Blogging Tips, Personal Life

Menulis Untuk Manusia, Libatkan Rasa di Dalamnya

Menulis untuk manusia, memangnya selain manusia ada makhluk lain di dunia ini yang bisa membaca? Hmm.. mungkin ada, tapi bukan begitu juga sih maksudnya hehe… Lalu apa donk yang dimaksudkan dengan menulis untuk dibaca oleh manusia?

Perkembangan ilmu Search Engine Optimization (SEO) dalam aktifitas menulis mempengaruhi pola isi artikel blog saat ini. Misalnya nih, saya sedang mencari informasi di google dengan mengetikkan keyword tertentu. Lalu di pejwan (halaman pertama) hasil tampilan google saya amati. Ternyata dari 10 link artikel yang ada tidak semuanya nyaman dibaca. Sambil baca isi artikel sendiri  😀

Jadi teringat pas saya pertama kali ngeblog sekitar tahun 2013. Berawal dari menulis di platform blogspot gratisan.  Merutinkan diri untuk menulis artikel demi artikel. Di awal dulu, sudah bisa ditebak donk isi artikelnya apa. Yak betul… isinya sebagian besar adalah C.U.R.H.A.T.

Seiring dengan berkembangnya waktu, isi artikelnya mulai berkembang, bahasa tulisan saya pun berubah. Mulai malu bila isinya hanya sekedar curhatan saja. Artikel demi artikel berisi hikmah kehidupan dan remah-remah ilmu yang sedang saya pelajari mulai menghiasi beranda blog.

Yup, sebuah blog bisa menjadi rekam jejak peningkatan kapasitas menulis dari penulisnya. Bahasa kepenulisan saya di tahun 2013 jelas berbeda dengan tahun-tahun berikutnya. Saat membaca artikel di awal-awal periode blog ini, terbersit rasa geli. “Oh ternyata seperti ini ya cara menulis saya dulu” , “Kok bisa sih hal semacam itu dituliskan di blog ini?” dan rentetan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Dari blog gratisan, berpindah ke blog berbayar. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi memang menjadi sebuah kebutuhan saat itu untuk belajar fokus membranding diri.  Sejak itulah blog ini menjadi bagian dari aktifitas saya sehari-hari. Tak terasa sudah 4 tahun usia personal web saya ini. Sudah waktunya melakukan perubahan yang lebih baik lagi. Apanya ya yang diubah? Hehehe… nanti juga bakalan tahu. Tunggu saja ya… 😀

Ilmu terus berkembang, kita perlu fleksibel mengikuti perkembangannya. Ketika banyak teman yang minta diajari menulis, saran saya hanya “Mulailah menulis dan rutinkan. Banyak membaca untuk meluaskan wawasan. Praktek dan iringi dengan ilmu kepenulisan yang sesuai dengan yang kita butuhkan.”

menulis untuk manusia, libatkan rasa di dalamya
Menulis Untuk Manusia

Yang perlu dikendalikan adalah sifat “tamak ilmu” sehingga mengaburkan fokus tujuan kita saat itu. Contohnya ya saat ini ketika informasi sangat mudah didapatkan. Mulai dari yang gratis hingga berbayar tinggal pilih saja. Sebagian mastah dan mastih rajin sharing ilmu di grup facebook, whatsapp, maupun event-event offline. Tak terhitung pula blog-blog yang bisa kita kunjungi untuk menimba ilmu.

Lho… malah bagus kan bebas belajar? Terus masalahnya ada dimana?

Nah ini, ibarat kita masuk ke sebuah restoran yang menyediakan semua hidangan yang ada di dunia. Kemudian kita diberi kebebasan untuk makan sepuasnya. Sebanyak apapun yang kita pilih, tetap ada batasan kemampuan perut kita menampung dan mencernanya. Mengapa kita tidak pilih yang kita butuhkan dulu, nikmati sajiannya dan berhentilah makan sebelum perut kita sakit karena kekenyangan. Secukupnya, beri kesempatan pada pencernaan kita untuk memprosesnya dengan sempurna, agar nutrisinya bermanfaat maksimal untuk tubuh kita.

Begitupun saat kemudahan akses informasi menawarkan semua ilmu yang ada di dunia ini untuk kita pelajari. Maka ambil yang kita butuhkan secukupnya, lalu praktekkan agar memberi faedah yang optimal untuk hidup kita.

Ok, kembali ke cara menulis artikel yang memberi kenyamanan pada pembacanya. Jurus andalan saya adalah…. Menulis dengan melibatkan rasa dan logika didalamnya. Tulis saja sampai selesai, jangan berpikir tentang SEO dan segala macam kaidah yang berkaitan dengan apa yang disukai oleh mesin pencari paling hits abad ini 😀

Setelah selesai dan nyaman dibaca manusia, baru deh boleh diedit untuk menyisipkan poin-poin / tools sesuai ilmu yang kita pelajari. Bagaimanapun juga, pada akhirnya yang membaca tulisan kita nanti adalah manusia kan?

Regards,

Eva Zahra ^^

1 thought on “Menulis Untuk Manusia, Libatkan Rasa di Dalamnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *