Lesson in Life

Melihat Dengan Hati

Dibuatnya hidup kita gelap agar cahaya-NYA dapat terlihat dengan jelas di hadapan kita. Allah hendak bermesra-mesraan dalam kegelapan bersama kita, melalui masalah yang tengah kita hadapi saat ini.

~ Pola Pertolongan Allah

Dulu saya males dengan yang namanya pijat seluruh badan dan kerokan, kalaupun terpaksa harus pijat karena keseleo atau salah urat, saya mencari tukang pijat yang to the point #halah… Maksudnya langsung menangani sesuai dengan keluhan sakit di sebelah mana.

Kok males kenapa? Males pijat sebadan awalnya karena malu bila harus membuka aurat di depan orang lain.  Namun sudah menemukan solusi untuk pijat relaksasi, karena sudah banyak tempat terapi akupressure (tekanan jari) dan pijat shiatsu tanpa harus buka aurat. Akhirnya senang pijat juga hehe…

Sedangkan males kerokan karena saya kurus, bisa jadi malah ganti keluhan memar-memar di badan setelah kerokan 😀

Ada yang belum paham arti kerokan?

Kerokan adalah memindahkan hasil cetak rontgen sinar X ke kulit manusia, sehingga terlihat  bilur-bilur bermotif tulang rusuk di punggungnya hihihi…. Nggaklaaah…. Ngarang saja saya tadi. 😀

Kerokan adalah cara tradisional yang dipercaya bisa menjadi terapi pengobatan bagi orang yang sedang kurang sehat. Caranya dengan menggosokkan sisi pinggiran uang logam pada kulit tubuh secara berulang-ulang, umumnya mengikuti alur tulang belakang dan tulang rusuk.

Agar tidak melukai kulit, biasanya sebelum kerokan, kulit diberi olesan minyak (minyak kelapa, minyak zaitun atau minyak gosok). Gesekan uang logam pada kulit akan memunculkan inflamasi pada kulit yang ditandai dengan bilur-bilur berwarna merah. Kemanjurannya wallahu alam ya, kembali pada keyakinan. Lebih lengkapnya bisa dibaca di sini dan di sana.

Suatu ketika saya mengantar ibu saya ke sebuah panti pijat di daerah Tidar Campur, Kota Magelang. Disana ada sepasang suami istri bernama Pak Mukiran dan Bu Tini yang membuka praktek pijat dan urut. Namanya Panti Pijat Enggal Waras. Selain beliau berdua, kadang ada beberapa penyandang tuna netra yang juga ikut membantu disana. Tempat pijat berupa bilik-bilik tertutup bersekat-sekat. Ada sekitar 6 bilik disana.

Awalnya saya heran melihat suasana disana, dalam bayangan saya tuna netra itu selalu membawa tongkat sebagai alat bantu saat berjalan. Sementara disana, mereka berjalan seperti orang biasa. Tanpa alat bantu, bahkan kecepatan berjalan mereka termasuk tinggi. Terlihat aktifitas belanja sayur di tukang sayur, memasak, menyapu dan semua tanpa bantuan orang lain. Nah lhooo… aneh kan?

Kebetulan Pak Mukiran saat tidak ada pasien senang mengajak saya ngobrol di sela-sela waktu menunggu ibu saya selesai terapi. Kesempatan untuk belajar dari beliau.

Beliau berdua adalah penyandang tuna netra kategori low vision, jadi tidak buta total, masih ada bayang-bayang cahaya buram yang terlihat. Mereka tahu bila ada benda yang menghalangi langkah mereka tapi tidak bisa melihat jelas wujudnya.

Pak Mukiran adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, dan satu-satunya yang tuna netra di keluarganya. Beliau mulai mengalami penurunan fungsi penglihatan sejak usia 3 tahun, hingga membuat beliau mengambil pilihan pendidikan di sebuah Sekolah Luar Biasa untuk penyandang tuna netra (SLB-A) di Temanggung.

Kisah hidup beliau sangat menarik untuk diambil hikmahnya. Beliau punya tiga anak, normal semua. Anak sulung beliau sudah menjadi seorang bidan di sebuah rumah sakit bersalin. Walaupun beliau tuna netra, beliau berani mencoba hal-hal baru, bukan sekedar mandiri kemana-mana naik kendaraan umum atau mengurus administrasi pendidikan putra-putrinya tanpa banyak bantuan orang lain.

Aktifitas olahraga penuh tantangan pun beliau coba. Berenang, arung jeram, bahkan mendaki gunung bukan hal yang aneh lagi untuk beliau jalani.  Nah loo… sementara banyak orang yang punya fisik normal pun belum tentu berani mencobanya.

Yang membuat saya kagum adalah filosofi hidup beliau. Banyak nasehat yang beliau berikan setiap kali ada kesempatan untuk kami berbincang-bincang.

Beliau berkata, “Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang. DIA pasti sudah menciptakan manusia dalam kondisi yang sudah sempurna. Tidak sepantasnya saya menyesali atau malu dengan kondisi saya. Kalau saya diam saja tidak berusaha, bagaimana Tuhan akan menunjukkan jalanNYA.”

“Pasti ada potensi yang bisa saya maksimalkan. Itu harus diawali dengan ridho dulu dengan semua yang kondisi saya. Sebenarnya saya ingin jadi guru, tapi keterbatasan biaya membuat saya memilih belajar ketrampilan memijat agar bisa saya gunakan untuk bekal hidup”.

“Semua yang ada di angan-angan tidak akan memberikan manfaat bila tidak diwujudkan, mbak. Bila sudah ada ide yang bermanfaat, segera bergerak, segera wujudkan, jangan kelamaan berangan-angan. Tuhan itu Maha Pemurah, tidak usah kuatir pada rezeki kita selama kita mau bergerak dan berusaha sebaik-baiknya. Pasrahkan hasilnya pada Tuhan, mbak.”

#Plakk berasa ketampar saya… Sebuah pemahaman tauhid yang luarbiasa, datang dari orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik, namun mempunyai kedalaman keyakinan pada kuasa Tuhan.

Sepertinya bakal makin rajin kesana tiap ada kesempatan, menggali ilmu dari guru-guru kehidupan.

Mau ikut? 😀

Regards,

Eva Zahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *