Blogging Tips

Bahagia Menulis Tanpa Terjebak Riya

Bahagia menulis tanpa terjebak riya. Apa sih maksudnya riya? Ini bukan nama gadis dari kampung sebelah. Bukaaaaan… Dia sudah pindah #halah. Riya yang dimaksud disini adalah kata yang identik dengan istilah ingin pamer.

“Va, bagaimana sih cara agar aktifitas menulis kita tidak dianggap riya / pamer oleh orang lain?”

“Saya sebenarnya senang menuliskan pengalaman di jejaring sosial, tapi ada yang berkomentar nyinyir, katanya saya pamer”

“Mbak, lebih baik diteruskan apa tidak ya aktifitas menulis saya, kuatir ada tercampur rasa riya”.

Beberapa kalimat diatas adalah pertanyaan (atau pernyataan) yang beberapa kali saya peroleh dari teman dan kenalan berkaitan dengan aktifitas menulis. Dalam hal ini bisa berupa status (pendek atau panjang) di jejaring sosial, sharing pengalaman di grup chat, maupun menulis di blog pribadi maupun blog komunitas.

Begitu banyak saya bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kapasitas ilmu dan pengalaman yang pantas untuk dibagikan, tapi mereka belum berani memulainya. Sebagian kekuatiran berasal dari rasa tidak nyaman mendengarkan komentar orang lain. Namun yang paling banyak justru tidak jadi menulis karena mencemaskan reaksi orang lain. Sementara proses menulispun belum dimulai. Padahal ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari kebiasaan menulis. Terutama untuk wanita.

Ada sebuah reminder bagus dari seorang ulama zaman dahulu,

Keridhaan semua manusia adalah satu hal yang mustahil untuk dicapai,
dan tidak ada jalan untuk terselamatkan dari lidah mereka,
maka lakukanlah apa yang bermanfaat untuk dirimu,
dan berpegang teguhlah dengannya.”

(Imam Syafi’i)

Berharap semua orang suka pada apa yang kita lakukan adalah sebuah kemustahilan. Suka atau tidak suka itu penilaian yang sangat relatif. Tidak ada yang bisa terhindar dari lidah/komentar orang lain.

Kalau sama-sama berpotensi dikomentari orang lain, mengapa kita menunda melakukan hal yang baik dan membaikkan hidup kita. Hanya karena kita mencemaskan apa kata orang lain. Bukankah lebih baik kita lakukan saja hal yang bermanfaat untuk diri dan kehidupan kita?

Seorang guru saya berkata,
“Kita ini akan dimintai pertanggungjawaban atas kehidupan dan kewajiban kita masing-masing. Jadi fokuslah pada kebermanfaatan hidup kita ini.”

Kemudahan dan keterbukaan akses di jejaring sosial menciptakan pola komunikasi baru, dimana sebagian orang merasa bebas menuliskan pendapatnya termasuk dalam memberikan komentar pada pendapat / tindakan yang dilakukan oleh orang lain. Setelah terjadi information overload, sekarang bertambah dengan opinion overload. 

Lalu apakah kita mau pasrah saja dunia online dibanjiri dengan informasi negatif, berita hoax, debat kusir tak berkesudahan dan berita-berita yang semacam itu?

Bukankah lebih baik kita ambil peran untuk menyeimbangkan content negatif tersebut dengan menulis hal-hal yang positif, yang menarik, bermanfaat dan yang memberdayakan hidup kita dan orang lain?

“Terus bagaimana kalau tetap saja ada yang berkomentar negatif tentang tulisan kita, mbak?”

Hehe…. Seorang komentator akan terus jadi komentator. Jadi buat apa dipikirin? Niatkan kita menulis tanpa terjebak riya , menulis karena dengan menulis kita menjadi lebih bahagia.

Tunggu apa lagi? Yuk, nulis…

Regards,

Eva Zahra

 

2 thoughts on “Bahagia Menulis Tanpa Terjebak Riya

    1. Dan jangan sampai mati konyol kayak katak yang nyaman berenang di air hangat. Tanpa sadar bila air hangat itu ada di dalam panci yang direbus di atas kompor. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *