Lesson in Life

Mempertanyakan Peta

#RamadhanNotes8

Pernah melihat film Dora The Explorer? Film animasi dengan target usia anak-anak. Bercerita tentang bocah kecil bernama Dora bersama monyetnya, Boots. Keduanya berpetualang mencari sebuah lokasi. Mereka membawa ransel dan mengandalkan peta untuk menemukan lokasi itu. Biasanya, Dora dan Boots mendapat gangguan dari seekor rubah bernama Swiper.

Walaupun saya bukan anak-anak lagi, tapi daripada menonton sinetron indonesia yang makin nggak jelas mutunya, saya mendingan nonton Dora The Explorer saja 😀

Di kalangan teman-teman dalam satu komunitas, kadar “disorientasi arah” yang saya miliki termasuk di  level yang cukup memprihatinkan 😀 Sehingga saat saya mempunyai rencana untuk menuju ke suatu tempat, saya benar-benar perlu mencari peta arah yang terjamin tingkat ketelitiannya.

Karena bila tidak, saya akan tergoda untuk memodifikasi rute yang ada dengan berbagai alternatif. Ditambah lagi dengan quote favorit saya: “Di sini senang di sana senang”. Nyasar? Siapa bilang… cuma mampir belok sebentar kok…Nanti juga sampai tepat waktu.

Nah… Kemarin, saya bersama beberapa teman saya mengadakan kegiatan sosial ke Panti Asuhan Daarul Qolbi. Tujuan kami adalah menyampaikan amanah dari beberapa donatur.

Amanahnya berupa paket makanan untuk berbuka puasa bersama dari Komunitas Sahabat Ke Surga, donasi Al Qur’an dan alat sholat dari komunitas Bantu Berjama’ah, serta donasi biaya pendidikan dari beberapa donatur independent. Panti Asuhan ini dikelola oleh pasangan suami istri, Pak Priyanggono, seorang mantan preman yang bertobat. Video profile Pak Pri nya ada di link ini.

Seperti biasa, survey dilakukan oleh teman-teman saya yang rumahnya relatif dekat dengan lokasi Panti Asuhan Daarul Qolbi. Yang lain membantu di bagian penggalangan dana dan pengadaan barang. Setelah melakukan survey lokasi dan wawancara awal untuk mencari info kebutuhan apa yang harus didahulukan, teman saya mengirimkan petunjuk arah seperti ini :

“Panti asuhan Daarul Qolbi, Dusun Prigen, Widodomartani, Ngemplak, Sleman.

Ancer-ancer : Pertigaan Indo****t Jl. Kaliurang KM 12,5 belok kanan (timur) ke arah ke PPG Kesenian / pasar Jangkang. Lurus sampe mentok pertigaan, di kanan jalan ada bank BP* cabang Ngemplak. Trus belok kiri (utara) 20m, langsung belok kanan (timur) mentok 200m. Lanjut belok kanan (selatan) mentok 40m. Trus belok kiri (timur) 20m, gang pertama belok kanan (selatan).

Gang masuknya sebelah toko kayu, ada plang papan nama Daarul Qolbi. Ikuti jalan, ketemu gapura dusun prigen di tengah sawah (ada plang papan nama Daarul Qolbi), masuk kampung, ikuti jalan sampai mentok.”

Hihi… welcome to peta ala-ala orang jogja. Selalu ada arah Utara Selatan Timur dan Barat. Kompas mana kompas… 😀

Saat menerima peta ini, saya langsung garuk-garuk kepala, istighfar, lalu membaca Surah Al Fatihah ayat 6 : “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Peta macam apa ini, banyak betul kata belok dan mentok 😀

Ok.. baiklaaah… waktunya untuk memanggil bala bantuan. Saya mengajak teman saya, Mbak Ayu, yang menurut saya cukup ahli di bidang blusukan.  Karena pengalamannya yang bertahun-tahun menjadi koordinator relawan di beberapa komunitas. Serahkan pada ahlinya 😀

Tibalah hari pelaksanaan event. Dengan percaya diri kami berangkat mencari lokasi berdasar peta yang penuh dengan belokan, arah mata angin dan kata mentok ini. Petunjuk awal di jalan Kaliurang KM 12,5 lancar ditemukan. Okesip belok kanan… Tugas kedua mencari lokasi Pasar Jangkang. Satu kilometer sudah berlalu, dua kilometer… Lho kok tidak segera ketemu.

Kami pun sepakat untuk bertanya pada petugas SPBU (sambil isi bensin maksudnya). Ternyata memang masih jauh. Setelah melalui beberapa kelokan, puluhan polisi tidur, lahan persawahan yang luas, beberapa petak kolam ikan dan kepentok beberapa kali, titik terang pun terbuka 😀 Alhamdulillah.. Sampai juga.

Satu persatu teman-teman kami sampai juga di lokasi. Lokasi Panti Asuhan ini diapit oleh area pemakaman dan 2 petak kolam ikan. Ada 17 anak (laki-laki dan perempuan) yang tinggal disana. Mulai dari usia 3 tahun hingga kelas 1 SMK. Syahdu benar rasanya saat saya duduk menghadap kolam ikan sambil melirik rumah masa depan (kuburan). #halah

Acara perkenalan, silaturahim dan storytelling tentang kisah teladan kehidupan Nabi Muhammad SAW pun segera dimulai. Dilanjutkan acara berbuka puasa dengan minuman dan sedikit camilan, sholat maghrib berjama’ah, lalu ditutup dengan santap malam bersama.

Di sinilah kami gantian belajar tentang Ilmu Tauhid yang sudah diamalkan Pak Pri sekeluarga beserta anak-anak Panti Asuhan. Bermodal  YAKIN dan PERCAYA bila Allah maha mengabulkan do’a-do’a mereka. Sudah 2 tahun mereka menjalankan ibadah puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak).

Mereka rajin bersedekah dan berbagi kelebihan rezeki kepada masyarakat sekitarnya (baju, beras, telur dan lain sebagainya saat dianggap melebihi jumlah kebutuhan mereka). Mereka bersandar total pada kebesaran kuasa Allah dan rajin menjaga tali silaturahim.

Merinding kami semua dibuatnya. Ternyata justru kami semua yang harus belajar terus pada Pak Pri dan keluarga besar Panti Asuhannya. Hmm.. kalau anda penasaran dan ingin merasakannya juga, silakan ikuti petunjuk arah di artikel ini hihi…

Mengingat kembali peta petunjuk arah diatas, mirip ya dengan hidup kita… Sudah diberi peta yang jelas berupa Al Qur’an dan Al Hadist. Tapi masih juga kita seperti ragu-ragu dalam menjalankannya. Masih melakukan tawar menawar dan bertanya-tanya berapa lama waktu yang dibutuhkan. Kadang kurang sabar dengan proses yang berkelak kelok penuh dengan pengalihan fokus dan perhatian. Bahkan kita kadang menunggu kepentok dulu untuk sadar.

Hmm.. Padahal, jika kita mau belajar peka pada kehadirn tanda-tanda dalam kehidupan kita. Maka akan selalu ada pembelajaran yang indah di sepanjang perjalanan hidup kita. #SelfKeplak #NgomongSambilNgaca

Renungan hidup untuk #RamadhanNotes ^^

Regards,

Eva Zahra

2 thoughts on “Mempertanyakan Peta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *