Lesson in Life

Melepas Kemelekatan

Seorang bapak tua yang bijaksana sedang menanti kereta api yang akan berhenti sejenak di stasiun. Dia berdiri bersama-sama calon penumpang yang lainnya. Bapak tua ini akan bepergian jauh sepertinya.  Dari kejauhan terlihat kereta api sedang mendekat. Dan begitu sampai di depan bapak itu, kerumunan  calon penumpang berdesak-desakan ingin menjadi yang pertama masuk ke dalam kereta api tersebut.

Karena sadar dengan staminanya yang terbatas, bapak bijak menunggu hingga antrian paling belakang. Segera beliau memasuki kereta api tersebut. Namun tanpa sengaja, sepatu sebelah kiri nya terjatuh di lantai stasiun. Begitu si bapak bijak ini ingin berbalik arah dan mengambilnya, peluit tanda kereta api akan berangkat terdengar nyaring. Pintu otomatis kereta api sudah tertutup dan kereta api mulai melaju.

Dengan tenang bapak bijak itu membuka sepatu yang masih menempel di kaki kanannya. Dan bapak bijak ini membuang sepatunya keluar jendela kereta api. Kemudian bapak bijak tersebut duduk di kursi dengan tenang, setenang laju laju kereta api. Jesss…jesss..jesss…jesss… kereta api terus melaju.

Seorang pemuda gagah yang sejak tadi memperhatikan perbuatan bapak bijak tersebut terheran-heran dengan apa yang dilihatnya. Pemuda gagah itu bertanya : ” Mengapa Bapak membuang sepatu yang satu lagi, bukankah dengan demikian Bapak menjadi berjalan tanpa bersepatu sama sekali?”

Sambil tersenyum bapak bijak tersebut menjawab, “Anak muda,  sepatu yang tinggal sebelah juga tidak berguna untukku lagi. Dengan membuangnya, bukankah sepatu itu akan lebih bermanfaat bagi yang menemukannya di stasiun tadi?”

Pemuda gagah itu tersipu malu mendengar jawaban bapak bijak tersebut. Dia terdiam dan mendapatkan pelajaran baru tentang makna hidup mengenai keterikatan dan kemelekatan pada suatu hal yang tidak diperlukan lagi.

Kisah tersebut adalah sebuah metafora….

Berapa sering diri kita ini bertahan untuk melekat pada suatu hal tertentu yang sebenarnya sudah tidak memberi manfaat lagi untuk diri kita. Melekat pada materi, pada manusia, pada lingkungan, bahkan pada kenangan masa lalu.

Kereta api yang melaju tadi, adalah metafora waktu yang terus berjalan. Sepatu yang dibuang itu adalah metafora hal-hal yang sudah tidak produktif lagi.  Dan hal-hal itu membuat kita melekat, membuat kita tertahan untuk dapat melihat peluang lain. Padahal hal-hal itu sebenarnya mampu kita lepaskan.

Bapak bijak tadi adalah metafora dari keikhlasan untuk membebaskan diri dari belenggu harapan dan pamrih pada hal yang sudah hilang dan berlalu. Pemuda gagah tadi adalah metafora diri kita yang masih melihat segala sesuatu hanya di permukaan saja.. belum sampai ke kedalaman makna.

Saat kita sudah melepaskan kemelekatan pada suatu hal dan membebaskan diri dari sikap “memaksa diri untuk bertahan walaupun sebenarnya kita tahu itu sia-sia”. Maka sejatinya kita memberi kesempatan pada diri kita untuk lebih mudah melihat peluang lain yang lebih berdaya. Yang pada akhirnya membuat kita mempunyai kesempatan untuk lebih bahagia.

Yuk kita renungkan lagi hidup kita. Masih adakah hal yang seharusnya sudah kita buang dari hidup kita? Dari pikiran, hati dan perasaan kita?

Semoga menginspirasi….

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *