Lesson in Life, Review

No One’s Perfect

hirotada ototake

Everybody is different, regardless of their disability

Gotai Fumanzoku adalah judul sebuah buku favorit saya, buku edisi internasionalnya diberi judul No One’s Perfect. Buku ini adalah kisah hidup penulisnya, Hirotada Ototake. Dia dilahirkan dengan gangguan lahir  berupa sindrom Tetra Amelia, yaitu ketiadaan lengan dan kaki sejak lahir. Sehingga  dia harus berjuang sejak kecil untuk menghancurkan rintangan kehidupan  dan keterbatasan fisiknya untuk meraih impiannya.

Bagian yang paling saya suka dari kisah hidupnya adalah rangkaian pengalaman masa kecilnya. Bagaimana ibunya, keluarganya, guru-gurunya dan teman-teamnnya ikut memberi support dalam pembentukan kepribadiannya. Bagaimana seseorang yang dilahirkan dengan keterbatasan fisik, justru memberi inspirasi dan membuat orang-orang yang ada di lingkungan hidupnya menjadi lebih berempati dan lebih peka untuk membantu orang lain.

Ototake lahir di Jepang, 6 April 1976, dengan ketiadaan lengan dan kaki. Pada masa itu belum ada alat pendeteksi kondisi janin dalam kandungan seperti saat ini, sehingga kedua orangtua Ototake baru mengetahui kondisi putranya saat sudah dilahirkan.

Sambil menunggu kondisi kesehatan ibu Ototake pulih, ayah dan dokter di rumah sakit tempat Ototake dilahirkan “menyembunyikan” Ototake untuk sementara dengan alasan observasi. Informasi tentang kondisi fisik Ototake baru diberikan 3 minggu kemudian saat Ototake dibawa untuk bertemu ibunya. Reaksi pertama yang muncul dari ibu Ototake tidak seperti dugaan para dokter. Ibu Ototake hanya berkomentar “Dia sangat tampan”. Penerimaan sepenuhnya dari seorang ibu atas kondisi fisik anaknya adalah modal pertama untuk mendukung perjalanan hidup Ototake selanjutnya.

Masa kecil Ototake dilalui dengan penyesuaian-penyesuaian atas keterbatasannya. Termasuk dalam urusan pendidikan. Untuk mengatasi keterbatasan ruang gerak Ototake dalam mengenal benda-benda yang ada di sekitarnya, ayah ototake menggunakan bahasa gambar untuk menjelaskan nama sebuah benda berikut fungsinya. Ibu Ototake rajin membacakan dongeng dan cerita di waktu luangnya. Mereka berdua adalah orangtua yang sangat memperhatikan arti pendidikan bagi anaknya.

Di usia 4 tahun, Ototake bersekolah di Taman Kanak-kanak Seibo dengan menggunakan alat bantu berupa kursi roda. Walaupun TK ini tidak dipersiapkan untuk menghadapi penyandang cacat, tapi prinsip sekolah ini adalah menghormati sifat masing-masing anak. Sehingga tidak ada pertanyaan “Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?”. Karena setiap murid bebas melakukan apa saja yang di inginkan selama tidak melanggar peraturan. Ototake tidak harus melakukan kegiatan yang sama dengan murid lainnya.

Pada awalnya Ototake selalu mengundang kerumunan dan rasa ingin tahu dari siswa-siswa yang lain. Teman-teman barunya berkerumun, memegang badan Ototake dan terus bertanya,”Kenapa, kenapa, kenapa?”. Ototake menjawab, “Aku sakit saat berada di perut ibuku, sehingga tangan dan kakiku tidak tumbuh”.

Ternyata jawaban itu sudah mencukupi dan mereka bisa mulai bermain bersama. Orang dewasalah yang seringkali memberi cap “tidak normal” sementara anak kecil justru menganggap semua hal adalah normal. Kepercayaan diri dan dukungan lingkungan adalah modal kedua untuk pembentukan pribadi Ototake.

Masa untuk mengenyam pendidikan sekolah dasar pun tiba. Tantangan baru dihadapi oleh orangtua Ototake. Pertanyaan yang muncul pertama kali adalah,”Adakah sekolah umum yang mau menerima anak kami?”. Berbagai penolakan diterima oleh kedua orangtua Ototake, dengan alasan tidak tersedianya fasilitas untuk penyandang cacat. Saat itu di Jepang, anak-anak penyandang cacat diarahkan ke sekolah khusus untuk penyandang cacat.

Kedua orangtua Ototake mempunyai prinsip bahwa yang dibutuhkan Ototake bukanlah sekolah untuk penyandang cacat. Anak mereka butuh sekolah umum untuk mempersiapkan dirinya menghadapi dunia luas dengan berbagai tipe manusia, bukan hanya penyandang cacat. Akhirnya setelah hampir menyerah, datanglah sebuah undangan dari sebuah sekolah umum untuk mengikuti tes kesehatan. Ternyata sekolah tersebut belum mengetahui kondisi fisik Ototake. Penolakan kembali diterima.

Tak ada kata menyerah bagi kedua orangtua Ototake. Mereka menghadap ke dewan pendidikan untuk meluruskan persepsi mereka tentang kemampuan Ototake. Berpuluh pertanyaan disampaikan oleh dewan pendidikan dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ibu Ototake meminta Ototake mendemonstrasikan kemampuannya. Menulis dengan pensil yang dipegang ujung lengan dan pipi, makan dengan sendok dan garpu dengan memanfaatkan pinggiran mangkok sebagai tumpuan, dan berjalan menggunakan “kaki” kecilnya sambil menjaga tubuhnya tetap dalam posisi L. Akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil. Dewan pendidikan memberi ijin Ototake untuk bersekolah di sekolah umum.

Di sekolah dasar itu Ototake bertemu dengan Sensei Takagi. Guru yang menerapkan kesetaraan pada siswa-siswanya. Awalnya Ototake tetap menggunakan kursi roda nya selama di sekolah, dan teman-teman Ototake banyak yang menawarkan bantuan pada Ototake. Melihat hal ini, Sensei Takagi membuat peraturan baru. Yaitu Ototake tidak boleh menggunakan kursi roda selama di ruang kelas dan menjalani pelajaran, dia harus berusaha sendiri untuk berjalan dengan kedua kaki pendeknya dan melakukan aktifitasnya tanpa bantuan orang lain. Teman-teman Ototake pun dilarang membantu Ototake.

Apa yang dilakukan Sensei Takagi terlihat kejam dan mengundang protes. Namun Sensei Takagi tetap memegang teguh pendiriannya, “Sekarang kita dapat saja memanjakan Ototake sekehendak hati, tapi suatu saat dia harus menghadapi semuanya sendirian. Tujuan saya adalah mempersiapkan apa yang dia perlukan sekarang untuk bekal dia di masa datang. Meskipun Ototake menganggap saya adalah orang yang kejam, tidak akan menjadi masalah karena suatu saat nanti Ototake akan berkata bahwa dia bersyukur mempunyai guru seperti Sensei Takagi”.

Modal dukungan ketiga yang Ototake miliki untuk kesuksesannya adalah guru yang mengetahui bekal apa yang Ototake butuhkan untuk masa depan dan berani mempertahankan pendiriannya ditengah kecaman orang lain.

Keberadaan Ototake di sekolah umum ternyata menghasilkan atmosfer yang berbeda. Bukan hanya Ototake yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Teman-teman dan guru Ototake juga ikut tumbuh berkembang dengan rasa hormat, setia kawan, empati dan menghargai keistimewaan masing-masing. Bagi teman-teman Ototake, mereka semua sama normalnya. Sama-sama punya kelebihan dan kekurangan. Itulah fungsi saling bantu antar teman. Ini adalah modal keempat yang Ototake miliki.

Seandainya semua orangtua dan guru memiliki pendirian dan sikap seperti yang diberikan pada Ototake, begitupula lingkungan dan teman-teman yang terkondisikan untuk menerima kenormalan orang lain tanpa batasan, alangkah indahnya hidup ini dan betapa hebatnya generasi yang tumbuh berkembang di dunia ini.

Buku ini akan terus menginspirasi saya kapanpun saya baca kembali.

Semoga bermanfaat

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *