Personal Life

Menunda Respon

Teringat kembali obrolan bersama sahabat-sahabat saya tentang “Menunda Respon”. Ini terkait dengan manajemen emosi. Berapa banyak penyesalan yang muncul akibat respon yang terlalu cepat dan mendahului logika pikiran. Misalnya: Marah, adalah saat respon hati dan mulut mendahului kecepatan pikiran kita 🙂 Itulah mengapa saya sedang belajar untuk menunda respon bila berkaitan dengan hal-hal yang melibatkan emosi.

Saat mendengar komentar orang lain yang tak sedap untuk didengarkan, yang saya lakukan adalah diam sejenak, menahan diri untuk membalas dengan komentar yang tak kalah pedas. Karena bisa jadi orang yang berkomentar itu sendiri tidak sadar pada efek komentar yang dilontarkannya. Cari tahu dulu mengapa dia berkomentar seperti itu. Karena setiap tindakan pasti ada alasannya.

Begitupun saat melihat maupun membaca sesuatu yang #Marmos (marai emosi / bikin emosi ;D) tundalah respon untuk bereaksi. Apa yang terlihat belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Pikirkan baik-baik akan akibat dari tindakan yang didahului oleh emosi yang berlebihan.

Dari seorang teman, saya belajar tentang konsep Tabayyun. Tabayyun secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Secara istilah Tabayyun adalah meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan sebelum jelas benar permasalahannya.

Kecepatan dan kemudahan informasi saat ini seperti pisau dengan sisi yang sangat tajam. Bila kita tak terampil memanfaatkannya, bisa jadi diri kita yang akan terluka karena ketajamannya. Karena itulah tabayyun semakin dibutuhkan.

Menunda respon berbeda dengan telat merespon 😀 Menunda respon artinya menghindari kesalahpahaman akibat respon yang terlalu cepat. Telat respon artinya yaaa gituuu deeeh ;D

Semoga bermanfaat yaa..

Salam hangat,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *