Lesson in Life

Omah Bubrah

Hari masih pagi, cuaca cerah, matahari bersinar indah. Suara kicauan burung riuh bersahut-sahutan, sayup-sayup terdengar gemericik air kolam di halaman samping.

Saya membuka pintu yang menuju halaman samping rumah, membayangkan segarnya udara pagi dan indahnya pemandangan hari ini. Dan….. Jreeeeng!!! Pemandangan yang terpampang adalah kondisi omah bubrah (rumah berantakan), debu, potongan kayu, batu bata, pasir, semen dan pasukannya tersebar di halaman samping heuheu….

Sudah 3 minggu sebagian rumah keluarga kami sedang dalam proses renovasi. Berantakan di sana-sini. Geregetan melihatnya, ingin segera beres dan kembali ke kondisi rapi dan bersih lagi. Sekian lama pula saya tidak bisa mencuci dan menjemur baju di halaman, untung tetangga saya punya usaha laundry hihihi… Stock baju amaaan… 😀

Yap… ini adalah sebuah konsekuensi dari aktifitas renovasi bangunan. Ada proses-proses yang harus dilalui. Mulai dari perencanaan, budgeting, mulai tahap pengerjaan yang konsekuensinya adalah terjadi gangguan suara, kebersihan, menyediakan konsumsi tiap hari untuk tukang yang mengerjakakan proyek renovasi dan otomatis aktifitas normal menjadi terhambat. Belum lagi setelah proses renovasi selesai, masih berlanjut dengan tahapan bebersih dan menata ulang. Ckckck…. Masih seminggu lagi. Tetep harus menjalani proses sampai selesai supaya tuntas metamorfosa nya dan tidak terbengkalai.

Saya lalu membayangkan saat tahapan-tahapan itu nanti sudah terlampaui. Saya akan melihat wujud baru yang lebih indah daripada wujud semula. Ruangan menjadi lebih nyaman, lebih menarik, lebih luas dan lebih memberdayakan. Karena saya suka menata ruangan, maka tak terbayang seperti apa nanti keseruan yang akan saya alami. ^.^

Seandainya proses renovasi rumah itu dianalogikan dengan proses perbaikan diri kita….

Saat menjalani prosesnya, akan muncul rasa tidak nyaman.Rasanya semrawut, segala sesuatu seakan menjadi tidak teratur. Kadang muncul rasa malas dan mulai kehilangan fokus. Kemudian muncul bisikan untuk membandingkan dengan kondisi orang lain. Bermunculan banyak godaan untuk berhenti menjalaninya.

Lalu kita mulai galau saat memilih, akan terus menyelesaikan tahapan prosesnya, atau berhenti di tengah jalan dan membatalkan semuanya. Kembali ke keadaan awal yang lebih kita akrabi dan sudah terbiasa kita jalani.

Lalu bagaimana cara menjaga tekad untuk menyelesaikan prosesnya sampai selesai?

Caranya dengan kembalikan fokus pada niat baik kita di awal proses, bayangkan saat semua itu sudah selesai kita lalui. Kebaikan-kebaikan dan keuntungan apa saja yang akan kita nikmati nanti. Sekali waktu lelah, boleh isitirahat sejenak, lalu lanjutkan lagi langkah kita. Hingga paripurna nanti…

Perubahan memang  membuat tidak nyaman, tapi kita perlu terus berubah untuk menjadi lebih baik….

Sssst tahu nggak mengapa Dinosaurus punah? Ya mungkin karena mereka tidak mau berubah hehehe… Iya gitu? Wallahu alam…

Regards

Eva Zahra

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *