Life

Mentaubati Do’a

Saat itu malam mulai merayap semakin larut, saya masih asik bercakap-cakap dengan seorang teman. Ngobrol seru bergantian saling mendengarkan apa yang masing-masing kami ceritakan. Sampailah pada sebuah topik bahasan yang menarik saat dia bercerita tentang beberapa tawaran yang datang dari beberapa ibu-ibu yang ingin menjadikan dirinya sebagai calon menantu.

Sebuah kabar yang menyenangkan……seharusnya 🙂

Namun setiap kali dirinya sudah sangat dekat dengan salah satu dari para ibu itu, muncul hambatan dari si anak lelaki yang rencananya mau didekatkan oleh ibu itu untuk menikah dengannya. Begitu berulang-ulang. Dan teman saya itu akhirnya terjebak di pola “gagal move on dari calon mertua”.

Bukan penolakan dari anak lelaki ibu itu yang membuatnya sedih. Tapi rasa sedih karena terpaksa harus menjauh dari ibu-ibu yang sudah ada kedekatan hubungan batin dengannya.

Reaksi pertama saya adalah bengong lalu…….nyengir. Eh maap, jangan berpikir kami ngobrol dalam suasana sedih, melow, memelas dan diiringi lagu drama korea yang menyayat hati 😀

Saya kemudian bertanya pada dirinya “Sebenarnya yang kamu dambakan banget dan masih kamu cari selama ini sosok seorang ibu impianmu atau calon suami?”

Teman saya diam sejenak sambil sedikit merenung, lalu dia nyengir sambil berkata,”Iya juga ya…selama ini kan aku mendambakan dan mencari sosok seorang ibu yang penuh perhatian, penuh kasih sayang yang kebetulan tidak pernah aku miliki. Pantes saja pola seperti ini berulang terus. Yang aku inginkan ibunya, bukan anak lelakinya”.
(Oiya teman saya ini bisa dikatakan sudah kehilangan orangtua sedari kecil, dan hidup prihatin dengan ikut orang lain).

Obrolan berlanjut terus dengan fokus pada efek terkabulnya do’a-do’a di masa lalu, Yang bisa jadi saat sudah terkabul, ternyata membawa masalah baru. Kami move on dari topik jodoh yang menjadi awal dari obrolan ini. Tahu kan, obrolan tentang jodoh itu adalah rahasia ilahi yang… ah sudahlah nggak ada habis-habisnya kalau dibahas ^^

Yup…berapa sering kita lupa pada do’a-do’a kita di masa lalu, baik yang kita katakan dengan penuh kesadaran, ataupun berupa do’a-do’a yang tanpa sadar kita simpan dalam hati dan pikiran kita namun mendapat perhatian yang intens. Sehingga akhirnya mewujud menjadi sebuah realita yang hadir dalam hidup kita.

Do’a adalah tentang getaran perasaan. Do’a bukan sekedar apa yang kita ucapkan. Do’a bisa jadi adalah apa yang ada dalam fokus pikiran kita. Do’a yang kuat adalah yang disertai dengan intensitas perhatian yang besar dan melibatkan sepenuh perasaan yang ada, walaupun itu tidak terucapkan.

Saya pun mulai mereview ulang atas peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi dalam hidup saya. Bisa berwujud kejutan yang menyenangkan, ataupun menyamar dalam bentuk “masalah” dan hal yang tak diharapkan terjadi. Bisa jadi kan sebagian dari hal itu adalah jawaban dari do’a-do’a saya yang tidak saya sadari.

Mengingatkan diri kami sendiri, untuk men-taubati do’a yang tidak kami sadari, menyiapkan diri atas konsekuensi setiap do’a kami. Merutinkan diri agar ingat untuk berdo’a “Yaa Allah, mohon perlindunganMU pada kami dari do’a-do’a buruk yang tidak kami sadari, yang membawa akibat buruk dan hilangnya berkah dalam hidup kami, Aamiiin”.

Sebuah pengingat diri untuk lebih berhati-hati dalam berkata-kata, berpikir dan merasakan apa yang ada.

Regards

Eva Zahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *