Traveling

Minggu Pahing di Pasar Kebon Watu Gede

Pagi itu, tampak beberapa penjual makanan tradisional, mengenakan kebaya tradisional. Mereka sedang sibuk melayani pembeli yang berkerumun di sekitarnya.

Kepalanya mengenakan “topi” berbentuk kerucut yang terbuat dari bilah bambu (caping). Tangannya memegang mangkuk yang terbuat dari batok kelapa yang dihaluskan. Sendoknya pun terbuat dari batok kelapa.

Tampak juga beberapa laki-laki dengan pakaian tradisional, mondar-mandir ke tiap-tiap meja penjual kuliner. Mereka mengantarkan peralatan makan yang baru saja dicuci. Sebagian lainnya tampak menjaga kebersihan lokasi.

belanja-pasar-kebon-watu-gede
Suasana pagi di Pasar Kebon Watu Gede

Saya ikut serta mengantri di salah satu stan kuliner. Bubur Ayam dengan taburan kerupuk kriuk dan irisan telur pindang mengisi perut saya yang keroncongan pagi itu. Dilanjutkan dengan nikmatnya kolak pisang kuah santan. Dengan rasa manis dari gula kelapa, ditaburi irisan buah pisang kepok dan kolang-kaling (buah atep). Rasa lezat asli pedesaan, tanpa pengawet dan pewarna tambahan.

bubur ayam pasar kebon watu gede
Bubur Ayam nan lezat dan lembut dengan citarasa yang menggugah selera mengisi perut saya yang kelaparan.
kolak pasar kebon watu gede
Kolak pisang kolang kaling enak alami tanpa pengawet

Sambil menyeruput kolak pisang, saya menikmati hamparan lahan persawahan yang menghijau dan teduhnya pohon bambu. Suara angin terdengar sepoi-sepoi, ditimpali citcitcuit suara burung liar dan gemericik air bening yang mengalir di tepi sawah.

Berasa kembali ke jaman kerajaan Majapahit 😀

Halah, kayak saya sudah pernah kembali ke masa lalu jaman kerajaan di pulau jawa ratusan tahun yang lalu saja.

gunung sumbing pasar kebon watu gede
Gunung Sumbing dan hamparan sawah menghijau terhampar di sekitar lokasi pasar kebon.

Ngomong-ngomong, ini ada event apa sih kok ada puluhan pedagang yang memakai pakaian tradisional?

Jadi begini, tanggal 14 Oktober 2018 kemarin, saya dan teman saya mengunjungi Pasar Kebon Watu Gede, Bandongan, Magelang. Katanya sih ada kemiripan dengan Pasar Papringan Temanggung, Jawa Tengah. Sama-sama menggunakan lahan di tengah “hutan” bambu dan sama-sama hanya muncul 2 kali sebulan di hari tertentu. Sudah seperti pasar ghaib saja ya, jarang muncul, sering tak terlihat.

Saya memang lebih suka wisata yang alami, jalan-jalan menikmati panorama dan udara segar seperti di Gunung Tidar atau river tubing di Little Ubud.

 

Pasar Watu Gede, Hanya Buka Hari Minggu Pahing dan Minggu Legi

Pasar Kebon Watu Gede berada di Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. Catet yaa, pasar kebon (kebun) ini hanya diadakan tiap Minggu Pahing dan Minggu Legi. Di luar kedua hari itu, lokasi tersebut hanya berwujud tanah lapang di sela-sela kerimbunan pohon bambu.

lontong opor pasar kebon watu gede
Lontong Opor, Jenang Baning, Moto Kebo, Getuk, Gula Kacang siap menanti untuk dinikmati.

Eh sebentar, jangan-jangan teman-teman ada yang baru kali ini mendengar ada istilah Minggu Pahing.

Begini ceritanya. Sistem kalender Jawa yang ada sejak jaman Kasultanan Mataram, memakai dua siklus hari. Yang pertama adalah siklus mingguan, terdiri dari tujuh hari seperti yang kita kenal saat ini (Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu). Yang kedua adalah siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing).

Kedua siklus tersebut digabung menjadi urutan nama hari pasaran yang berulang setiap 35 hari sekali. Sehingga di sebagian kalender tercantum istilah Minggu Pon, Senin Wage, Selasa Kliwon, Rabu Legi, Kamis Pahing, Jum’at Pon dan seterusnya.

Yak, balik lagi ke Pasar Watu Gede. Motivasi utama saya berkunjung kesana adalah…saya hobby makan dan hobby jalan-jalan di pedesaan yang masih segar udaranya. Nambah referensi tujuan traveling di sekitar Kota Magelang.

minggu pahing pasar kebon watu gede
Aneka jajanan tradisional menunggu untuk dicicipi

Biar seru, sekalian saja saya ajak teman saya untuk berburu kuliner tradisional yang katanya menjadi sajian utama pasar kebon ini. Menurut informasi, pasar ini buka jam 6 pagi hingga jam 12 siang. Ingat ya, cuma diadakan dua kali sebulan, hari Minggu Pahing dan Minggu Legi.

Bagaimana Rute Menuju ke Pasar Watu Gede?

Tenang, Pasar Watu Gede lokasinya sangat mudah dicapai dengan bantuan googlemaps. Kalau masih bingung ya pakailah GPS (Gunakan Penduduk Setempat) alias nanya donk ke penduduk asli di sepanjang perjalanan. Kayak saya, orang Magelang tapi masih suka nyasar dan perlu nanya penduduk setempat, ckckck….

Dari Jogja butuh waktu sekitar 60-90 menit dengan kendaraan pribadi. Kalau naik kendaraan umum ya membutuhkan waktu lebih lama sedikit. Dari pusat Kota Magelang hanya butuh waktu 10-15 menit untuk mencapai lokasi ini. Begitu sampai di terminal kecamatan Bandongan, ambil jalur menuju Desa Windusari. Sekitar 1 kilometer dari Terminal Bandongan, sebelah kiri jalan akan terlihat gapura masuk area Pasar Kebon Watu Gede.

gerbang pasar kebon watu gede
Gerbang menuju area pasar kebon, dari sini pengunjung masih harus berjalan sekitar 800 meter menuju area pasar.

Tiket masuk free, hanya ada biaya parkir kendaraan antara 2000 rupiah untuk motor, dan 5000 rupiah untuk mobil. Kendaraan tidak bisa masuk area pasar, harus diparkir di lahan parkir di luar area. Semakin pagi datangnya, semakin dekat lokasi parkir kendaraan kita.

Untuk menuju ke lokasi, saya masih perlu berjalan sekitar 800 meter menyusuri jalan setapak di tengah sawah. Jalan selebar 2 meter, dibingkai dengan tanaman bunga di tepi jalan.

jalan cinta pasar kebon watu gede
Jalan setapak dengan hiasan warna warni menjadi pemandangan indah sepanjang perjalanan menuju area pasar kebon.
menuju pasar kebon watu gede
Di kejauhan terlihat kerimbunan pohon bambu, kesanalah saya menuju.

Beberapa bagian disediakan tempat untuk swa foto.  Sekitar 50 meter dari gapura masuk pasar, jajaran bambu yang melengkung membingkai jalan berikut lampion sebagai hiasannya. Kalau saja saya senang narsis, sudah habis banyak waktu untuk selfi dan wefie. Tapi kan saya orangnya pemalu.. #uhuk

bambu lengkung pasar kebon watu gede
Jajaran bambu yang melengkung menjadi penghias jalan menuju sentra kuliner dan souvenir.

Beberapa kali saya berpapasan dengan keluarga yang membawa orang tuanya dengan bantuan kursi roda. Kondisi jalan cukup memudahkan bergeraknya kursi roda. Minim tangga, sehingga tidak menghambat gerak alat bantu yang digunakan.

Pasar Kebon Watu Gede, Pasar Yang Ramah Lingkungan.  

Pasar Watu Gede adalah sebuah bentuk pemberdayaan lingkungan dan masyarakat desa setempat. Semua dikelola bersama. Yang bisa jualan ya jualan, yang bisa jaga parkir ya ngurusin parkiran. Ada lagi bagian keamanan, kebersihan, bahkan pendataan pedagang dan mengatur distibusi uang yang beredar.

selamat datang pasar kebon watu gede
Pasar Kebon Watu Gede adalah pasar yang ramah lingkungan, tidak menggunakan pembungkus makanan yang sampahnya sulit diuraikan.

Ada 3 area yang digunakan untuk lahan berjualan. Ada sekitar 60 orang yang tercatat sebagai pedagang, baik kuliner, souvenir maupun tukang cukur. Haaa.. ada tukang cukur juga? Ada dooonk…. Tukang cukurnya memakai pakaian tradisional juga. Jangan kuatir, alat cukurnya tetap modern, bukan dengan pisau atau celurit. 😀

mas tukang cukur pasar kebon watu gede
Hayuuk yang merasa gondrong dan ingin cukur rambut, silakan mampir kemari.

Bayangkan jika setiap pedagang kuliner menyediakan 3-5 menu yang berbeda-beda. Seberapa laparpun perut kita, paling hanya bisa menikmati beberapa menu untuk dicicipi. Jadi mending bawa teman yang banyak saat kesini, biar bisa saling mencicipi kuliner yang dibeli masing-masing. Oiya, mending tidak usah makan pagi sebelum kesini ya, kosongin perut supaya puas menikmati sajiannya.

benggol pasar kebon watu gede
Beginilah bentuk bungkus makanan jika ingin dibawa pulang. Dibayar dengan mata uang khusus berupa keping benggol.

Pasar Watu Gede ini ramah lingkungan, tidak menyediakan plastik dan residu yang sulit diolah. Semua serba alami dan menuju zero waste. Kalau mau berbelanja, disediakan keranjang kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Atau, bawa saja wadah sendiri dari rumah, lebih hemat kan?

Uang Rupiah Tidak Laku di Pasar Kebon Watu Gede

Yang bener? Masasih?

Hehe… Sebelum berbelanja di Pasar Kebon Watu Gede ini, uang rupiah harus ditukar dengan Benggol. Yaitu potongan bilah bambu yang setiap kepingnya bernilai 2000 rupiah. Tempat penukaran uang ada di pintu masuk area A dan area C.

money changer pasar kebon watu gede
Tukarkan uang anda dengan alat pembayaran berupa Benggol yang terbuat dari potongan kayu.

Sebaiknya teman-teman menukarkan uang rupiah ke benggol secukupnya dulu, karena jika bersisa tidak dapat ditukarkan kembali. Tempat penukaran uang sangat mudah dijangkau, jadi tidak usah kuatir jika kurang dan butuh penukaran selanjutnya.

benggol corner pasar kebon watu gede
Seperti inilah bentuk Benggol yang bernilai 2000 rupiah per keping

Sebagai gambaran, dengan 15 Benggol (Rp 30.000,00) perut saya sudah kekenyangan makan 3 jenis menu kuliner ditambah 2 jenis kuliner untuk dibawa pulang. Saya waktu itu makan soto ayam + sate usus dan sate telur puyuh seharga 5 benggol, bubur ayam (4 benggol), kolak (2 benggol), sawut singkong (2 benggol), cenil (2benggol) dan es jeruk (1 benggol dapat ditraktir teman).

Setelah proses penukaran uang Benggol, yuk marii menikmati aneka jajanan tradisional dan kesejukan pemandangan alam di Pasar Kebon Watu Gede ini.

kupat tahu pasar kebon watu gede
Tahu Kupat makanan khas Magelang bisa dinikmati dengan harga yang sangat terjangkau

Oiya selain makanan dan minuman, disini kita juga bisa membeli souvenir lho. Bisa untuk oleh-oleh teman dan keluarga dengan harga yang tidak terlalu tinggi.

souvenir pasar kebon watu gede
Batik, permainan tradisional dan berbagai souvenir tersedia untuk oleh-oleh dari Pasar Kebon.

Tips mengunjungi Pasar Kebon Watu Gede:

  • Datang lebih pagi agar tidak terlalu jauh parkirnya dan belum terlalu padat pengunjung
  • Memakai baju santai dan nyaman untuk berjalan-jalan. Ini bukan catwalk, nggak usah iseng memakai highheels.
  • Bila perlu bawa tas dan wadah untuk membungkus oleh-oleh, karena pedagang tidak menyediakan tas plastik, hanya ada tas dari anyaman bambu yang bisa dibeli di area pasar.
  • Bawa minum secukupnya karena antrian penjual minum sering mengular.
  • Kosongkan perut, karena sajian utama pasar ini adalah…makan-makan. 😀

Pasar Kebon Watu Gede
Lokasi : Desa Jetak, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang
Buka : Tiap Minggu Pahing dan Minggu Legi jam 06.00 – 12.00 WIB
Ig : @Pasarkebonwatugede

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *