Notes

(Orang) Jogja Istimewa

jogja istimewa gambar dari www.jogja.co

β€œThe most important reason for going from one place to another is to see what’s in between, and they took great pleasure in doing just that”

~ Norton Juster

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah pengalaman menarik dalam perjalanan di kota Jogjakarta. Peristiwa ini membuat saya makin sadar bahwa bila kita akan menemukan banyak keindahan dalam diri orang asing yang kita temui di mana pun kita berada. Mungkin kejadian yang saya alami ini bagi orang lain adalah sebuah hal yang biasa, tapi saya mendapatkan banyak hikmah di dalamnya.

Saat itu sore hari, selepas ashar, cuaca redup karena mendung yang menaungi kota Jogja, gerimis tipis pun sudah mulai membasahi bumi. Saya sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat di Jogjakarta. Saya memilih untuk menggunakan alat transportasi bis TransJogja. Bis ini semacam busway di Jakarta, tentu saja dalam ukuran yang lebih kecil. TransJogja hanya berhenti di halte-halte tertentu.

Untuk menaiki bis TransJogja, saya harus menuju halte terdekat untuk membeli tiket dan menunggu bis yang akan mengantar saya menuju tempat tujuan. Sore itu saya tidak mempunyai persediaan uang ribuan untuk membeli tiket seharga Rp. 4000,- . Biasanya petugas tiket TransJogja menyediakan uang kembalian, jadi saya santai saja saat membeli tiket itu.

Me: Mbak, tolong 1 tiket TransJogja ke Condongcatur ya (sodorin uang 50 ribuan)

Petugas tiket: Maaf mbak, uang pas saja, tidak ada persediaan uang kembalian.

Me: Huwaduh, lalu bagaimana nasib saya mbak? *lebay

Petugas : Tenang, nasib mbak akan baik-baik saja. Kan masih ada toko di seberang itu untuk menukar uang.*nyengir jahil*

Me: Hmmm… Nggak ada toko yang lebih jauh lagi ya? πŸ˜€

Nasiiib…nasiiib… sudah sore, hujan pula. Sambil sedikit bersungut-sungut, saya segera menyeberang untuk menukarkan uang. Cukup jauh letak toko itu. Lumayan juga gerak jalan sambil ditemani rinai hujan gerimis. “Semangat, Eva…kamu pasti bisa”, kata saya menghibur diri dengan sedikit lebay hehe…

Setelah menukarkan uang, akhirnya saya berhasil juga membeli tiket yang saya butuhkan. Tak berapa lama datanglah bis TransJogja yang saya tunggu. Naiklah saya beserta beberapa penumpang lain yang sudah beberapa saat menunggu di halte. Hanya ada beberapa penumpang di dalam bis itu. Sebagian terlihat sibuk dengan gadgetnya sebagian lagi terlihat sedang tidur-tidur ayam (ini istilah yang sampai sekarangpun saya tak paham asal muasalnya).

Tanpa saya sadari, ternyata ada seorang ibu-ibu setengah baya yang mengamati saya. Beliau duduk di samping kanan saya. Sepertinya ibu itu yang antri tiket di belakang saya saat di halte tadi. Tiba-tiba beliau membuka pembicaraan.

Ibu-ibu Baik (Iib) : Mbak, maafin ibu ya.

Me : *bengong* Memang ibu salah apa? Kenapa minta maaf?

Iib : Maaf tadi ibu tidak bisa membantu mbak waktu membeli tiket.

Me : Nggak apa-apa lagi bu, memang saya yang lupa tidak membawa uang pas.

Iib : Seandainya ibu membawa uang tambahan, pasti ibu bisa belikan tiket buat mbak.

Me : *speechless* Makasih ya bu, mungkin belum rezeki saya.

Dalam hati saya berkata,”Wow, ternyata masih ada orang yang meminta maaf karena merasa bersalah saat tidak bisa membantu orang lain walaupun dia tidak mengenalnya”.

Pembicaraan akhirnya berlanjut dengan obrolan tentang hal-hal umum. Kembali saya menarik orang asing untuk curcol bin curhat tentang apa saja hehehe… Sudah biasa mah, kemanapun saya pergi, akan ada orang yang datang dan mengajak ngobrol kesana kemari. Mungkin wajah saya terlalu mengundang curhat πŸ˜€

Sekitar limabelas menit kemudian kami harus berpisah karena saya harus transit ke sebuah halte untuk pindah bis lain yang akan membawa saya ke arah tujuan saya. Setelah mengucapkan terimakasih, saya pun berpamitan dengan ibu itu.

Dalam setiap perjalanan, sebenarnya banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran. Begitu banyak peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Hanya mungkin kita tidak menangkap pesan yang Allah sampaikan. Mungkin karena kita kurang peka, atau perhatian kita teralihkan.

Banyak keindahan yang bisa kita temukan dalam pribadi orang-orang yang kita temui. Untuk menemukan keindahan itu, syaratnya hanya satu: Mindfulness.Β  Berikan perhatian penuh. Simpan dulu gadget dan semua barang elektronik yang bisa memecah perhatian kita. Dan nikmatilah perjalanan dengan sepenuh perhatian.

Betapa sering saat kita dalam perjalanan, kita malah sibuk berkomunikasi online dengan orang yang jauh tak tampak mata. Sementara orang-orang yang ada di samping kita, yang ada di sekitar kita, luput dari perhatian kita. Saya pun salah satu pelakunya πŸ™‚ Peristiwa itu membuat saya ingin lebih menikmati setiap perjalanan yang saya tempuh.

Semoga anda pun menikmati setiap perjalanan anda. ^^

@EvaZahraa

4 thoughts on “(Orang) Jogja Istimewa

    1. Iya mbak ria, bisa lupa waktu kalau udah ngobrol sama saya πŸ˜€ Saya nya yang sekarang berusaha ngerem biar nggak nyeplos kasi pertanyaan pancingan hihihi…

  1. mindfulness,hadir penuh utuh karya Om Adjie Silarus hehe buku bagus. Tapi ga perlu baca juga sih kalo dah sering latihan untuk khusyu’ dalam shalat.
    Pelru dibaca sebaai jangkar untuk memperdalam rasa. nah lho jadi promo buku hehhe.

    1. Justru istilah mindfulness aku kenal dari buku Mas Adjie pas ikut kelasnya di Jogja πŸ˜€ udah bbrp tahun ni melengkapi bacaan dgn buku2 seperti ini..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *