Traveling

Omah Kayu di Atas Pohon

18 Desember 2015

Pagi sudah menjelang, matahari masih bersembunyi di balik awan. Saya membuka pintu kamar hotel yang menuju ke arah balkon. Udara pagi yang segar berhembus masuk mengisi ruangan. The Batu Villas and Lounge adalah hotel tempat saya melewatkan malam terakhir di Kota Batu. Hotel kecil yang nyaman dan hommy untuk beristirahat.

the-batu-villas-and-lounge-hotel-kota-batu-malang

Dari balkon kamar yang menuju ke taman di belakang hotel, terpampang panorama indah menyambut pagi ini. Semalam saya dan sahabat saya Dite, membatalkan rencana untuk mengunjungi BNS (Batu Night Spectacular). Sepulang dari Museum Angkut, kondisi badan saya tiba-tiba drop, sepertinya virus flu yang mulai menyerang. Kami melewatkan malam itu dengan menikmati pijat refleksi untuk mengendorkan otot dan mengurangi rasa lelah. Kebetulan dari pihak hotel memang menyediakan layanan pijat refleksi dan spa untuk wanita.

Jam 7 pagi ini, ada teman kami dari Malang yang akan menjemput dan mengantar kami menuju beberapa obyek wisata alam di Kota Batu. Rencananya malam ini jam 8, kami akan bertolak pulang menuju Jogjakarta tempat dimana perjalanan ini berawal dengan kereta Malioboro Ekspress. Jadi hari ini kami akan menikmati wisata Hutan Wisata Gunung Banyak. Di sana ada obyek wisata Omah Kayu dan Bukit Paralayang. Dilanjutkan ke Selecta , kemudian turun ke Kota Malang, wisata kuliner sambil membeli oleh-oleh untuk keluarga dan bertemu dengan beberapa sahabat saya yang tinggal di kota Malang.

Semua barang bawaan saya sudah rapi tertata. Ransel kesayangan, jaket dan tas kecil berisi beberapa hadiah untuk sahabat-sahabat saya di Kota Malang nanti. Tak terasa sudah mau pulang lagi, padahal baru 2 hari yang lalu kami sampai di kota Malang.

Selepas sarapan di The Batu Villas, mobil kami segera meluncur menuju Hutan Wisata Gunung Banyak. Jalanan masih sepi, berkelak-kelok, pemandangan pepohonan pinus ada di kanan dan kiri jalan. Cuaca sejuk walaupun sedikit mendung. Sekitar 30 menit kemudian mobil berbelok menuju arah jalan yang sempit dan masih belum diaspal. Melewati deretan rumah penduduk dan  lahan-lahan kosong, hingga di sebuah persimpangan terlihat sebuah plang.

plang-omah-kayu-paralayang-gunung-banyak-evazahra.com
Untuk memasuki wilayah hutan wisata Gunung Banyak, ada biaya tiket retribusi sebesar 5000 rupiah per orang. Kami memilih arah menuju Bukit Paralayang. Sebuah tempat yang digunakan untuk merasakan sensasi olahraga paralayang. Terletak di ketinggian bukit, dengan pemandangan yang indah. Sayang saat itu cuaca mendung, sehingga tak begitu jauh jangkauan mata memandang. Tempat parkir terletak tak jauh dari sana, hanya berjarak 50 meter dari landasan paralayang.

bukit-paralayang-evazahra.com

bukit-paralayang

landasan-paralayang
Jika cukup punya nyali untuk mencoba paralayang, kita bisa terbang tandem bersama instruktur berpengalaman, siapkan saja biaya sekitar 350ribu rupiah. Saya tidak mencobanya. Meskipun punya mimpi menjadi Travel Blogger Indonesia yang terkenal, nyali saya belum cukup besar untuk mencoba olahraga ekstrim ini 😀 Saya menikmati pemandangan dari atas bukit ini saja, sambil mengabadikan pemandangan yang ada. Semakin siang makin banyak anak-anak muda yang berdatangan untuk berwisata disini. Memang sangat menarik pemandangannya.

paralayangsumber foto dari sini

Kami kembali ke lokasi parkir dan menuju obyek berikutnya yaitu Omah Kayu. Saya belum punya gambaran di pikiran, seperti apa sih wujud Omah Kayu itu. Hanya butuh waktu 10 menit menuju lokasi Omah Kayu. Dari kejauhan terlihat papan penunjuk lokasi Omah Kayu.

Omah-Kayu-Kota-Batu-evazahra.com

Kami menelusuri jalan setapak menuju pintu masuk menuju lokasi Omah-omah Kayu yang ada di lahan hutan wisata ini.  Omah kayu adalah rumah kayu yang dibangun di atas pohon pada ketinggian kira-kira 10 meter dari tanah. Menurut informasi ada 6 buah rumah dan beberapa gardu pandang yang terdapat di dalam hutan sana.

jalan-menuju-Omah-Kayu-evazahra.com

Tak berapa lama sampailah kami ke depan pintu utama menuju lokasi wisata Omah Kayu.

Pintu-masuk-omah-kayu-evazahra.com

Sudah pukul 09.00 WIB. Tapi belum juga pintu ini dibuka.

“Mas, jam berapa bukanya?” Tanya saya.

“Sebentar mbak, sedang persiapan. Ada tamu yang menginap di salah satu Omah Kayu. Biar diberi peringatan dulu untuk menutup pintu” jawab petugas jaga nya.

Ternyata selain menjadi obyek kunjungan wisata, rumah-rumah kayu ini juga disewakan untuk menginap. Harga sekitar 300 ribu – 450 ribu rupiah per malam. Satu rumah cukup untuk 2 – 3 orang. Sudah dilengkapi kasur lantai, bantal dan selimut. Kamar mandi ada di bagian terpisah, dibangun di atas tanah, bukan diatas pohon.

Akhirnya dibuka juga gerbangnya, ada biaya retribusi sebesar 5000 rupiah per orang untuk memasuki obyek wisata ini. Kami kembali berjalan menyusuri jalan tanah yang dibuat berundak-undak, sedikit licin dan perlu hati-hati melangkah.

Jpeg

menuju-omah-kayu

Taraaaa… sampailah kami di lokasi dimana ada 6 buah rumah kayu yang dibangun diatas ketinggiaan pohon. Berasa syuting film Tarzan 😀 Bagi anda yang takut ketinggian, lebih baik tidak mencoba naik ke rumah pohon ini. Karena untuk sampai ke rumah pohon, kita harus meniti titian kecil yang terbuat dari 2 bilah kayu sejauh 2 sampai 3 meter, selebar total kira-kira 50 cm dan terletak lebih dari 5 meter diatas tanah.

omah-kayu

omah-kayu-evazahra.com

Dari serambi rumah pohon, kita bisa melihat keindahan hutan dan kota dari ketinggian walaupun saat itu cuaca mendung. Tak terbayang suasana di malam hari, sunyi, terdengar suara jangkrik dan satwa malam, memandang kelap kelip lampu kota dari kejauhan. Belum lagi bila langit sedang cerah, bulan dan bintang pasti terlihat lebih indah.

view-omah-kayu

view-omah-kayu-evazahra.com

Selain 6 buah rumah kayu tersebut, ada beberapa gardu pandang yang dibangun diatas pohon untuk digunakan sebagai tempat beristirahat dan berfoto ria. Untuk mencapainya ada tangga kayu yang cukup curam naiknya. Menguji nyali sekaligus memancing rasa ingin tahu.

gardu-selfie-omah-kayu-evazahra.com

gardu-selfie-omah-kayu-evazahra.com

Pagi itu suasana masih sepi. Belum begitu banyak wisatawan yang datang. Sehingga saya bisa lebih menikmati ketenangan dan menyempatkan waktu untuk duduk santai memandang indahnya panorama dari gardu pandang itu.

gardu-selfie-omah-kayu-evazahra.com

Tanpa sadar sudah cukup lama saya berada disini. Sudah mulai banyak wisatawan yang berkumpul antri untuk berfoto selfie disana. Suasana tak hening lagi hehe… Sip, sudah waktunya move on ke obyek wisata berikutnya. Saya dan teman-teman saya turun dari ketinggian gardu pandang dan melanjutkan perjalanan kami menuju Selecta dan wisata kuliner ke Kota Malang. Tinggal beberapa jam lagi saya akan meninggalkan Kota Batu dan Malang.

Tunggu ya lanjutan ceritanya… 😀

Regards,

@EvaZahraa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *