Personal Life

Miskomunikasi

miscommunication

Miskomunikasi/Miscommunication atau disingkat dengan istilah MISKOM, seringkali terjadi akibat perbedaan persepsi antara pembicara dan teman bicaranya.

Apalagi bila komunikasi ini dilakukan tanpa bertatap muka secara langsung. Kita hanya menilai berdasarkan persepsi kita, karena kita tidak melihat ekspresi raut muka dan gesture (ekspresi gerakan tubuh) teman bicara kita. Padahal, bisa jadi persepsi kita tidak sesuai dengan kenyataannya.

Perhatikan  pembicaraan fiktif antara 2 orang yang sedang berbicara melalui media telephone dibawah ini:

Adi : Selamat malam, saya Adi, saya ingin berbicara dengan dokter Iwan segera. Ini darurat! (nada suara panik)

Resepsionis : Selamat malam Pak Adi, mohon maaf, dokter iwan sedang memeriksa pasien.

Adi : Apa? Tolong katakan pada dokter Iwan, satu jam lagi dia akan mati! (telephone langsung ditutup)

Mbak-mbak resepsionis pun langsung shock, pucat pasi, bergetar tangannya dan butuh nafas buatan (ups..abaikan info yang terakhir hehe…). Dia berpikir bila ada orang yang mengancam akan membunuh dokter Iwan.

*****

Kejadian yang semestinya adalah, ada seorang pasien yang sedang kritis di sebuah Rumah Sakit. Dokter Iwan sudah memberikan pesan pada keluarga pasien itu untuk sewaktu-waktu menghubunginya bila muncul kondisi darurat. Resepsionis itu menangkap informasi yang datang berdasarkan persepsinya. Ini hanya sebuah contoh fiktif tentang efek miskomunikasi.

Selain komunikasi suara, perkembangan jaringan sosial media, telah menciptakan gaya komunikasi baru. Bukan hanya mengandalkan kata-kata yang dituliskan, namun juga diwarnai dengan emoticon dan sticker seperti yang ada di media LINE, Path, Fb dan Whatsapp. Bahasa gambar seperti ini, membuka penafsiran yang lebih luas lagi. Tentu saja penafsirannya sesuai dengan kondisi hati, pikiran dan kesehatan si pembaca pesan. Sehingga muncul istilah PHP (Pemberi Harapan Palsu), GR (Gede Rasa) dan istilah lain yang mewakili perbedaan hasil mengolah informasi.

Miskomunikasi memang tak bisa dihindarkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena kita tidak bisa mengontrol cara orang lain menerjemahkan kata-kata yang kita ucapkan dan kita tuliskan. Namun, kita bisa mengendalikan kata-kata dan kalimat yang kita gunakan saat berkomunikasi, untuk meminimalkan perbedaan maksud yang diterima oleh teman bicara kita.

Dalam agama Islam, agama yang saya yakini, ada adab dalam berkata-kata dan berkomunikasi dengan orang lain, ada aturan tata cara bergaul yang baik, sehingga kita dapat bersinergi dengan orang lain meski mempunyai kepribadian , sikap dan watak yang berbeda.

Firman Allah :

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al Furqon: 63)

Ucapkan dan tuliskan kata-kata yang baik (Qaulan Salaamah). Setiap kata yang kita ucapkan dan kita tuliskan akan kita pertanggungjawabkan di hari penentuan nanti. Kata-kata yang baik mempunyai beberapa ciri:

Qaulan Kariiman (kata-kata yang mulia)
Berkata dengan kata-kata yang mulia, hindarin menggunakan kata-kata yang hina seperti mengejek dan mengolok-ngolok yang bisa menyakiti perasaan orang lain. Dalam bercanda dan bergurau pun, jaga lisan kita dari kata-kata yang menyakitkan.

Qaulan Ma’rufan (kata-kata yang baik)
Ucapkanlah hal-hal yang baik, jaga dari perkataan yang sia-sia, ucapkan kata-kata yang  mengandung nasehat, menghibur dan menyejukkan hati bagi orang yang mendengarkan.

Qaulan Syadidan ( kata-kata yang lurus dan benar)
Sebagai seorang muslim, berkatalah yang benar, jujur, hindarkan diri dari berbohong dan berdusta. Karena kebohongan yang satu akan berlanjut dengan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Hingga akhirnya hati tak lagi merasa bersalah walaupun terus menerus berbohong dan berdusta.

Qaulan Balighan (kata-kata yang tepat)
Berbicaralah sesuai dengan tingkat pemahaman orang yang kita ajak bicara. Gunakan kata-kata yang tepat, sesuaikan dengan pola pikir mereka. Berbicara sesuai dengan taraf usia, pendidikan, lingkungan hidup orang yang kita ajak bicara. Agar maksud kita mudah dipahami dengan baik.

Qaulan Layyinan (kata-kata yang lemah lembut)
Berkatalah dengan lemah lembut, tidak membentak, tidak meninggikan suara. Sikap keras dan kasar bukanlah hal yang mengundang rasa simpati dari pendengarnya. Berkata tegas pun tidak identik dengan sikap kasar. Tegaslah dalam bersikap, lemah lembutlah dalam berkata-kata.

Saya yakin bila pemilihan kata-kata yang kita gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari mengikuti apa yang tertulis diatas, maka akan kita temui sebuah cara komunikasi yang nyaman dan terjalin silaturahim yang indah.

Sebuah renungan dan reminder untuk diri ini yang masih terus belajar memperbaiki diri. Semoga bermanfaat untuk saya dan anda semua.

Salam hangat,

@EvaZahraa

4 thoughts on “Miskomunikasi

  1. Nasehat yg bagus mba Eva…semoga Allah menolong kita agar kita mampu menjaga lisan…(terus terang….. Menjaga lisan tehh…. Butuh usaha keras…hehehe)

    1. Aamiiiin Bu Deis, lebih sulit lagi menjaga untuk selalu walk the talk. Ini juga untuk mengingatkan diri sendiri agar lebih berhati-hati 😀 Terimakasih responnya

  2. Haluu.. baru bisa mampir. 🙂

    Makasih remindernya Mbak Eva..

    Satu diantara kemampuan Rasuulullaah adalah berkata tepat kepada orang yg tepat di saat yg tepat.. subhaanallaah
    berat sungguh menjaga lisan. Semoga Allaah mudahkan. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *