmu pada kehidupanmu?”

Dia menjawab,”Aku yakin, Allah sedang melatihku untuk yakin pada ketetapanNYA. Setiap kali perubahan besar atas sebuah situasi itu muncul, aku yakin Allah sedang bertanya padaku, “Masihkan kamu yakin padaKU?”. Dan aku akan menjawab, aku yakin pada indahnya grand desain dan ketetapanMU, karena bersama kesulitan ada kemudahan-kemudahan”.

Setiap kali bertemu dengannya, saya merasa tertampar berkali-kali. Kalimat-kalimat yang keluar dari ucapannya dan isi percakapan kami menjadi jawaban satu persatu pertanyaan-pertanyaan yang melintas dalam pikiranku. Selalu ada pelajaran hidup yang bisa saya ambil hikmahnya. Selalu ada semangat baru dalam menikmati kehidupan ini.

Sedikit cerita ini, semoga bisa diambil hikmahnya.

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *